‘Loh.. itukan Naya, Naya lagi sama siapa?’ bathin Sharon mengamati. “Eh.. itu Mamih aku. Dav... aku kesana dulu,yah” ucap Naya meminta ijin. Davin hanya mengangguk mempersilahkan Naya pergi. "Aku ingin memperjuangkanmu, Nay. Aku rasa aku pantas untukmu” lirihnya yang masih menatap Naya dari arah belakang. --- “Nay, tadi itu Pak Dokter teman SMA kamu?” selidik Sharon. Bagaimanapun ia ingin Naya hanya dekat dengan anaknya, Nic. “Iyah, Mih. Aku kebetulan ketemu Davin di kafetaria pas aku mau beli kopi” cerita Naya “Oooh kamu cuma gak sengaja ketemu?" kutip Sharon "Eh... kayaknya Ibu kamu sudah selesai therapynya, mending kita ke sana yuk. Soalnya kalau Papih pemeriksaannya masih banyak banget” ajak Sharon. Naya mengangguk. Sebenarnya juga ingin cepat tahu kabar ibunya itu. Segera mer

