BAB 15

1272 Kata
Sejak kedatangan keduanya di rumah keluarga Dimitri tidak ada yang mau mengeluarkan suara. Sudah setengah jam lamanya, tetapi kedua orang ini hanya diam membisu dan berkelana dalam pikiran masing-masing. Ditambah lagi di dalam rumah ini hanya ada mereka berdua, membuat Celesse sedikit gugup karena tidak tau harus berbuat apa ditambah lagi pertemuan antar keduanya tidak begitu baik di mata Celesse sendiri. “Emm, Axel, bolehkah aku bertanya?” Celesse memberanikan dirinya, namun pria itu hanya diam dengan mata yang menatap tajam gadis ini. Tentunya nyali Celesse menjadi ciut. “Apa?” Akhirnya pria ini mengeluarkan suaranya juga. “Itu ... tadi ... aku tidak paham. Sebelumnya kita berada di kampus, dan tiba-tiba kita berada di rumah. Aku bingung.” Ternyata sedari tadi Celesse memikirkan tentang apa yang terjadi hari ini. Sikap pria itu yang aneh di kampus, ditambah lagi ketika mereka sudah di dalam rumah yang padahal seingatnya mereka masih di kampus dengan Jessica yang tergeletak di lantai. Mengingat hal itu membuat gadis ini menjadi khawatir. “Aku tidak memiliki jawaban untuk pertanyaanmu. Kau boleh bertanya pertanyaan lainnya,” jawab Axele yang tentu saja terdengar menyebalkan. “Jessica ... apakah dia baik-baik saja?” tanya gadis ini lagi. “Untuk apa kau menanyakan gadis gila itu?” sembur Axele. Dia sudah menahan tubuhnya untuk tidak meremukkan Jessica yang dengan berani menyakiti Celesse tadi. “Aku ... aku khawatir dengannya. Tadi dia terjatuh,” lirih Celesse yang masih didengar oleh pria yang duduk di depannya. Axele menutup kedua matanya, dia tidak habis pikir dengan sang mate yang masih mengkhawatirkan orang yang telah menyakiti dirinya. Axele sendiri tidak yakin kenapa bisa memiliki mate sebaik Celesse di mana dirinya selalu kejam kepada siapa pun. “Dia baik-baik saja. Rey akan mengurusnya,” jawab Axele pada akhirnya. Celesse pun mengembuskan napas lega. Melihat hal itu membuat si pria menjadi gelisah ditambah lagi rasa sakit di dadanya kembali menyerang membuat dia sedikit meringis. Untuk bisa berdekatan saja dirinya harus menahan rasa sakit itu. “Axel, kamu kenapa?” pekik gadis itu yang sedikit membuat Axele terkejut dibuatnya. “Tidak apa-apa,” jawab Axele dengan raut wajah tenang, akan tetapi dia sudah tidak bisa menahan rasa sakit itu. Celesse yang melihat pria itu meringis lagi pun bertambah khawatir, dengan cepat gadis ini pun beralih tempat duduk tepat di sebelah Axele. “Apakah ketika kita pulang tadi kamu terluka?” tanyanya menunjukkan raut wajah khawatir. Axele pu tertegun di tempatnya. Kedekatan mereka membuat dirinya menjadi gugup, sama seperti saat tadi ketika dirinya memeluk tubuh mungil sang mate. “Axel? Kamu mendengarku?” tanya Celesse membuyarkan lamunannya. “Tidak apa-apa, dadaku sering sakit beberapa hari ini,” ungkapnya jujur. “Kenapa tidak kamu periksakan ke dokter? Siapa tau kamu memiliki riwayat penyakit jantung. Itu bahaya banget. Apakah aku harus melaporkan ini kepada Mr. Martin?” serbu gadis ini membuat Axele merasa beruntung bisa ditakdirkan dengan mate sebaik Celesse. “Mereka sudah tau,” jawab Axele lagi. “Kenapa mereka tidak bertindak? Atau kamu mau aku temani ke dokter?” tawarnya. Axele menggeleng. Hanya ada satu obat yang bisa menyingkirkan rasa sakit ini, yakni keberadaan Celesse yang harus jauh dari Axele. Tentu saja Axele membenci takdir yang dia miliki. “Ada cara agar rasa sakitnya bisa hilang,” papar pria itu dengan serius. “Apa? Kamu butuh obat? Aku bisa belikan di apotik.” “Bukan. Kau ... kau harus menjauhiku, Celesse,” ungkap Axele yang untuk pertama kalinya memanggil nama sang mate. Jawaban dari pria ini tentu saja membuat Celesse tertegun di tempatnya. Apakah Axele mengusir dirinya. Axele pun tahu jika dia terdengar jahat, tetapi mau bagaimana lagi. “Oh ... emm, baiklah,” balas Celesse dengan lesu. Dengan cepat gadis ini pun berdiri dari duduknya, dia akan ke kamar saja jika memang Axele bisa sembuh dengan dirinya yang menjauh. Baru saja gadis itu akan beranjak, Axele dengan cepat menarik tangan Celesse yang membuat tubuh gadis itu jatuh tepat di pangkuan pria ini. Mata Celesse pun membulat sempurna dengan gerakan tiba-tiba yang dilakukan Axele, ditambah lagi benda kenyal yang sedikit basah hinggap di bibir manisnya. Tubuh Celesse benar-benar kaku, sedangkan Axele masih terus menikmati rasa manis bibir sang mate untuk pertama kalinya. Dan ajaibnya, rasa sakit di d**a pria ini perlahan tidak sesakit biasanya, meskipun masih ada rasa sakit sedikit. Axele pun menjauhkan wajahnya dan menatap lekat Celesse yang hanya diam. Dengan gerakan pelan, Axele mengelus pipi gadis itu membuat Celesse langsung tersadar dan refleks beranjak dari pangkuan pria ini. Pipi gadis ini seketika memerah, dan dengan cepat pula Celesse berlari menuju ke dalam kamarnya. Axele yang melihat gadis itu nampak malu pun hanya bisa tertawa kecil, gadis yang pemalu. Axele pun nampak mengernyit tatkala rasa sakit yang tiba-tiba berkurang ketika dirinya mencecap bibir Celesse. Aneh. Di dalam kampus nampak Reynart, Luc, serta Frey yang berada di ruang perawatan di mana Jeesica masih belum tersadar dari pingsannya. Tidak berapa lama, terlihat jika mata gadis itu bergerak-gerak membuat ketiganya pun tahu jika sebentar lagi mata itu akan terbuka. Jessica mulai menyesuaikan penglihatannya, tubuhnya terasa sakit ditambah lagi kepalanya pun sedikit pusing. Yang dia lihat pertama kali adalah keberadaan Reynart, Luc, serta Frey. Jessica dengan dibantu oleh Frey mulai duduk di ranjang tempat perawatan, gadis itu masih memegang kepalanya. “Obatmu ada di meja, minumlah agar pusingnya sedikit reda,” jelas Reynart. “Terima kasih,” balas Jessica. Dia pun mencoba mengingat hal yang terjadi, dia ingat sedang bersama Celesse, tetapi tiba-tiba saja tubuhnya terhempas dan Jessica melihat Celesse yang berada di dalam pelukan Axele. Kemudian, Jessica tidak mengingat apa pun. “Celesse ... dia—” “Dia sudah pergi bersama Axele,” jelas Luc. “Kenapa dia bersama kalian? Apakah kalian mengenalnya?” tanya Jessica. Jika benar mereka mengenal Celesse, itu artinya sepupunya bisa saja sudah membeberkan segala tindakan ibunya dan Jessica selama ini. Tentunya hal itu akan berdampak buruk kepada image dirinya di kampus. “Ya, dia teman kami,” jawab Luc. “Tapi, kenapa kau mengenal Celesse juga?” tanya Luc kemudian. “Dia adalah sepupuku,” terang Jessica membuat ketiganya seketika terdiam, terlebih lagi Frey yang sudah menjaga jarak dengan gadis ini. Dia sudah mendengar banyak cerita dari Celesse mengenai bibi dan keluarganya, dan Frey pun tahu jika Jessica tidak sebaik kelihatannya. “Kenapa kalian bisa berteman dengannya? Dia bukanlah gadis-gadis baik jika kalian perlu tau,” ujar Jessica yang mulai melancarakan segala fitnahnya mengenai Celesse. “Apa maksudmu?” tanya Reynart. “Dia gadis yang gila. Kalian jangan tertipu dengan wajah polosnya itu. Dia sudah tinggal bersama keluargaku sejak lama. Dan perilakunya di rumah benar-benar membuat keluargaku terganggu. Dia dikeluarkan dari kampus karena pernah ketahuan memiliki hubungan dengan dosen yang sudah punya istri, belum lagi dia juga suka keluar malam dan datang pagi hari. Ibuku sudah menasihatinya, tetapi dia malah membentak ibuku,” ungkap Jessica yang tentunya hanya kebohongan semata. “Kau!” pekik Frey keras karena tidak suka dengan perkataan Jessica di mana gadis itu memfitnah Celesse di depan mereka. Melihat respons Frey membuat Jessica mengernyit. “Kau kenapa, Frey?” “Harusnya aku yang bertanya kau kenapa? Kau benar-benar gadis yang busuk, Jes!” seru Frey dengan mata yang berkilat marah. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.” “DASAR LICIK! KAU DAN KELUARGAMULAH YANG MENYIKSANYA. BISA-BISANYA KAU MEMFITNAH CELESSE DI DEPANKU!” teriak Frey dengan keras membuat Luc harus bersusah payah menenangkan sang mate, jika tidak maka Frey bisa saja berubah saat ini. Frey yang akan menyerang Jessica pun dengan cepat dibawa keluar oleh Luc. “Aku tunggu di parkiran. Biarkan saja Jessica diurus oleh teman-temannya,” kata Luc menghubungi Reynart lewat telepatinya. “Maaf, Jes, kau bisa sendiri, bukan? Aku harus pergi sekarang,” ucap Reynart kepada gadis yang masih di atar ranjang itu. Melihat Reynart yang akan pergi membuat Jessica mau tidak mau mengangguk. Kepergian Reynart, Luc, serta kemarahan Frey membuat Jessica bertanya-tanya. Apa mungkin Celesse sudah menceritakan semuanya kepada mereka? Jika tidak, kenapa Frey bisa sampai semarah itu? Frey merutuki keberadaan sepupunya itu, dia harus segera menceritakan kepada sang ibu mengenai Celesse yang tidak jadi mati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN