Dingin.
Hawa dingin seperti menyusup ke dalam hati.
Aku berjalan cepat setengah berlari tanpa tahu harus ke mana.
Ya Allah, aku takut!
Bagaimana kondisi Murayya saat ini? Aku tidak berani untuk memastikannya. Aku hanya ingin segera menemukan seseorang. Seseorang yang dapat membawa Mura ke rumah sakit secepatnya.
Aku menghentikan langkah!
Sebab, di depan sana seseorang berdiri dalam kegelapan. Kabut malam seperti melingkupi tubuhnya. Dia berdiri menyamping, sedang mengamati benda yang ada di tangannya. Benda yang mengilap—pisau tajam.
Aku seperti mengenal postur tubuh itu.
Pak Aswin!
Ya, itu memang dia.
Kini Pak Aswin sudah memutar tubuhnya, dia menatapku. Menatap dengan sorot yang aneh. Aneh sekali. Tatapan yang membuat bulu kudukku merinding, badan meremang dingin. Menyeramkan.
Tanpa pikir panjang, segera aku pun berbalik, berlari sekencangnya. Pak Aswin mengejar sembari berteriak-teriak memintaku berhenti dan menyerahkan Mura. Tentu saja aku tidak mengindahkan teriakannya.
Bruk!
Aku jatuh tersungkur, kakiku tersangkut sulur.
Mura terlepas dari gendonganku, tersungkur ke dekat semak belukar. Di saat aku baru mencoba bangkit, Pak Aswin sudah keburu datang. Pak Aswin berdiri di dekat Mura dengan pisau teracung di genggaman tangannya.
“Pak jangan Pak! Eling!” teriakku, panik.
Bluk!
Seseorang tiba-tiba memukul tengkukku dari belakang.
Gelap.
Aku tidak ingat apa-apa lagi.