Part 25

1759 Kata
LEA tak bisa mengerti apa yang terjadi pada diri Raja beberapa hari terakhir ini. Suaminya itu terkadang bersikap normal, terkadang berubah jadi pria pemarah, tapi sesekali juga bisa berubah menjadi suami yang manis luar biasa. Membuat Lea bingung dan tak habis pikir. Ia jadi ragu untuk sekedar menegur, karena takut dengan emosinya yang meledak – ledak. Tapi Raja juga akan merajuk jika terlalu lama ia abaikan. Pusing! Padahal yang PMS kan dirinya, kenapa Raja yang jadi sensitif? Seperti malam ini. Setelah makan malam, Lea menggotong buku – buku dan laptopnya menuju ruang keluarga di lantai dua. Raja saat itu sedang main game di kamar mereka, dan tau sendiri jika pria itu sudah berkutat dengan dunia palsu itu, dia akan jadi heboh sendiri. Tak peduli dengan keadaan disekitarnya. Sementara Mommy dan Daddy sedang menghadiri jamuan makan malam salah satu rekan bisnis Mahendra Group. Lea butuh konsentrasi tinggi untuk belajar. Minggu depan ia akan menghadapi UAS semester enamnya, dan setelah itu ia akan menjalani magang di salah satu perusahaan yang disetujui oleh pihak kampus. Bising di kamar mereka yang ditimbulkan oleh suara game Raja jelas tak akan bisa membuatnya fokus sama sekali. Hampir setengah jam kemudian, saat ia sedang berada dipuncak stress nya karena kewalahan menyelesaikan makalah bisnis internasionalnya, Raja muncul dari kamar dan mengambil tempat duduk disampingnya. Pria itu langsung menyambar diktat tebal milik Lea dan membukanya dengan malas – malasan. Sementara Lea hanya menatapnya sekilas kemudian kembali berkutat dengan laptopnya. "Butuh bantuan?" tanya Raja datar. Pria itu sudah melemparkan buku yang tadi dibacanya kembali kearah tumpukan buku diatas meja. Lea menghentikan ketikannya pada laptop dan memandang Raja dengan dahi berkerut bingung. Angin apa lagi yang menerpa suaminya malam ini sehingga moodnya tiba – tiba jadi baik seperti ini? Menang main game kali ya... "Kak Raja mau bantu Lea?" tanyanya ragu – ragu. Raja mengangguk sambil tersenyum lebar. "Ya, kamu tau kan, suamimu ini bachelor of business. Jadi yang beginian hal kecil buatku..." katanya menyombongkan diri. Mata Lea langsung berbinar senang. Ia lupa, selama ini ia sudah terlampau frustasi dengan semua masalah angka – angka ini tanpa menyadari penyelesaian dari masalah ini berada begitu dekat, bahkan tidur sstu ranjang dengan dirinya. Tawaran dari Raja benar – benar seperti oase yang menyegarkan baginya. Selama ini, Diandra-lah tempatnya mengadu dan berkeluh kesah jika itu menyangkut tentang kuliah. Gadis itu langsung mengangguk penuh semangat dan menggeser laptopnya ke ujung sofa. Ia buru – buru mengambil salah satu buku paket bersampul biru dan mengulurkannya pada Raja. "Pengantar akuntansi II? Are you kidding me?" tanyanya heran. "No! Lea harus mengulang mata kuliah itu karena nilai semester kemarin nggak cukup standar. Heran deh, padahal selama ini Lea udah belajar rajin..." Raja ternganga tak percaya mendengar penuturan Lea. Selama ini ia tahu gadis kecil ini memang bodoh, tapi ia tak pernah menyangka sampai sebodoh ini. Mengulang mata kuliah pengantar akuntansi? What the.... "What is wrong with you?" katanya lirih. Lea hanya menatapnya masih dengan binar keceriaan, tak menyadari bahwa suasana hati suaminya itu sudah campur aduk. Antara marah, kesal, gemas, dan tak percaya. "What is wrong with me? What do you mean?" Raja menggeleng keras. Berusaha mengenyahkan rasa kesal yang mulai membuncah di dadanya. "Yang mana yang belum kamu pahami?" Mendengar pertanyaan itu, Lea langsung beringsut duduk lebih mendekat kearah Raja. Gadis itu menyambar buku tulis dengan motif kartun Disney dan pulpen ekor ikan dari ujung meja dan menyerahkannya pada Raja. Membuat pria itu bergidik ngeri seketika melihat dua benda yang didominasi warna pink itu. "Ini..." Lea menunjuk dua soal tentang hutang dagang dan inventory di bukunya. Sedetik kemudian, Raja sibuk mencorat – coret buku Lea tanpa sepatah katapun terlontar dari bibirnya. Sesekali keningnya berkerut dalam seakan ragu dengan jawabannya sendiri. Tapi sesaat kemudian ia kembali tampak yakin mengerjakan dua soal itu sampai benar – benar selesai. "Done!" kata Raja seraya kembali menyerahkan buku dan pulpen ekor ikan menjijikkan itu pada Lea. Gadis itu hanya tampak melongo melihat deretan tulisan dan angka hasil coretan Raja diatas bukunya. "Ini... apaan?" tanyanya bingung. "Tentu saja jawaban dari pertanyaan itu, bodoh!" kata Raja gemas. Bagaimana tidak, tadi dia sendiri yang memintanya mengerjakan soal – soal itu, tapi sekarang ia malah kembali bertanya hal nonsense seperti itu. "No, I mean, I can't understand this..." kata Lea pelan. Mata coklatnya menatap Raja penuh harap. "Explain, please..." Raja ternganga tak percaya mendengar permintaan Lea. "Begini aja kamu nggak ngerti? Kamu tahu konsep dasar hutang dagang dan inventory kan?" Lea mengangguk. Ragu – ragu. Raja menghela napas panjang. Ia menghadap Lea disampingnya yang saat ini menggigit bibir dengan khawatir. "To be honest with you, materi ini bukan lagi kelasku, Aleah. It just too easy! I even sure that senior high school student could finish this question properly than you do..." kata Raja jengah. "Sebenarnya kamu itu anak kandung keluarga Adiwangsa atau bukan sih? Papa dubes, Mamamu pengusaha, kakak – kakakmu semuanya jadi orang sukses, kok cuma kamu doang yang bego'? Kamu nggak ada mewarisi sedikitpun gitu, gen pintar dari keluargamu?" Lea hanya diam saja mendengar ucapan Raja. Meskipun diucapkan oleh pria itu dengan nada biasa saja, tapi efeknya bagi Lea benar – benar luar biasa. Luar biasa menyakitkan! Memang ini bukan kali pertama Raja mengatainya bodoh, tapi baru kali ini Raja membandingkannya dengan anggota keluarganya yang lain. Lea meremas ujung gaun rumahnya dengan keras. Sebuah desakan mencoba lolos dari kedua bola matanya yang indah. Ia sedih, orang yang selama ini ia anggap akan mengerti keadaannya, malah mengata – ngatainya seperti orang lain diluar sana. Padahal Raja tahu dengan persis bagaimana hubungan Lea dengan keluarga besarnya. "Selama ini aku nggak pernah percaya di dunia ini ada orang bodoh Aleah, tapi setelah bertemu kamu aku baru percaya istilah itu bukan omong kosong..." Raja terkekeh. Lea menghempaskan pulpen ekor ikannya dengan kasar keatas meja, kemudian memandang Raja dengan pandangan membunuh. "Kak Raja itu anak kandungnya keluarga Mahendra apa bukan sih? Mommy dan Daddy baik, almarhum Kak Elang juga penyayang banget. Nggak pernah ngata – ngatain Lea ini itu. Tapi kakak kok kurang ajar?" Lea bertanya dengan nada tak kalah santai dari nada Raja tadi. Raut berbinar gadis itu sudah sirna sejak Raja mengata – ngatainya tadi. Aura Raja perlahan menggelap. Rahang pria itu mengeras dan matanya menatap Lea seakan ingin menelan gadis itu hidup – hidup. Lea sedikit ciut, tapi ia tetap meneguhkan hatinya memandang wajah pria disampingnya itu tak kalah garang. "Apa kamu bilang?" Raja menggeram rendah. Kentara sekali pria itu mencoba menahan marahnya agar tak lepas kendali. Lea memutuskan pandangan dengan Raja. Ia bergegas mengemasi laptop dan buku – bukunya dan beranjak meninggalkan pria itu menuju kamar mereka. Tak ada gunanya ia melayani emosi pria labil itu untuk saat ini. Itu hanya akan membuat hubungan mereka yang akhir – akhir ini membingungkan jadi semakin memburuk. Lea salah, ia pikir sejak kejadian malam itu ketika Raja mengatakan akan melindunginya dan memintanya agar tidak bersedih, hidupnya hanya kan diisi dengan saja ketentraman setelah ini. Ia sudah mulai mempercayai pria itu dan bertekad untuk bersandar padanya, tapi ternyata perkataan Raja malam itu tak lebih dari sekedar ucapan kosong belaka. Bagaimana pria itu akan melindunginya sedangkan ia sendiri yang seringkali membuat Lea terluka? Untuk kali ini saja Lea berpikir Papa benar, ia tak seharusnya mengandalkan orang lain untuk melindunginya. Hanya kita sendirilah yang bisa melindungi diri kita... Tapi Lea juga butuh seseorang untuk menemaninya berjuang, berjalan menatap masa depan. Dan begitu ijab kabul mempersatukan dirinya dan Raja, ia sudah memutuskan orang itu adalah Raja, suaminya.Tapi sepertinya ia harus menunggu lebih lama untuk itu semua menjadi kenyataan. Tak bisa dipungkiri, ia kecewa... *** Raja menatap punggung kecil istrinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Perasaan bersalah menghinggapi dirinya, terlebih tadi, saat ia melihat mata gadis itu menyiratkan kekecewaan yang begitu besar padanya. Entah kenapa kebungkaman Lea membuat sesuatu dalam dirinya seperti terenggut. Ia merutuki dirinya sendiri, kemudian menyandarkan kepalanya di sofa sambil menghela napas kasar. Kepalanya mendadak pening mengingat ucapannya tadi. Aleah, istrinya itu pasti terluka... You jerk, Rajata! Lo sendiri yang memintanya untuk nggak bersedih, tapi lo sendiri yang membuat dia tersakiti... Lo yang minta dia buat bersandar pada lo, tapi lo sendiri yang mendorong dia menjauh dengan kata – kata lo! Aarrrgghh... Dia harus bagaimana sekarang? Minta maaf? Dia ingin, tapi that such thing is not his spec! Jadi dia butuh beberapa waktu untuk merangkai kata – kata. Ia tak ingin proses minta maafnya nanti berubah menjadi ajang perang karena ia salah memilih kalimat ataupun karena ia tak mampu menahan kekesalan melihat tingkah polos istrinya itu. Ya, Aleah pasti akan memaafkannya, sudah jelas. Tapi ia tak bisa menjamin dirinya tidak mengacau nantinya. Ia dan emosinya yang beberapa hari ini semakin keterlaluan itu. Raja mengacak rambutnya frustasi. Ia tahu, masalah ini harus ia selesaikan malam ini juga jika ia ingin tidur dengan tenang. Dan definisi tidur dengan tenang bagi Raja juga sudah berubah sejak kejadian malam itu, malam dimana ia tidur dengan Lea dalam dekapannya. Sejak malam itu dan malam seterusnya, tidurnya lebih nyenyak dengan Lea dalam pelukannya. Tangan mungilnya yang memeluk Raja erat, dengkur halusnya yang teratur, dan wangi tubuhnya yang lembut bercampur membentuk harmoni sempurna yang sukses membuat Raja benar – benar merasa bahwa ia sudah memiliki satu dunia. Ia bangun dari duduknya dan bersiap menuju kamar. Ia tak ingin Lea semakin berpikir macam – macam. Tapi langkahnya terhenti begitu melihat Lea yang keluar dari kamar dengan pakaian rapi seperti hendak pergi kesuatu tempat. Mau kemana dia malam – malam begini? "Kamu mau kemana?" Lea yang baru saja menutup pintu kamar langsung menatap Raja dan tersenyum lebar. Senyum yang sialnya nampak aneh di mata Raja. "Lea mau izin kerumah Eyang sebentar, boleh nggak kak?" tanya Lea. Gadis itu mendekat kearah Raja dan memegang lengan kokoh Raja dengan manja. Raja mengerutkan kening. Berusaha membaca raut wajah Lea yang tampak aneh dan ceria dalam waktu bersamaan. Apa dia baik – baik saja? Tapi tadi dia tampaknya kecewa sekali... "Kenapa harus malam – malam begini? Kenapa nggak besok saja?" Lea mengerucutkan bibir. "Lea harus ambil buku kak. Minggu depan Lea udah mulai UAS, dan Lea butuh buku itu untuk belajar..." Raja mendengus. Bukannya ia tak mengizinkan Lea kerumah Eyang, tapi demi Tuhan, ini sudah hampir pukul sepuluh malam. Sebentar lagi Mommy dan Daddy pulang, dan ia yakin Eyang di rumahnya juga sudah tidur. Apa gadis ini sedang marah, lalu berniat untuk kabur kerumah Eyang? Tapi dia tampak biasa – biasa saja. Tapi... senyumnya yang terlalu lebar itu juga tampak aneh... Raja pusing sendiri dengan pikirannya. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya untuk menebus rasa bersalahnya, ia pun mengizinkan Lea kerumah Eyang. "Kamu boleh kesana, tapi kalau aku yang mengantar..." katanya final.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN