BAB 5

1237 Kata
“Kau di sini?” tanya sebuah suara yang tanpa menoleh pun Axele sudah tahu jika itu adalah Luc. Pria ini datang dengan pakaian kerajaan miliknya. Berbeda dengan Luc semasa remaja, kini dia sudah harus mengemban tugas sebagai pangeran yang harus mengurus kedamaian Kerajaan Werewolf yang dipimpin oleh sang kakak saat ini. Ya, Luc tidaklah menjadi raja karena ada sang kakak yang meneruskan kerjaan itu. “Aku sedang menemani Vera,” jawab Axele dengan mata yang berfokus kepada gadis di sana yang asyik memotret berbagai banyak hal yang dia temukan. Luc mengikuti arah pandang temannya itu. Gadis itu lagi. “Kau terlalu sering bersamanya, Axele. Kau juga harus mulai mencari wanitamu sendiri,” nasihat Luc. Entah kenapa semenjak mulai aktif di kerajaannya sendiri, Luc mulai sedikit berubah, segala tindakan pria itu tidaklah lagi sembrono. “Kau sama seperti ayahku, Luc. Sudahlah, aku sedang tidak terburu-buru juga,” balas Axele tenang. “Lihat umurmu, Axele dan juga Raja Baz. Tidak mungkin kau terus-terusan membiarkan ayahmu bekerja dan menjalankan kerajaannya. Di usia beliau yang sudah seperti ini lebih baik untuk istirahat dan menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya,” tutur Luc yang menerawang ke depan. Axele sangat tahu dengan yang dikatakan temannya ini. “Tadi Ayah memintaku untuk datang ke dunia manusia. Dia mengatakan jika mungkin saja belahan jiwaku ada di sana,” ujar Axele memberitahu pasal sang ayah katakan tadi. “Itu bagus, kau bisa berangkat segera. Jika butuh bantuan, katakan kepadaku, aku siap jika harus menemanimu,” sahut Luc. “Tidak, Luc, aku tidak akan pergi ke mana-mana,” kata Axele, meskipun pada dasarnya pria ini tidak begitu yakin dengan keputusannya saat ini. “Hey, kau jangan terlalu menyiksa dirimu. Dulu aku sangat khawatir sekali ketika belum menemukan mate, tetapi semenjak Frey datang, semua kehidupanku perlahan berubah. Segala yang kita lakukan bersama terasa menyenangkan,” cerita Luc dengan senyum di wajahnya. Ya, Luc adalah satu-satunya dari ketiga sahabat ini yang berhasil menemukan belahan jiwanya lebih dulu. “Kau sedang menyombongkan diri karena sudah menemukan matemu?” tanya Axele. Luc pun terkekeh dan menepuk pundak temannya itu dengan pelan. “Aku hanya menceritakan kepadamu betapa bahagianya ketika kita bertemu dengan belahan jiwa kita,” jawab Luc. Dia tidak berbohong mengenai kebahagiaan yang dia rasakan ketika menemukan matenya sendiri. Ada rasa yang mungkin sulit untuk dijabarkan di sini, tetapi Luc yakin jika perasaan itu sudah ada sejak dulu. “Kak Axele, aku sudah selesai,” ujar Vera yang tiba-tiba datang menghampiri kedua pria di sana. “Hai, Ver,” sapa Luc ramah kepada teman adiknya itu. “Hai, Kak Luc. Apa kabar? Tumben aku nggak lihat Kak Frey,” tutur gadis itu. Vera menyimpan kamera miliknya di dalam tas. Dirinya sudah tak sabar untuk sampai di rumah agar segera mencetak hasil jepretannya di sini. “Dia sedang belajar. Ke mana Rey?” tanya Luc yang tak melihat sosok temannya itu. “Biasalah, Kak. Buku-buku itu sudah seperti belahan jiwa Kak Rey. Bahkan aku sempat berpikir jika mungkin saja salah satu buku di sana memang adalah belahan jiwa Kak Rey, buktinya saja dia selalu bersama buku-bukunya,” cetus gadis ini yang tentu saja itu adalah hal yang tidak nyata. Luc pun terkekeh, Vera memang terlihat seperti gadis yang polos. “Ya, bisa jadi apa yang kamu pikirkan benar adanya,” sahut Luc. Axele yang mendengar pembicaraan keduanya pun tampak tidak berminat untuk nimbrung. “Kak Axele, sebaiknya kita pulang. Bukankah tadi Kak Axele mengatakan akan melihat bagian barat kerajaan?” ajak Vera yang diangguki oleh pria itu. Axele pun menatap Luc yang balik menatapnya. “Luc, aku pulang. Datanglah ke rumahku, Ibu selalu menanyakan dirimu,” ujar Axele. “Ya, aku sudah tidak sabar mencicipi puding buatan Bibi,” balas Luc. Meskipun ada banyak yang berubah dari Luc, akan tetapi pria ini masih sangat menyukai puding buatan Ibu Axele. Tentu saja sudah tidak ada lagi perdebatan di antara keduanya. Umur yang matang semakin membuat remaja-remaja ini sudah sadar akan tanggung jawab mereka ketika dewasa ini. “Aku sangat suka sekali berada di kerajaan Kak Axele dan Kak Luc. Tempat kalian indah sekali dan aku banyak memiliki koleksi foto dari sana,” papar Vera di tengah perjalanan mereka pulang. Axele tidak menimpali, dia hanya mendengarkan gadis ini berbicara. “Tidak seperti di rumah, meskipun rumahku dekat hutan, akan tetapi pemandangan bagus di sana hanya sedikit. Paling banyak juga gedung-gedung tinggi,” lanjutnya membuat Axele sempat bertanya-tanya seperti apa sebenarnya kehidupan di dunia manusia. Keluarga Reynart memang bertempat di dunia itu, akan tetapi Axele belum pernah sama sekali berkunjung ke rumah Reynart yang berada di sana. Dulu dirinya pernah ke rumah Reynart, akan tetapi rumahnya masih di dunia immortal. Setelah mengantarkan Vera ke portal menuju ke dunia manusia, Axele pun bergegas menuju ke ruangannya untuk berganti baju karena dirinya akan mengecek wilayah barat. Setidaknya dirinya harus bersiap dengan baju kebesarannya. “Pangeran, pasukan sudah siap,” papar salah satu prajurit di sana. Axele segera menuju ke gerbang istana yang mana sudah ada beberapa prajurit yang akan ikut bersamanya. Sekitar enam prajurit. Axele memang tidak akan banyak membawa prajurit jika hanya mengecek keadaan sekitar kerajaannya. Tentunya mereka menggunakan kekuatan vampir yang bisa berlari cepat. “Apa-apaan ini?” seru Axele ketika melihat beberapa tanaman di sekitar bagian barat wilayah kerajaannya mati. Axele memegang salah satu daun yang mati tersebut, ada sengatan aneh yang membuat pria ini refleks menjauhkan tangannya. “Kau, ambil beberapa bagian tanaman di sini. Jangan sentuh secara langsung dan segera berikan kepada Berta,” titah Axele. Dia tahu betul hal seperti ini pasti ada hubungannya dengan dunia sihir, dan Berta si wizard tua pasti tahu tentang hal seperti ini. Meskipun ini bukan kali pertama Axele temukan, akan tetapi dirinya cukup tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini di beberapa bagian wilayah kerajaan vampir menunjukkan fenomena aneh. Karena tidak ada hal mencurigakan yang Axele temukan di wilayah ini selain tanaman yang mati, dia dan prajuritnya pun segera kembali ke kerajaan. “Ibu, kenapa Ibu tidak masuk?” tegur Axele yang melihat wanita itu sedang berada di kebunnya seorang diri. Ini bukanlah kali pertama Axele melihat ratu vampir itu menyendiri di tempatnya. “Tidak ada, Nak. Ibu hanya ingin menghirup udara segar di sini,” jawab sang ratu membuat Axele terkekeh dibuatnya. Dia baru saja pulang dari mengecek daerah tadi, dan entah kenapa kakinya memilih melangkah ke kebun milik ibunya ini. “Bagaimana harimu?” tanya sang ratu. Axele mengambil tempat di sebelah sang ibu. “Biasa saja, Bu. Hanya mengecek daerah barat saja.” “Apa yang kamu temukan di sana?” “Hanya tanaman yang mati secara misterius. Aku sudah meminta salah satu prajurit untuk membawanya kepada Berta,” terangnya. Terlihat sang ratu memusatkan perhatiannya kepada putranya itu, menatap putranya secara lekat-lekat, dan Axele tahu arti tatapan ibunya ini. “Tidak, Bu, jangan sekarang. Aku sedang tidak ingin membahas hal ini,” kata Axele cepat yang seketika mengubah raut wajah sang ibu menjadi sendu. Axele pun merasa bersalah, bukannya dia ingin mematahkan kebahagiaan sang ibu, tidak. Dia hanya tidak ingin ibunya terlalu berharap kepada putranya ini. Yang mana Axele belum bisa mewujudkan keinginan-keinginan yang ibunya ini katakan. “Kamu sudah semakin dewasa, itu artinya Ibu semakin tua,” ucap wanita ini, “keinginan Ibu tidaklah banyak. Ibu hanya ingin melihat putra Ibu bahagia, menjadi raja, suami, serta ayah. Ibu sangat menantikan hari-hari di mana Ibu bisa menggendong cucu, bermain di ayunan dan menanam bunga di sini.” Axele terdiam dan mencoba menjadi pendengar meskipun hal yang dengar selalu sama saja. “Maaf karena belum bisa menjadi putra yang baik untuk Ibu,” sahut Axele. Felis mengangguk paham, ego Axele begitu tinggi sehingga dia selalu menampik jika dirinya sangat membutuhkan pendamping hidupnya. Padahal tanpa belahan jiwa dia tidak bisa menjadi raja dan dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN