Davin sampai di tempat yang disebutkan Naya. Dari kejauhan pria itu menatap Naya yang terlihat menggoyangkan kakinya cemas. Sesekali matanya terlihat mencari keberadaan Davin. Davin mengulas senyumnya, berjalan mendekati Naya. “Naya...” sapanya dari arah belakang begitu pelan. Kontan Naya yang diliputi rasa cemas jadi kaget bukan kepalang. “Ahhhkk....” kaget Naya, Ia bahkan mengelus dadanya cepat. “Kamu kenapa...?” selidik Davin, ia bukannya mau mengagetkan Naya, tapi tadi itu memang lebih mudah lewat arah belakang. Naya diam, ia sendiri tidak mengerti. Kenapa seperkian detik tadi ia mengharapkan Nic lah yang datang. ‘Nay... udah gak usah mengharapkan Pak Nic!’ tekannya mengatensi hatinya sendiri “Oiyah... Dav, Ini...!” Naya memberikan bekas kaleng polisi tersebut ke tangan Davin.

