Penyerang Gelap

1102 Kata
Rumah Rumah yang dimaksud Ismail adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu. Walau sederhana, di bawah remang sinar bohlam, terlihat cukup kokoh serta membawa kesan estetik. Ditambah lagi terdapat ukiran-ukiran di setiap sudut jendela dan pintu. Ismail menyiapkan sebuah kamar untuk aku dan Mura. Selain itu, dia juga menyiapkan pakaian serta makanan. Entah dia dapat dari mana pakaian untuk Mura. Yang pasti terlihat bagus dan masih baru. Sedangkan pakaianku cenderung jelek dan malah ada robekannya. Dia benar-benar sentimen kepadaku. Sisa malam yang ada, aku gunakan untuk terlelap pulas. Sebab, masih ada begitu banyak kejanggalan, masih ada begitu banyak kejadian samar. Aku merasa ada beberapa hal yang salah, ada beberapa hal yang tidak semestinya. Dan, untuk membuka tabir-tabir itu, membuka kejanggalan-kejanggalan itu, sudah pasti dibutuhkan ekstra tenaga dan pikiran. Saat lamat-lamat terdengar tarhim Subuh, Mura tampak masih begitu lelap, bahkan mendengkur halus. Aku tak tega. Biarlah pas adzan nanti baru kubangunkan. Jadi, aku memutuskan bangun duluan. Ruangan luas di depan kamar gelap, kemungkinan saklarnya dimatikan. Kamar mandi berada di dapur. Dalam keadaan gelap, aku menuju ke dapur. Namun, entah kenapa tengkukku terasa dingin. Instingku pun seakan memperingatkan akan suatu marabahaya. Ketika aku hendak memegang kenop pintu, mendadak pintu terbuka. Sekelebat cahaya melintas menyambar wajah. Untunglah, sejak semula aku memang berada dalam keadaan waspada. Jika tidak, mungkin kini wajahku sudah terbagi menjadi dua. Jadi, sebelum cahaya tajam barusan berhasil menyambar wajahku. Aku lebih dulu memotong gerakan si penyerang, kepalanku berhasil menghantam lengan penyerang gelap itu. Bluk! Pisau yang menyambar wajahku jatuh ke lantai kayu. Samar, aku mendengar suara langkah menjauh. Clik! Mendadak suasana terang benderang. Ismail berdiri di sana dengan tatapan yang aneh. Aku tidak mengatakan apa pun dan Ismail pun demikian. Kami hanya saling menatap dalam diam. Namun, aku bisa melihat jelas, sorot mata Ismail mengandung suatu perasaan tidak suka yang kentara. Mungkin, Ismail pun melihat sorot serupa dari tatapan mataku. Aku memang tidak menyukai pemuda bertubuh jangkung ini. Lebih-lebih tidak menyukai caranya menatap Mura. Memungut pisau yang tergeletak di lantai, aku melangkah menuju dapur. Ismail sama sekali tidak menghalangi. Menanyakan apa yang sudah terjadi pun tidak. Atau, jangan-jangan dia memang sudah tahu apa yang terjadi. Bukan tidak mungkin, si penyerang tadi sebenarnya adalah orang suruhan Ismail. Semakin lama, rasanya masalah yang bersangkutan dengan Mura semakin ruwet dan penuh misteri. Usai mengambil wudu, aku membungkus mata pisau menggunakan kain seprai, kemudian memasukannya ke dalam saku. Sambil menunggu adzan Subuh, aku duduk bersalawat dan beristigfar. Mura masih saja terlelap. Bahkan, saat suara adzan menggema, dia tak bangun juga. Tak tega sebenarnya. Namun, aku tetap harus membangunkannya. Aku tak boleh menjadi penyebab Mura tak menunaikan kewajibannya menghadap Sang Ilahi Rabbi. Lembut, aku mengecup kening Mura, kemudian mengelus pelan pipinya. “Mura ... bangun. Bangun ....” Ingin aku menyebut Mura dengan panggilan sayang seperti, Neng atau Dik—misalnya. Namun, entahlah, rasanya sungkan. Sebab, Mura sendiri masih memanggilku dengan sebutan kamu. Kamu dan kamu. “Mura ....” Aku memanggil lagi. Mungkin karena kelelahan, tidur Mura betul-betul pulas. Cantik juga lucu menggemaskan. Semakin aku memandang Mura, semakin aku merasa wajahnya begitu cantik dan lucu. Tidak menjemukan untuk terus ditatap lama-lama. Gemas, aku memencet hidung mungil Mura. Kali ini dia langsung membuka matanya—kaget. Aku terkekeh. Mura merengut sembari menggosok hidungnya. Marah dia. Tersenyum, aku justru berusaha mencapit kembali hidungnya dengan jari tengah dan telunjuk yang dilipat. Tentu saja Mura langsung menghindar dan berusaha menepis tanganku. Namun, entah bagaimana, tiba-tiba saja aku dan Mura malah berada di posisi saling tatap dengan Jarak wajah cukup dekat. Saking dekat, aku sampai bisa merasakan embusan napas Mura yang berat—sepertinya dia berusaha menahan napas. Rasanya, posisi sekarang ini sudah pernah aku alami beberapa kali. Pada waktu subuh, biasanya udara menjadi lebih dingin. Membuat orang-orang enggan bangun dan nyenyak bergumul dengan selimut. Akan tetapi, aku tidak merasa dingin sama sekali, sebaliknya malah berkeringat. Mengumpulkan segenap keberanian, pelan-pelan aku mengikis jarak antara aku dan Mura hingga lenyap. Dalam pada itu, kembali terbayang olehku kemesraan berkasih di malam pertama dulu. Juga, kenangan-kenangan—yang entah mesra atau memalukan—yang membuat hati terasa geli sekaligus hangat. Begitu aku melepaskan pagutan, Mura langsung melengoskan wajah. Di bawah keremangan sinar bohlam, wajahnya begitu merah. Ternyata, selain penakut, dia pun pemalu sebenarnya. Mudah-mudah dia tidak marah karena aku cium sepihak. Canggung, aku berusaha mencairkan suasana yang jadi terasa aneh. “Sudah subuh, kita ... shalat dulu.” Mura mengangguk sembari terus menghindari tatapanku. “Mau digendong nggak?” godaku. Sudut bibir Mura berkedut, seperti ingin senyum, seperti juga enggan tersenyum. Lantas, dia buru-buru beranjak bangun. “Di kamar mandinya ada hantunya ...,” bisikku diseram-seramkan. Mura yang sudah memegang kenop langsung menoleh. Dia menatapku tidak suka. Kendati demikian, tak urung dia melangkah kembali menghampiriku. “Mau digendong nggak?” Aku menaikkan alis, menggodanya lagi. Mura tidak mengatakan apa pun, tetapi dia menarik tanganku. Sudah jelas dia takut dan meminta aku mengantarnya. Namun, aku pura-pura tidak mengerti saja apa maunya. Jadi, aku tetap bergeming. Meski berkali-kali berusaha menarikku bangun, Mura tetap tidak berhasil. Sampai-sampai keningnya berkeringat. “Anter ...,” desisnya pada akhirnya. Sekali hentak, aku menarik balik lengan Mura hingga dia jatuh ke pelukanku. Sebelum dia beraksi lebih jauh, aku sudah lebih dulu memangkunya. Kedua tanganku dipakai untuk menggendong Mura yang lumayan berat. Jadi, aku membuka pintu kamar menggunakan kaki. Pintu kamarnya memang tidak dikunci. Saat pintu terbuka, ternyata Ismail berdiri di sana. Tangannya tergantung di udara, seperti hendak mengetuk pintu. Melihat Mura dalam pangkuanku, sorot matanya berubah aneh—entah sedih, kecewa, marah, atau cemburu. Mura sendiri terlihat tertegun, pipinya merona. Dia seperti hendak meronta turun. Akan tetapi, sebelum dia melakukan itu, aku lebih dulu memutar badan. Tanpa mengatakan apa pun, aku meninggalkan Ismail. Menatapku, Mura menampilkan mimik keheranan. Lirihnya, “A Ismail ....” Aku tahu Mura tidak menyukai tindakanku yang terkesan tidak sopan kepada tuan rumah. Aku tidak peduli. Aku tidak suka pada Ismail. Tidak suka pada caranya menatap Mura. Membuatku cemburu. “Dia hendak membangunkan kita untuk shalat Subuh. Ini kan kita mau ambil wudu,” jawabku kemudian. “Tapi ....” Mura menggigit bibir, tidak meneruskan ucapannya. Agaknya, Mura menyadari ketidaksukaanku pada Ismail. Dia tahu dan aku memang tidak berusaha menyembunyikannya. “Saya tidak suka sama Ismail, tidak suka sama cara dia memandang kamu. Saya cemburu.” Aku menurunkan Mura di depan kamar mandi. Mendengar ucapanku yang blak-blakan, Mura mengedip tertegun. Dia kemudian buru-buru masuk ke kamar mandi. “Saya juga cemburu dengan panggilan spesial kalian. Saya yang suami kamu ajahnggak ada panggilan spesial.” Aku ngagerendeng di sisi pintu sembari berdekap tangan. Tidak tahu apakah Mura mendengarnya atau tidak. Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara percikkan air.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN