Senyuman Bulan Sabit

1436 Kata
Aksi kejar-kejaran pun berlangsung sengit. Setelah berlarian cukup lama, kedua pengejar akhirnya tidak kelihatan lagi. Aku dan Mura berhenti untuk mengambil napas. Napas Mura tersengal-sengal, dia sampai membungkuk-bungkuk—mungkin karena sesak. Wajahnya yang semula pucat pasi, kini berubah menjadi merah matang. Aku mengelus-elus punggung Mura agar napasnya segera kembali normal. Usai beberapa kejap, perlahan napas Mura kembali tenang. Namun, mendadak dia jatuh berlutut di tanah. Mungkin kelelahan, mungkin sawan, mungkin keduanya. Aku ikut duduk di tanah dan membawa Mura agar bersandar di dadaku, merengkuhnya. Mura memejamkan mata, dia tampak tenang dalam rengkuhanku. Setelah aku amat-amati, ternyata aku berada di tengah hutan. Pohon-pohon besar berjejer rapat. Sinar matahari bahkan tidak mampu menerobos secara bebas, terhalang daun-daun yang rindang. “Kita di mana?” tanya Mura setelah lebih tenang. Tadi, aku dan Mura lari secara buta menghindari kejaran. Kini, tahu-tahu ternyata kami sudah berada di dalam hutan lebat. “Sepertinya kita masuk hutan. Tapi kamu jangan khawatir, saya sering masuk-keluar hutan untuk mencari ayam liar. Kita pasti akan dapat keluar dari sini secepatnya.” Aku bicara penuh keyakinan. Mura mengangguk, lega. Kini, wajah Mura sudah kembali seperti sebelumnya, pucat pasi. Aku membimbing Mura agar berdiri. Pelan-pelan, kami menelusuri hutan. Sembari berjalan, Mura menceritakan semua yang dialaminya. Saat Mura sadar, dia sudah berada di rumah. Kamarnya dijaga orang, Mura pun ingat perkataan Pak Aswin yang ingin membunuhnya. Mura kemudian menyelinap diam-diam melalui plafon kamar. Dia naik dari kursi kemudian ke lemari, lalu membuka salah satu kotak gypsum yang kebetulan ada di kamarnya. Kotak gypsum kamarnya terhubung dengan dapur. Di bagian dapur, ada tangga khusus yang menuju ke kotak plafon di mana gypsum dapat dibuka. Mura sempat mengendap-endap mencariku. Memeriksa beberapa kamar, sampai akhirnya dia benar-benar menemukanku. “Kenapa kamu mencari saya?” Aku menghentikan langkah, Mura juga menghentikan langkah. Sekali lagi kami saling bertatapan. Mata Mura berkaca-kaca, bibirnya bergetar. “A-aku ....” Mura seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi berat. Aku tidak menunggu Mura mengucapkan apa yang ingin disampaikannya. Segera kedua tanganku merengkuh dan memeluknya erat. Tanpa Mura katakan pun aku sudah tahu. Jika ada seseorang mencarimu dalam keadaan genting, maka orang itu pasti sangat memercayaimu. Perempuan biasanya jenis makhluk yang pemalu, terutama dalam hal-hal mengakui perasaan. Walau Mura tidak atau belum mengatakannya, tapi aku tahu dia telah memiliki perasaan untuk memercayaiku. Aku tahu dan aku yakin. Aku menenggelamkan wajahku di atas kepala Mura, menghirup aroma rambutnya yang tidak keruan. Dari rasa memercayai, aku bertekad untuk membuat Mura nyaman berada di sisiku. Kemudian, perlahan-lahan akan aku buat dia mencitaiku, seperti aku mencintainya. Biarlah hutan ini menjadi saksi atas kesungguhanku ini. *** Pengalaman di kampung sangat membantuku keluar dari hutan. Dengan mengandalkan sinar matahari, di mana lumut tumbuh, serta insting, aku dan Mura akhirnya bisa keluar dari hutan. Namun, saat kami keluar hari sudah senja. Dalam pada itu, wajah Mura telah menjadi berubah sangat pucat. Keringat mengembun di keningnya. Dia tampak sangat letih. Aku meraba kening Mura, demam tinggi. Segera aku berjongkok, menoleh. “Naik sini, biar saya gendong.” “Huh?” Mura bergeming. “Di depan pasti ada perkampungan, soalnya di sana ada kebun. Kamu sudah letih, ‘kan? Ayuk sini saya gendong.” “Tapi ....” “Tapi apa?” “N-nanti berat ....” Aku tertawa. “Enggak, enggak berat kamu mah. Yang berat mah kalau saya pisah sama kamu. Hahahaha.” Mura menunduk, tersipu—sepertinya. “Ayo!” seruku. Di bawah sinar senja, semburat kemerahan menghiasi pipi Mura. Cantik dan indah. Kecantikan dan keindahan yang bahkan tidak mampu aku uraikan dengan kata-kata. Kecantikan dan keindahan yang membuatku benar-benar terpana dan terpesona. Menggigit bibir, Mura semakin menunduk—mungkin dia malu aku pandangi lekat-lekat. Aku sendiri tidak sadar terus memandanginya, seperti orang yang terhipnotis saja. “Ayo naik!” seruku kembali sembari cengengesan sendiri. Mura akhirnya naik ke punggungku. Matahari semakin tenggelam, kebetulan aku berjalan ke arah Barat. Desiran angin lirih berembus lewat. Dedaunan bergoyang-goyang tertiup angin. Pemandangan ini, suasana ini, benar-benar indah, damai, sejuk, dan syahdu. Semakin rendah, sang surya sudah hampir tenggelam sepenuhnya di cakrawala. Senja oranye kemerahan semakin membara. Bukit di sana perlahan-lahan mulai menghitam menyerupai siluet, menyerupai pula lukisan minyak. Indah! “Indah, ya,” lirihku, mengawang. “Iya,” sahut Mura. “Tapi lebih indah senyuman kamu, sayang jarang muncul, kayak pelangi.” Mura tidak menyahuti godaanku, tetapi aku merasakan dia menyusupkan wajahnya di punggungku. Kalau bisa melihat wajahnya, aku yakin aku bisa melihat rona merah indah yang menghiasi kedua pipinya. Matahari tenggelam. Seluruh cahaya mengelam. Siang telah berganti malam. Setelah melangkah lebih jauh, ternyata perkampungan yang aku janjikan pada Mura tak kunjung juga kelihatan. Dengan keadaan yang serba darurat, akhirnya aku mengajak Mura bertayamum dan melaksanakan shalatMaghrib dengan pakaian darurat pula—khususnya Mura. Usai shalat, Mura mencium tanganku. Entah kenapa, kali ini aku merasakan ketakziman saat Mura menempelkan bibirnya di atas punggung tanganku. Seketika hatiku diguyur oleh perasaan hangat yang lembut. Namun, sekejap kemudian hatiku kembali dingin. Sebab, bulir bening menetes dari mata indah Mura. Meremas daun-daun kering di tanah, Mura mendadak menangis tersedu-sedu. Tangisannya begitu rapuh, membuat hatiku teremas hancur. Aku mengerti. Mungkin Mura teringat akan kekejaman Pak Aswin yang mencoba membunuhnya. Anak mana yang tidak sedih dan sakit hati saat mendapati kenyataan bahwa ayah yang dihormati dan dicintai, ternyata bermaksud membinasakan. Di sisi lain, Mura pun mungkin merasa sedih dengan keadaannya saat ini. Kedinginan, kelaparan, terkatung-katung di tempat yang tidak jelas, tidak memiliki rumah. Walau Mura tidak mengatakan semua ini, tetapi aku bisa merasakannya, seolah dapat menyelami isi pikirannya. Apa yang bisa aku lakukan hanyalah membawa Mura ke dalam pelukanku. Membiarkannya tersedu di dadaku. Yang saat ini dibutuhkan Mura adalah melepaskan emosinya, rasa sedihnya, rasa kecewanya. Jika dengan menangis bisa membuatnya lega, apa yang bisa aku lakukan hanyalah menemaninya menangis. Air mataku juga menetes. Tak terkira betapa iba aku mendengar tangisnya yang begitu rapuh. Ingin sekali aku menghibur dan mengeluarkannya dari mimpi buruk ini. Namun, aku tidak memiliki sihir ajaib yang dapat mengubah segala keadaan dengan cepat. Aku tidak bisa memunculkan rumah, tidak bisa memunculkan pakaian, tidak bisa memunculkan makanan. Satu-satunya yang bisa aku berikan kepada Mura saat ini hanyalah pelukan. Berharap Mura bisa merasa sedikit lebih nyaman di dalam dekapanku. “K-kenapa? Kenapa ... Bapak?” Setelah lama, Mura akhirnya bertanya dengan suara tersendat, terputus-putus. Saking lama Mura menangis, tanganku yang mengelus rambutnya sampai pegal. Namun, hanya itulah yang bisa aku lakukan. Sebab, aku tidak sanggup menjawab pertanyaan Mura, kenapa Pak Aswin melakukan semua ini. Aku tidak tahu. Kenapa Pak Aswin melakukan semua ini? “Kamu yang sabar, semua manusia pasti pernah berada di titik tersulit dalam hidupnya. Asal kita bisa melewati hari-hari sulit itu, semuanya pasti akan baik-baik saja. Apa yang hilang pasti terganti, apa yang mengecewakan pasti ada hikmahnya.” Aku berusaha menghibur Mura dengan wejangan yang pernah diberikan Bapak kepadaku. Mura tidak menjawab, dia hanya mencengkeram kaus di punggungku dengan erat. Emosinya memang sedang sangat berantakan. Dia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menangis serta meluapkan emosinya agar dapat lebih tenang. Ketika di hutan—saat dia menceritakan bagaimana dirinya melarikan diri lewat plafon—kondisinya sedang melarikan diri, dia tidak sempat mengingatnya. Sekarang, setelah duduk kelelahan, terdiam di keheningan. Mungkin, barulah hal-hal menyedihkan itu teringat kembali olehnya. Entah berapa lama Mura menangis. Walau tidak tersedu-sedu, cukup lama isak lirihnya terdengar di keheningan malam. Setelah lebih tenang, baru aku mengajaknya kembali untuk mencari pemukiman. Sebenarnya aku pun hampir putus asa. Sebab, setelah berjalan sekian lama, bahkan bulan pun sudah semakin naik, belum juga menemukan pemukiman. Sekali lagi aku dan Mura bertayamum untuk melaksanakan shalat Isya. Entah shalat kami ini diterima atau tidak, aku tidak tahu. Dan di saat aku hampir menyerah, lamat-lamat mataku menangkap kerlip cahaya. Harapan dan semangat yang hampir padam pun kembali berkobar. Kaki yang semula sudah lemas gemetaran mendadak kembali kokoh. Aku meremas jemari Mura yang bertaut dengan jemariku. Setelah shalat Isya tadi, Mura menolak aku gendong. Kini, kami berjalan cepat setengah berlari-lari kecil ke sumber cahaya. Bagaimanapun, berada di perkampungan jauh lebih baik daripada di hutan atau kebun. Sekalipun di perkampungan pun kami tak memiliki rumah sebenarnya. Sesampainya di dekat perkampungan, aku dan Mura menghentikan langkah karena napas sudah ngos-ngosan. Kami kemudian saling menghadap, saling menatap. Dan, untuk kedua kalinya aku melihat senyuman Mura. Bahkan, jauh lebih lebar dari waktu itu. Indah, lebih indah dari pelangi, senja, ataupun kunang-kunang. Lebih indah dari apa pun. Dalam waktu yang sama, aku dan Mura saling menghambur. Memeluk satu sama lain seperti anak kecil yang baru bertemu setelah berpisah sekian lama. Ya, kelakuan kami pun seperti anak kecil. Saat sedang bahagia, kadang orang dewasa memang suka bertingkah seperti anak kecil. Bintang pun berkelip senang. Bulan sabit pun tersenyum melihat tingkah kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN