Keajaiban

850 Kata
Sakit! Tengkukku sakit dan kaku. Aku membuka mata perlahan, silau. Sejenak, aku tidak dapat mengingat apa pun. Kemudian, satu demi satu rentetan kejadian berputar. Jantungku seperti tersengat lebah, seakan pula hendak melompat keluar. Perutku mendadak mual. Ternyata aku sudah terbaring di tempat tidur. Di mana Mura? “Kamu sudah sadar?” tanya sebuah suara. Jantungku berhenti berdetak. Suara Pak Aswin! Memang Pak Aswin. Dia berdiri di sisi jendela kaca, cahaya sang surya menyinarinya. Selintas, dia tampak seperti sesosok malaikat saja. Sapaannya yang ramah, sorot matanya yang teduh penuh kasih sayang, serta senyumannya yang penuh rasa humor. Munafik! Mungkin dia pikir aku tidak mendengar kebusukannya pada malam itu. “Ali a—” Sebelum Pak Aswin berhasil menyelesaikan kalimatnya, aku lebih dulu membungkamnya dengan tinjuan keras. Siapa tahu, sekali hantam di bawah telinga, Pak Aswin langsung terjungkal dan kelengar—tidak sadarkan diri. Agaknya, dia tidak menyangka akan seranganku. Aku memperhatikan tempat sekitar, ini kamarku dan Mura. Aku berada di rumah Pak Aswin. Lalu, di mana Mura? Mungkinkah Mura sudah ... aku tidak berani memikirkannya. Kubuka pintu perlahan, di luar sepi. Aku belum hafal seluk-beluk rumah ini. Ke mana harus mencari Mura? Apakah Mura ada di rumah ini? Bagaimana kalau ternyata Mura berada di tempat lain. Bagaimana kalau Mura disekap? Bagaimana kalau Mura sudah di .... Dalam keadaan serba bingung begitu, tiba-tiba kudapati suatu kejadian yang boleh dibilangdibilang ajaib. Sangat ajaib. Selain kata ajaib, aku tidak memiliki kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan betapa unik dan aneh kejadian ini. Hal ajaib itu tidak lain adalah Mura, benar-benar Mura. Dengan wajah sepucat kapas, Mura berdiri di sana, dia menatapku seperti tidak percaya. Aku pun sama, menatap Mura dengan tidak percaya. Bahkan, aku sampai mengedip beberapa kali untuk memastikan bahwa aku tidak sedang berhalusinasi. Aku sangat takut kalau ini hanya ilusi semata. Aku dan Mura sama-sama menghampiri, hingga kami bertemu di satu titik dan saling berpelukan. Air mataku menetes. Aku tak kuasa menahan haru juga rasa gembira yang luar biasa. Mura masih hidup. Aku masih bisa memeluk dan mendengar degup jantungnya. Benar-benar suatu keajaiban. Ini betul-betul kenyataan. Bukan halusinasi ataupun ilusi. Sejenak, aku melupakan segala hal di dunia ini. Sebab, dunia itu kini ada dalam rengkuhanku, ada dalam pelukanku. Sampai lama, aku dan Mura saling berdekapan. Kami lupa bahwa kami masih berada di kandang harimau. Setelah beberapa lama, Mura mengangkat kepalanya, menatapku. Pandangan kami saling bertemu. Tidak ada kata. Namun, dalam pandangan yang saling beradu terdapat ribuan emosi dengan segala rasa. Bahkan tanpa kata, kami seolah saling memahami isi pikiran masing-masing. Lari! Ya, secepatnya harus lari dari sini. Jariku dan jari Mura saling bertautan, erat. Ada gelenyar hangat yang merambat ke dalam hatiku. Gelenyar yang menghadirkan perasaan manis dan mesra. Sekilas, bayangan Mura menarikku ke dalam pelukannya di malam pertama waktu itu, kembali melintas. Membuatku tidak mampu menahan senyuman. Bodoh! Dalam keadaan seperti ini, malah kubayangkan hal semacam itu. Namun, keadaan sekarang ini memang menegangkan, memacu adrenalin. Dalam keadaan penuh ketegangan seperti ini, kadang-kadang otak manusia justru membayangkan momen-momen paling membahagiakan dalam hidupnya. Dan, kejadian saat Mura menarikku jatuh ke dalam pelukannya, merupakan satu dari banyak kejadian yang sangat menggembirakan dalam hidupku. Senyumanku membeku. Sebab, di halaman ternyata dijaga oleh beberapa orang. Bahkan, dua di antaranya aku kenal. Mereka yang berjaga di pos satu ketika aku dan Mura berada di rumah tepi sungai. “Lewat belakang ...,” bisik Mura pelan. Aku segera mengangguk. Ternyata di belakang tumbuh berjejer perdu hias sinyo nakal. Perdu ini tumbuh persis seperti kebun teh, berjejer panjang menyerupai pagar. Aku dan Mura menyelinap ke sisi perdu hingga sampai di gerbang belakang. Gerbang belakang dijaga dua orang. Namun, Mura ternyata mengetahui jalan lain. Di sudut gerbang, terdapat pohon jambu batu yang rindang dan beranting rendah. Dengan memanjat jambu batu tersebut, maka akan sampailah di dinding gerbang yang terbuat dari tembok. “Naik duluan ...,” bisik Mura. Aku menggeleng tegas, “Kamu yang duluan.” Mura mengatupkan bibir, dia kelihatan sangat gelisah. “Kenapa?” tanyaku. Walau belum lama mengenal Mura, tapi aku tahu dia sedang ada sesuatu yang mengganjal hatinya. “A-aku ... nggak bisa turunnya ....” Aku mengerti. “Yaudah, nanti saya turun duluan, kamu lompat ajah, akan saya tangkap. Tapi kita naik bareng-bareng.” Mura mengangguk. Setelah berada di atas pagar tembok. Aku melompat duluan. Namun, setelah menunggu beberapa kejap, Mura tak kunjung melompat turun. Dia malah menatap tanah sembari meringis takut. Aku melambaikan tangan agar Mura segera turun. “Ayo turun ...,” bisikku. Mura sudah duduk dengan kedua kaki menjuntai, tinggal melompat sebenarnya. Akan tetapi, agaknya dia ragu dan takut. “Saya akan tangkap kamu.” Aku meyakinkan. Akhirnya Mura mengangguk. Dalam bayanganku, aku akan menangkap Mura kemudian memeluknya. Namun kenyataannya, begitu Mura melompat dan menubrukku di atas tubuhku—tubuhku langsung kehilangan keseimbangan kemudian terjengkang. Refleks, aku mengaduh—sakit. Mura pun menampilkan ekspresi terkejut dan bersalah. Akan tetapi, belum sempat aku atau Mura mengatakan sesuatu, seseorang berteriak dari sana. (dari sana mana nih..) “Heh!” seru orang itu. Mura dan aku buru-buru bangkit, kemudian berlari secepat mungkin. Ketika aku menoleh, tampak dua orang mengejar. Mereka penjaga pintu belakang. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN