Naya tertidur di sofa apartemen Davin. Ia lelah setelah cukup lama menangis. Davin sendiri memilih membiarkan Naya. Ia sedang sibuk mengembangkan bukti yang ada. "Oke Pak, terima kasih atas infonya" ucapnya setelah menelpon pihak kepolisian. Setidaknya ia telah melaporkan bukti itu dan kembali meminta pihak polisi mengusut kejadian tiga tahun yang lalu. "Aku harap firasatmu benar Nay, dan kita bisa menangkap bajing*an itu segera" gumamnya sendiri. Naya terlihat meringkuk dalam tidurnya. Cepat-cepat Davin berjalan mematikan AC ruangan. Dan menyelimuti Naya. Sedikit membenarkan helaian rambut gadis itu, untuk lebih memandang wajah damainya. Davin memilih mundur selangkah, mengamati wanita yang perlahan masuk ke relung hatinya. Matanya memindai setiap inci tubuh Naya. Ia mendelik kag

