BAB 16

1098 Kata
Axele yang baru saja keluar dari dapur pun mengernyit bingung tatkala mendengar suara mobil yang datang. Pria ini pun menuju ke pintu dan mendapati ketiga temannya pulang lebih awal. “Kenapa kalian pulang lebih awal?” tanyanya langsung. Axele nampak bingung ketika melihat ekspresi Frey yang berbeda seperti menahan sesuatu. Luc menggiring sang mate untuk masuk ke rumah diikuti oleh lainnya, mereka duduk di ruang keluarga. “Dia kenapa?” tanya Axele dengan menunjuk Frey menggunakan ekor matanya. “Jessica membuatnya marah. Karena kita tidak ingin keberadaan kita diketahui oleh manusia, maka kita putuskan untuk pulang,” jelas Reynart. “Gadis sialan itu benar-benar membuatku marah,” gumam Frey yang tentu masih didengar oleh ketiganya. Dia masih mengumpati sosok Jessica. Sepertinya ikatan Frey dan Celesse benar-benar kuat, bahkan Frey langsung bereaksi ketika Jessica terang-terangan mengatakan kebohongan mengenai Celesse di depannya. “Bagaimana dengan Celesse?” tanya Reynart kepada Axele. “Dia di dalam kamar,” jawab Axele dengan senyum kecil di wajah pria itu. Tentunya hal ini sangat jarang dilihat oleh teman-temannya. Reynart yang menyadari sesuatu tidak beres dengan temannya pun nampak bingung. “Dan kau kenapa tiba-tiba memeluk dan membawanya pergi tadi? Apa yang akan terjadi jika dia tahu siapa kita sebenarnya? Kau benar-benar membuat dunia kita terancam, Axele. Dan juga bukankah seharusnya kau merasakan sakit itu lagi ketika berdekatan dengannya?” Axele menatap kedua temannya serius, Frey sendiri masih diam di tempatnya dengan napas yang naik turun. “Aku merasakan sakit itu lagi, tetapi tiba-tiba rasa sakitnya memudar meskipun tidak sepenuhnya,” jelas Axele. “Aneh. Kenapa bisa begitu?” sergah Luc yang mulai tertarik dengan percakapan ini. “Aku menciumnya,” ujar Axele tenang yang malah berbanding terbalik dengan keduanya yang terkejut. “Kau benar-benar m***m,” cecar Luc. “Hei! Apakah kau tidak sadar diri? Setiap saat kau selalu menempel kepada Frey, dan aku yakin kau juga sama mesumnya denganku,” balas Axele yang tidak terima dirinya dikatakan m***m. Melihat perdebatan di antara keduanya membuat Reynart hanya bisa memutar bolanya malas. “Aneh, kenapa bisa begitu?” Axele hanya mengedikkan bahunya pertanda dia juga tidak tahu. “Apakah aku harus selalu menciumnya agar tidak merasakan sakit itu lagi?” celetuk Axele yang langsung mendapat pukulan keras di lengannya. Pelakunya adalah Reynart. “Jangan gila, Axele. Kau bisa membuatnya takut dan menjauhimu,” kata Reynart. “Tanpa aku menciumnya juga dia sudah takut kepadaku,” balas Axele. “Ya! Itu karena muka sinismu itu,” sela Luc. “Lebih baik kau menemui Raja Baz dan Wizard Berta,” usul Reynart yang disetujui oleh Luc. “Kau benar, Rey,” jawab Axele yang mulai berdiri dari duduknya. “Aku akan menemui mereka sekarang. Tolong jagalah Celesse, dan sepertinya dia tidak akan keluar kamar siang ini. Setelah Frey tenang, tolong minta dia bawakan makanan untuk Celesse,” ujar Axele yang diangguki oleh Luc serta Reynart. Kemudian pria itu pun bergegas menuju ke hutan untuk membuka portal. Rumah keluarga Dimitri benar-benar membuat mudah untuk keluar masuk menuju ke mana saja. Tidak butuh waktu lama bagi Axele untuk sampai ke Kerajaan Vampir. Dengan langkah tegas dia pun langsung ke ruangan ayahnya di mana ternyata sungguh kebetulan sekali ada wizard Berta yang tengah membicarakan sesuatu dengan ayahnya. “Ada apa, Nak?” tanya Baz lebih dulu. “Ayah, Wizard Berta ... aku ingin bertanya sesuatu. Tanpa sengaja rasa sakit itu tiba-tiba memudar, tetapi tidak sepenuhnya hilang,” tutur Axele langsung yang tidak suka berbasa-basi. “Tadi tanpa sengaja aku melakukan skinship dengannya. Aku menciumnya, Ayah. Dan tiba-tiba rasa sakit di dadaku sedikit berkurang,” lanjutnya membuat Raja Baz bingung, namun tidak dengan Wizard Berta yang sepertinya tahu apa yang terjadi. “Oh jadi begitu. Aku rasa kutukan itu tidaklah sulit untuk ditaklukan. Kamu benar, Pangeran, rasa sakitnya akan berkurang, tetapi hanya sementara. Semua akan hilang jika Pangeran meminum darah matenya sendiri dan melakukan penyatuan,” jelas Berta yang tentunya ditolak mentah-mentah oleh pria ini. “Itu tidak mungkin terjadi, Berta. Aku tidak akan mengigitnya. Aku tidak ingin melihatnya kesakitan ketika berubah menjadi vampir,” jawab Axele yang masih tetap dengan pendiriannya. “Semua keputusan ada di tangan Anda, Pangeran,” balas Berta. Axele mengangguk, dia pun pamit undur diri akan kembali ke dunia manusia. Tekad Axele sudah bulat, dia tidak akan pernah mengubah Celesse menjadi vampir. Gadis itu terlalu polos, dan Axele seratus persen yakin jika Celesse tidak akan kuat menahan perubahan tubuhnya. Setibanya Axele di dunia manusia, keadaan sudah gelap. Tentu saja karena perbedaan waktu antara dunia immortal dan dunia manusia yang berbeda jauh. “Axele, makanlah dulu, Nak,” ucap Mrs.Martin yang dihapal oleh penghuni rumah ini. Wanita itu benar-benar memerankan figur ibu yang baik meskipun bukan kepada anak-anaknya sendiri. Axele yang melihat keberadaan Celesse di meja makan dengan kepala tertunduk pun hanya meliriknya sebentar. Sepertinya Celesse masih malu. “Aku akan membersihkan diri dulu, Mrs,” jawab Axele yang bergerak segera ke kamarnya. Di dalam kamar mandi Axele benar-benar memikirkan perkataan wizard itu. Seperti kata Reynart, tidak mungkin juga dia mencium Celesse setiap saat untuk mengurangi rasa sakit itu. Seketika Axele membenci Raja Gore yang membuat dirinya bernasib seperti ini. *** “Frey, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Celesse ketika melihat temannya itu seperti sedang menahan sesuatu. Seperti biasa, keduanya berada di kursi dekat kolam renang. Frey yang mendapat pertanyaan seperti itu pun langsung memusatkan dirinya kepada Celesse. Seketika Frey pun menangis, Celesse dengan sigap langsung memeluk tubuh temannya itu. Celesse tidak paham kenapa Frey bersikap seperti ini. Celesse mengusap pelan punggung Frey agar tenang, terbukti tangisannnya mereda dengan pelukan yang mulai keduanya longgarkan. Celesse tertawa kecil ketika melihat penampilan Frey yang berantakan. “Kenapa kamu tiba-tiba menangis? Mukamu bertambah jelek. Bagaimana jika Luc mencari gadis lain ketika melihat penampilanmu begini?” canda Celesse. “Itu tidak mungkin, Frey. Jika Luc mencari gadis lain, aku akan membunuhnya lebih dulu,” jawab Frey di mana Celesse mengira jika temannya sedang bercanda, padahal itu benar adanya. “Terus ... kamu kenapa tiba-tiba menangis?” desak Celesse. “Aku membenci gadis itu, Cele,” jelas Frey dengan mata yang berkilat. “Aku tidak bisa berhenti memikirkan segala perkataan dia tentangmu. Dia menjelekkan dan memfitnah dirimu di depanku. Aku benar-benar muak dan ingin menghabisinya saat itu juga,” sambung Frey dengan mata yang penuh dengan amarah. “Hei, siapa yang kamu maksud, Frey?” “Jessica, sepupu jahatmu itu,” ungkapnya membuat Celesse terkejut ketika tahu bahwa Jessica adalah sepupunya. “Sudahlah, Frey, jangan kamu terlalu fikirkan perkataannya.” “Tapi dia memfitnahmu, Cel. Dan aku tidak suka itu,” balas Frey. Celesse pun tersenyum mendengar kekhawatiran dari temannya ini. “Aku tidak apa-apa. Lagi pula kamu pun tahu kalau aku bukanlah seperti yang dia katakan. Kamu jangan memikirkannya lagi, bisa-bisa kamu nanti sakit,” katanya penuh dengan perhatian. Frey pun beruntung bisa berteman baik dengan gadis ini. “Beruntung sekali Axele bisa mendapatkan gadis sebaik dirimu, Cel,” gumam Frey membuat gadis ini mengernyit bingung. ____ Tinggalkan jejaknya ><
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN