BAB 14

1032 Kata
Seperti apa kata Mr. Martin, Celesse akan mulai kuliah hari ini. Gadis itu berangkat satu mobil dengan Frey dan Luc. Sedangkan Reynart bersama dengan Axele. “Apakah kau yakin untuk melakukan ini, Axele?” tanya Reynart dengan mata yang fokus ke jalanan. “Hm. Jagalah dia selagi di kelas. Aku akan menjaganya dari jauh,” ungkap Axele. Mereka telah mengatur jika Calesse akan satu kelas dengan Rey, Luc, serta Frey, akan tetapi Axele tidak bisa bersama mereka. Untuk itulah Axele memilih diam-diam menjaga matenya dari jarak jauh. Mobil Reynart pun terparkir tepat di samping mobil Luc. Dan tentu saja Celesse masih menghindari Axele karena takut dengan tatapan pria itu. Tanpa banyak berkata pun Axele langsung pergi meninggalkan mereka membuat Celesse semakin sadar bahwa pria itu membenci dirinya. Frey yang merasakan jika Celesse tidak merasa nyaman pun langsung menggandeng tangan gadis itu membuat Luc berdecak kesal karena sejak kehadiran mate temannya itu membuat intensitas kebersamaan mereka berkurang. Luc berharap Axele bisa segera bersatu dengan Celesse. “Cele, nanti kamu kupinjami catatanku,” ujar Frey di tengah mereka berjalan bersama. Dari kejauhan Jessica melihat keberadaan Reynart dan teman-temannya membuat Jessica mengernyit tatkala ada sosok gadis yang berjalan bersama mereka. Bola matanya semakin membulat tatkala menyadari jika sosok itu adalah Celesse. Tanpa menunggu lama, Jessica berjalan ke arah mereka dan mengabaikan teriakan teman-temannya. “Terima kasih, Frey.” “Kamu terlalu banyak mengatakan terima kasih kepadaku, Cele. Sudah aku bilang kalau kamu adalah temanku, jadi sudah seharusnya aku membantumu,” kata Frey membuat hati Celesse menjadi menghangat. “Cele!” Panggilan yang tiba-tiba itu membuat keempat orang di sana langsung menolehkan kepala mereka ke depan. Tubuh Celesse pun tiba-tiba menegang, Frey menyadari hal itu dan dia nampak bingung ketika Jessica mengenali gadis ini. “Jes-sica,” gumam Celesse dengan tubuh bergetar. Sepertinya Celesse lupa jika ini adalah kampus yang sama tempat sepupunya itu belajar. Bagaimana Celesse baru menyadarinya sekarang? Efek kebaikan yang keluarga Dimitri lakukan kepadanya membuat dirinya lupa. “Kau ... kenapa kau bisa ada di sini?” serbu gadis itu langsung membuat Celesse gugup. Apakah Jessica akan memberitahu bibinya jika dirinya masih hidup? “Jessica, kamu mengenal Celesse?” tanya Luc yang baru membuka suaranya. Sejauh ini Reynart hanya sebagai pengamat. Jessica yang menyadari jika Celesse bersama Reynart, Luc, dan Frey pun nampak bingung. Tidak ingin mereka tahu mengenai hubungannya dengan Celesse, gadis itu langsung menarik tangan Celesse agar mengikuti dirinya. “Hei, kamu mau bawa ke mana Celesse?” teriak Frey yang tidak dihiraukan oleh Jessica. Frey pun nampak khawatir, tetapi sejauh dia mengenal Jessica, gadis itu tidak mungkin menyakiti orang lain. “Aw!” pekik Celesse ketika tubuhnya bertubrukan dengan dinding keras kampus. Celessse memperhatikan sekitarnya, di sini nampak sepi dengan pohon-pohon yang tumbuh menjulang. “Kau,” tunjuk Jessica tepat di depan muka Celesse membuat gadis itu langsung menutup kedua matanya. “Kenapa kau masih hidup, hah? Dan kenapa kau berada di sini bersama Rey dan teman-temannya? Apa yang kau lakukan?” tanya Jessica bertubi-tubi. Dia bersumpah jika sang ibu telah mengatakan jika Celesse telah tiada. “Aku ... mereka menyelamatkanku, Jessica,” ungkapnya membuat Jessica menggeram tidak suka. Dengan cepat Jessica menarik rambut panjang milik Celesse yang membuat gadis itu meringis kesakitan. “Jessica ... sa ... kit,” lirih Celesse. “Kau memang sialan, Cele. Seharusnya kau mati! Kenapa kau masih hidup, hah! Aku tidak akan tinggal diam. Akan aku katakan kepada ibu agar kau cepat menghilang dari muka bumi ini,” geram Jessica yang ia tekankan di setiap ucapannya. Celesse menggeleng pelan dengan rasa sakit di kepalanya yang dia tahan. “Tidak, Jessica, jangan lakukan itu. Aku mohon,” pinta Celesse dengan mata yang sudah berkaca-kaca. “Aku benar-benar membencimu sejak dulu, Celesse. Seharusnya kau tidak ada di dunia ini. Aku benar-benar membencimu, dan memang lebih baik kau mati dan tiada!” sentak Jessica membuat Celesse semakin menggeleng cepat. Sret Bugh Tubuh Jessica terpental ke dinding yang membuatnya mengaduh kesakitan, dan diikuti oleh tarikannya di rambut Celesse yang terlepas. Melihat sepupunya kesakitan membuat Celesse terkejut dan khawatir. “Jes-sica—” “BERHENTI!” Nada suara yang penuh dengan perintah yang tidak bisa dibantah itu membuat Celesse seperti terhipnotis dan dia diam di tempat. “A-xele,” lirih Jessica di tengah-tengah kesadarannya. Jessica tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya sehingga ia terpental keras ke dinding. Celesse terkejut mendapati keberadaan pria itu, akan tetapi Celesse bertambah terkejut tatkala Axele menariknya ke dalam dekapan tubuh pria itu. “Kau aman,” bisik Axele dengan tatapan dingin yang ia hunuskan kepada Jessica di mana gadis itu terkapar di bawah lantai. Ada rasa nyaman yang menyelimuti diri Celesse hingga tanpa sadar dirinya memeluk tubuh keras Axele. Luc, Rey, serta Frey nampak terkejut ketika melihat Jessica yang pingsan dan Celesse yang berada di dekapan pria itu. “Bereskan,” titah Axele yang diangguki oleh Rey dan Luc. Mendengar suara itu membuat Celesse tersadar dan kembali ke dunia nyata. Dengan kekuatan kecil yang dia punya, gadis ini mencoba menjauh dari dekapan Axele membuat pria itu malah menggeram dan kembali menenggelamkan kepala Celesse di dadanya. “A-xele ... bisakah ... kamu melepaskan ... ku?” tanya Celesse gugup karena saking dekatnya jarak mereka. “Tidak,” jawab Axele cepat. “Tapi, aku harus—” Tanpa berniat mendengar perkataan gadis ini lagi, Axele dengan cepat menggendong Celesse dan membawanya pergi dari sana membuat gadis itu terkejut dengan apa yang terjadi. Reynart yang melihat kepergian Axele hanya bisa mengembuskan napas lelahnya karena pria itu mengeluarkan kekuatan vampirnya di depan Celesse di mana itu akan menimbulkan berbagai pertanyaan di kepala gadis itu. “Apa yang dia lakukan?” tanya Frey tak mengerti dengan keadaan. Dia menghampiri Jessica yang tak sadarkan diri bersandar di tembok kampus. “Axele menggunakan kekuatannya kepada Jessica,” jela Reynart mengundang keterkejutan di wajah Frey. “Kenapa dia melakukan itu? Bukankah Mr. Martin sudah mengatakan jika tidak ada kekuataan di dunia manusia?” serunya. “Sayang ... Axele mencoba menjaga matenya dari gadis ini. Tidakkah kamu sadar jika Jessica telah mencoba melukai Celesse.” “APA?” pekik wanita ini. “Luc ... bawa Jessica ke tempat perawatan,” perintah Reynart yang langsung mengundang tatapan kesal di wajah sang sahabat. “Kenapa aku? Kenapa tidak kau saja? Di sini ada Frey. Jika dia cemburu karena aku menggendong Jessica, maka itu menjadi urusanmu, oke?” “Jangan coba-coba untuk menyentuhnya!” peringat Frey dengan cepat tatkala Luc hendak menyentuh tangan Jessica. Luc pun tersenyum senang dan sedikit mundur beberapa langkah. Melihat hal itu Reynart memutar bola matanya malas. Dia terjebak oleh pasangan ini lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN