BAB 13

1207 Kata
Celesse bingung, haruskah dia turun atau tetap berada di dalam kamar? Di bawah sana di mendengar sayup-sayup suara ramai di ruang keluarga Dimitri. Pasti semua orang sedang berkumpul, akan tetapi Celesse takut dengan tatapan yang diberikan oleh pria bernama Axele itu. Lamunan Celesse pun terhenti tatkala pintunya tiba-tiba saja diketuk. Celesse pun membukanya dan ternyata Frey. “Kamu tidak turun, Cele?” tanya Frey membuat gadis ini dengan cepat menggeleng. “Kenapa?” tanya Frey lagi. “Tidak apa-apa, Frey. Aku di dalam kamar saja,” jawabnya membuat Frey memicing curiga. Pasti ada apa-apa pada gadis ini. Frey yang enggan menerima penolakan pun dengan cepat menarik tangan Celesse untuk keluar kamar. Terlihat gadis itu menolak untuk turun, akan tetapi Frey tidak akan membiarkan Celesse sendirian. Setelah mendengar cerita kehidupan gadis ini membuat Frey sadar jika Celesse butuh teman. “Akhirnya kamu turun juga, Nak,” ujar Mrs. Martin membuat Celesse menampilkan senyum canggungnya. Frey membawa gadis itu untuk duduk tepat di sebelahnya di mana ada Luc yang berada di sisi Frey yang satunya. Celesse memandang satu persatu penghungi ruangan ini dan dia bersyukur ketika tidak mendapati sosok Axele. Hal itu tentu saja tidak lepas dari pandangan Frey yang paham alasan gadis ini enggan untuk turun tadi. “Oh iya, Cele. Apakah kamu ingin kuliah?” tanya Mr. Martin tiba-tiba membuat semua orang di ruangan itu menoleh kepada Celesse. Celesse kembali gugup. “Emm, tidak, Mr. Saya tidak punya cukup uang untuk kuliah,” jawab Celesse. “Tidak apa-apa, Nak. Jika kamu ingin kuliah, aku akan membiayai kuliahmu. Belajarlah yang rajin dan kejar cita-citamu,” ucap Mr. Martin membuat Celesse tertegun di tempatnya. “Kamu bisa kuliah di kampus yang sama dengan Axele, Luc, Rey, serta Frey,” lanjut Mr. Martin lagi membuat Frey memekik senang. “Kehidupan kalian benar-benar menyenangkan. Huft, apa hanya aku yang sendirian di sekolah?” sela Vera yang sejak tadi hanya mendengarkan. Vera cukup iri dengan Reynart serta teman-temannya apalagi ada tambahan Celesse juga. Jika bisa, Vera ingin memiliki teman seperti mereka. “Bersabarlah, Vera. Aku yakin kamu bisa menemukan teman yang benar-benar memahamimu,” sahut Frey penuh keyakinan. Hal itu hanya membutuhkan waktu. Vera pun memilih diam dan menyibukkan diri dengan ponsel pintar miliknya. “Terima kasih, Mr. Jika nanti saya sudah mendapatkan pekerjaan dan penghasilan, saya akan mengganti semua biaya yang Mr. Martin keluarkan,” kata Celesse kepada pria paruh baya yang baik hati ini. “Tidak perlu, Nak. Saya senang membantu anak-anak yang memiliki tekad untuk belajar dan meneruskan pendidikannya. Kamu cukup fokus dengan kuliah dan cita-citamu saja,” timpal pria itu membuat Celesse kembali terdiam. Dia benar-benar beruntung bertemu keluarga sebaik mereka. Berbeda dengan Celesse yang menghabiskan waktu mengobrol bersama keluarga Dimitri, terlihat dua orang pria sedang berada di area perpustakaan kecil milik keluarga ini. Mereka adalah Axele dan Reynart. Axele terpaksa memilih berada di tempat yang sering Reynart kunjungi karena dia tahu kalau Celesse tidak akan turun ke bawah jika ada dirinya. Lagi pula Axele tidak bisa berdekatan terlalu lama dengan gadis itu. “Jika kau ingin melihatnya, lebih baik bergabunglah bersama mereka,” ucap Rey tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tebal yang dia baca saat ini. Dia bisa merasakan jika temannya ini tampak gelisah, tentu saja apa lagi penyebabnya jika bukan Celesse. “Aku tidak bisa terlalu lama berdekatan dengannya,” papar Axele yang sudah diketahui oleh Reynart juga. Rasa sakitnya masih terus ada. Dan Axele belum bisa menemukan cara selain meminum darah pasangannya itu. “Jika kau bisa menahannya tidaklah masalah,” balas Reynart yang tentu saja hal itu mustahil. “Bagaimana denganmu? Apakah kau sudah menemukan ramuan agar aku bisa berdekatan dengannya tanpa merasakan sakit?” tanyanya. “Ilmuku tidak akan cukup untuk melakukan itu, Axele. Lagi pula aku belum pernah menemukan ramuan seperti itu juga. Aku akan berbicara dengan Ayah segera,” terang Reynart. “Dari pada ramuan, aku memiliki cara ampuh agar kau bisa tetap berbicara dengannya tanpa perlu berdekatan,” sambung pria itu membuat Axele menatap minat ke arah Reynart. Terlihat Reynart yang merogoh sakunya dan mengeluarkan benda persegi panjang dari sana. “Ponsel?” tanya Axele yang diangguki cepat oleh Reynart. “Aku rasa dia cukup familiar dengan benda ini. Kamu minta saja nomer ponselnya,” usul Reynart. “Baiklah. Tapi ... tidak bisakah kau atau Luc yang memintanya?” Reynart memandang temannya itu dengan raut wajah datar. “Jadilah gantle. Meskipun kau merasakan sakit ketika bersamanya, kau harus bisa menahan rasa sakit itu sebentar. Dan lagi pula, apa yang aku katakan jika dia bertanya kenapa nomernya aku berikan kepadamu?” seloroh Reynart yang masuk akal juga. “Baiklah, aku akan memintanya sendiri,” putus Axele kemudian. Celesse dan Frey nampak sibuk di dapur untuk mencuci beberapa piring dan gelas yang tadi dipakai di ruang keluarga. Celesse seperti sudah nyaman sekali berdekatan dan berbagi banyak cerita dengan Frey. Bahkan sepertinya kehadirannya diterima oleh keluarga baik ini. “Apakah Vera selalu bersikap seperti itu?” tanya Celesse yang kebagian tugas mengelap piring dan gelas yang sudah Frey cuci. “Ya, dia memang gadis yang banyak bicara serta periang. Akan tetapi, dia juga sering cerita jika di sekolah dia tidak memiliki teman yang baik. Katanya kebanyakan hanya memanfaatkan dirinya,” jelas Freya membuat gadis itu mengangguk paham. “Frey.” Sebuah suara di pintu dapur membuat kedua gadis di sana refleks menoleh. Frey mengernyit tatkala melihat keberadaan Axele, bukankah pria itu tidak bisa berdekatan dengan Celesse. Frey melirik Celesse yang hanya menunduk karena kedatangan pria itu. “Apa?” “Kau dipanggil Luc,” jelas Axele singkat dengan pandangan yang terus terarah kepada gadis di sebelah Frey itu. “Cele, kamu bisa melanjutkannya sendirian, kan? Aku akan segera kembali jika urusan dengan Luc selesai,” ucap Frey kepada Celesse. Sebenarnya Celesse ingin mencegah kepergian Frey, akan tetapi dia tidak memiliki keberanian karena keberadaan Axele yang tetap pada tempatnya. Setelah kepergian Frey, Celesse mencoba menyibukkan diri untuk melanjutkan pekerjaannya di mana sepertinya pria itu belum pergi dari tempatnya. Sejak tadi Axele pun mati-matian menahan rasa sakit itu. Dia harus kuat untuk sekarang. Dengan langkah tegas, pria ini pun berjalan menuju ke tempat Celesse berdiri. Setelah diamati, ternyata Celesse hanyalah setinggi d**a pria itu. “Hei kau,” panggil Axele. Celesse dengan berat hati pun berbalik akan tetapi kepalanya tetap menunduk. Dia tidak berani menatap mata pria ini yang selalu tajam apalagi kepadanya. “Bisakah kau tidak terus menunduk?” protes Axele dengan geraman kesalnya. Apakah gadis ini sebegitu takutnya kepada dirinya? Axele dengan gerakan pelan memberikan ponselnya, terlihat Celesse mengernyit tidak mengerti. “Ini apa?” tanyanya. “Ck, ini ponsel. Apakah kau tidak tau kalau benda ini namanya ponsel?” serbu Axele. “Aku tau ini ponsel, tapi untuk apa kamu berikan kepadaku?” tanya Celesse mencoba bersabar. “Berikan nomermu,” kata Axele denga nada memerintahnya. “Aku tidak punya,” jawab Celesse jujur. Ponselnya sudah tidak ada ketika dirinya dibuang ke jurang saat itu. “Ponselku sudah jatuh ke jurang,” jelasnya kemudian. Axele pun baru mengingatnya. “Ambillah ponsel ini,” kata Axele dengan tangan yang masih menyodorkan ponsel untuk Celesse. “Eh? Tidak usah, terima kasih. Aku sedang tidak butuh ponsel, kok,” tolak Celesse. Geram karena tidak kunjung diterima, Axele pun dengan paksa menarik tangan Celesse dan meletakkan ponselnya di genggaman gadis ini membuat Axele tertegun karena bisa menyentuh matenya untuk pertama kali meskipun dengan rasa sakit yang harus ia tahan mati-matian. “Aku tidak suka dibantah. Aku akan menghubungimu nanti,” ucap Axele cepat yang kemudian segera keluar dari dapur. Celesse menatap ponsel di tangannya dengan kening berkerut. Apa-apaan pria itu? Kenapa dia memberinya ponsel? Padahal Celesse sudah menolaknya. Dasar pemaksa!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN