Perkampungan.
Dengan hati yang dipenuhi keharuan, manis, serta mesra. Aku dan Mura saling menggenggam tangan memasuki perkampungan. Sepi. Tentu saja, kemungkinan sekarang sudah larut. Orang-orang telah beristirahat di peraduan masing-masing.
Sebenarnya, aku ingin mencari mesjid atau surau. Namun, lantaran tidak hafal seluk-beluk perkampungan ini. Alhasil, setelah berputar ke sana kemari, tidak satu pun mesjid atau surai ditemui.
Untunglah, sekian lama berjalan, akhirnya aku dan Mura menemukan pos ronda. Ukurannya sangat kecil. Biliknya terbuat dari anyaman bambu, sedangkan alasnya pelupuh berdebu. Lumayan. Setidaknya, kalau berteduh di sana tidak takut kehujanan. Pun, tidak takut akan ada binatang buas.
Aku duduk lebih dulu, meluruskan kaki.
“Duduk sini,” pintaku, menepuk paha.
Kaku dan malu-malu, Mura duduk di pangkuanku. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku.
Tanpa terasa aku tersenyum sendiri. Aku merasa sekarang Mura sudah tidak membenciku lagi. Hanya saja, sikapnya memang masih kaku dan malu-malu. Kendati begitu, saat aku memeluknya, Mura balas mencengkeram lenganku.
“Gimana? Cape nggak?” tanyaku.
Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu aku lontarkan. Sudah pasti Mura cape setelah berlari dan berjalan seharian. Namun, aku benar-benar tidak memiliki topik pembicaraan lain untuk memulai obrolan. Terpaksa pertanyaan basi itu pun aku lontarkan.
Ternyata Mura hanya mengangguk.
Gimana sama lukanya, masih sakit nggak? Ingin aku layangkan pertanyaan ini. Namun, aku takut Mura malah akan mengingat kembali tentang kebengisan Pak Aswin. Hal itu akan membuatnya sedih lagi. Sekarang, lebih baik dia istirahat saja tanpa diganggu oleh pikiran-pikiran yang membuat hatinya sedih dan terluka.
Sebenarnya, aku pun belum bisa mengerti bagaimana Mura bisa cukup baik-baik saja sekarang. Padahal, ketika di sungai waktu itu, Pak Aswin jelas-jelas mengatakan kalau Mura sudah terkena panah beracun ganas yang mematikan.
Meski sekarang kondisi Mura memang kelihatan kurang sehat, tetapi tidak menunjukkan keracunan hebat. Aku memang tidak bisa mengobati orang keracunan. Namun, Bapak sering mengobati orang keracunan. Baik keracunan makanan, jamur, ataupun digigit ular. Jadi, aku sedikit tahu bagaimana tanda-tanda orang yang sedang keracunan.
Kondisi Mura saat ini lebih mirip orang yang habis keracunan. Artinya, seseorang sudah memberinya obat atau penawar racunnya.
Siapa?
Apa mungkin Pak Aswin berubah pikiran dan mengurungkan niatnya membunuh Mura?
Toh, hati manusia memang gampang berubah. Mana tahu pas Pak Aswin melihat lagi wajah Mura, wajah darah dagingnya, timbul rasa nuraninya. Atau, ada sosok lain yang diam-diam berusaha melindungi Mura? Siapa?
Entahlah.
Rasanya semua ini masih terlalu berkabut. Persoalan-persoalan ini mirip selembar kain putih di dalam kabut, samar. Sukar diraba kebenaran di dalamnya.
Dengung nyamuk tiba-tiba membuyarkan segala pikiranku. Terdengar pula Mura melenguh, dia sudah tertidur. Namun, agaknya nyamuk-nyamuk nakal mengganggu lelapnya. Segera tanganku pun mengibas ke sana kemari, mengusir si makhluk-makhluk kecil pengisap darah.
Kasihan Mura, nasibnya benar-benar buruk. Dari seorang anak tunggal yang disayang kedua orang tua. Kini, mendadak menjadi seorang gelandangan tak punya rumah. Sudah begitu, hidup di bawah tekanan dan ancaman pula.
Diam-diam aku menghela napas, ikut menyesalkan takdir yang menyertai wanita yang jarang bicara ini. Jauh di relung hari, aku berdoa setulus hati. Berdoa untuk kebahagiaan Murayya. Semoga semua kesulitan segera berlalu darinya. Aku percaya, pasti ada hikmah di balik badai besar ini.
Malam terus merangkak, udara semakin dingin. Aku mendekap Mura erat-erat. Lama-lama kantuk mulai menyerang, kelopak mataku terasa berat. Namun, di saat hendak memejamkan mata, lamat-lamat aku malah melihat bayangan.
Semakin mendekat, bayangan itu semakin jelas. Seorang pemuda bertubuh jangkung dengan proporsi badan yang proporsional. Di lehernya tergantung kalung dari benang hitam berbandul batu berwarna biru cerah. Di bawah cahaya lentera yang dijinjingnya, wajah pemuda itu kelihatan cukup cakap. Dia lantas berdiri tepat di hadapanku, matanya mengawasi Mura. Aku tidak suka caranya menatap Mura.
“Siapa kamu?” tanyaku, waspada.
Pemuda itu menghela napas. Pandangnya beralih menatapku, menatap mataku. Sorot matanya dingin.
“Ismail,” pemuda itu menjawab.
“Ismail?” ulangku.
“Salah satu pekerja Pak Aswin. Saya sudah tahu soal pernikahan kalian. Kalau tidak salah, nama Akang ini ... Ali Al Muayyad.” Ismail mengamat-amati wajahku.
“Kamu datang ke sini untuk menangkap kami?”
“Menangkap?” Ismail mengerut kening.
“Kamu jangan pura-pura, Pak Aswin sebenarnya berencana membunuh Mura, ‘kan?”
Ismail tampak terkejut. Protesnya, “Kamu jangan bicara sembarangan tentang Pak Aswin.”
Dia kelihatan marah.
“A Ismail ...,” ucap Mura yang terbangun.
“Neng, apa yang sebenarnya terjadi?” Terhadap Mura, ternyata ekspresi Ismail berubah lembut, selembut kapas.
Entah kenapa dadaku merasa tak genah. Terutama mendengar panggilan antara Mura dan Ismail. Mura bahkan masih memanggilku dengan sebutan kamu, tetapi dia memanggil Ismail dengan sebutan A—terdengar lebih mesra. Aku tidak suka.
Siapa tahu, ternyata Mura menceritakan semua yang dialaminya secara ringkas kepada Ismail. Melihat keakraban keduanya, aku jadi merasa ada suatu hubungan tak biasa di antara mereka.
Mendengar cerita Mura, Ismail kelihatan lebih terkejut lagi. Dia lantas menatapku, masih dengan sorot dinginnya yang kentara tidak suka. Katanya hambar, “Kalau begitu lebih baik kalian tinggal di rumah saya dulu untuk sementara waktu.”
Tentu saja aku tidak setuju.
Namun, Mura justru berusaha meyakinkanku. Katanya yakin, “A Ismail orang yang baik, Mura kenal dia lama. A Ismail pasti enggak terlibat sama Bapak.”
Memangnya kamu tidak mengenal lama Pak Aswin, Mura? Meski ingin, pertanyaan ini tidak sampai aku ucapkan di bibir. Tentu saja karena aku tidak ingin menyakiti hati Mura. Di samping itu, aku pun tidak ingin terlihat begitu cemburu pada Ismail.
“Yaudah,” aku tersenyum, “kamu saya gendong, ya.”
Mura tersenyum malu. Sebelum dia menolak, aku lebih dulu mendekatkan wajahku ke wajahnya, hingga nyaris tak berjarak. Aku dapat merasakan Mura berusaha menahan napas. Wajahnya merah merona.
“Gimana?” desakku setengah berbisik.
Mura merapatkan matanya dan menjawab, “Iya,”—mungkin karena terpaksa.
Sekilas, aku melihat Ismail melengoskan wajahnya.
Sudah jelas, Ismail memang memiliki perasaan tidak biasa terhadap Mura.
Dia cemburu.
Dari mana Ismail mengetahui keberadaanku dan Mura? Apakah hanya kebetulan semata? Rasanya terlalu kebetulan kalau hanya sekadar kebetulan.
Apakah mungkin rumah yang dimaksud adalah jebakan? Aku tidak tahu. Namun, apabila memang benar Ismail memiliki perasaan terhadap Mura, sudah pasti dia tidak akan membiarkan Mura celaka.
Lalu, bagaimana denganku?
Bukankah tidak apa-apa kalau terjadi sesuatu padaku. Bagaimana pula dengan Mura, bagaimana perasaannya pada Ismail. Apakah sebelum ditenung seseorang, Mura pernah memiliki perasaan pada Ismail. Atau bahkan, mungkinkah sebelumnya mereka memiliki hubungan spesial.
Bagaimanapun, tatapan Ismail terhadap Mura bukanlah tatapan seorang pemuda kepada anak majikannya. Melainkan, tatapan seorang lelaki kepada kekasih yang dicintainya. Tatapan yang membuat aku terbakar api cemburu.
Kepercayaan Mura terhadap Ismail pun begitu besar. Mura bahkan tidak bertanya kenapa Ismail bisa sampai berkeliaran di tengah malam buta. Tidakkah ini cukup janggal, tidakkah dia merasa curiga.
Hubungan spesial.
Apakah aku telah menjadi orang ketiga di sini? Tapi, akulah suami Mura, bukan Ismail. Lalu, siapa yang sebenarnya diharapkan Mura untuk menjadi suaminya, aku atau Ismail?
Setiap melangkah, rasanya pikiranku semakin bertambah kalut saja.
Ismail, siapa dia?