BAB 10

1466 Kata
Malam tiba begitu dengan cepat. Axele, Luc, dan Frey sudah berada di pinggiran hutan, sedangkan Reynart benar-benar tidak ikut. Bahkan ketiganya pernah memaksa pria itu untuk ikut, namun Rey tidak pernah mau dan beralasan bahwa dirinya diperintahkan Martin untuk mempelajari beberapa mantra. “Bagaimana jika kita taruhan?” usul Luc. Pria itu selalu saja memiliki ide gila ketika mereka sedang berburu seperti ini. “Tidak, aku sedang malas taruhan,” balas Axele. “Katakan saja kalau kau pecundang,” ujar Luc. Frey pun tertawa mendengar perdebatan kecil kedua pria itu. Axele pun menatap Luc dengan tajam yang mana membuat temannya itu meringis. “Oke, baiklah kita tidak akan taruhan,” putus Luc yang tidak ingin dibabat habis oleh calon raja kerajaan vampir itu. Axele pergi dulu meninggalkan Luc dan Frey di belakangnya. Setiap hari dirinya harus terjebak dengan pasangan serigala ini yang selalu menebar kemesraan di depannya. Lihatlah, jika Axele sudah menemukan pasangannya, dia akan menebar kemesraan juga tepat di depan Luc, Frey, dan Reynart, atau bahkan semua orang. Axele sudah hampir memasuki tengah hutan itu di mana terdengar hewan-hewan nokturnal mulai aktif. Namun, langkah kakinya terhenti ketika mencium bau aneh terlebih lagi dadanya terasa sakit. Axele memegang bagian dadanya, ada apa ini? Melihat pergerakan temannya yang terhenti membuat Luc menghampiri Axele, terlebih lagi pria itu seperti menahan sesuatu di dadanya. Ini bukanlah kali pertama ia merasakannya. Rasa sakit itu terus datang ketika dirinya tidur dan beberapa kali bermimpi ada seorang wanita yang meminta tolong kepadanya. “Ada apa?” tanya Luc diikuti oleh Frey yang berada di belakangnya. Axele menatap temannya itu dengan pandangan yang sulit diartikan, dia pun menunjuk dadanya yang sakit. Luc pun paham. “Kita batalkan berburu dan kembali ke rumah,” putus Luc. Pria itu membantu Axele dengan memapahnya, namun pandangannya terhenti ketika tak melihat keberadaan Frey. Ke mana wanita itu pergi? “Frey!” panggil Luc. Decakan keluar dari mulut Luc. “Kau masih kuat, kan? Kita harus mencari Frey sebelum pulang,” tanya Luc kepada temannya. Axele hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dengan kekuatan yang Luc miliki, dia pun segera mencari keberadaan mate-nya menggunakan indra penciumannya yang tajam dengan keadaan yang masih memapah Axele juga tentunya. “Frey!” panggil Luc dengan keras ketika mendapati wanita itu berada tepat di bibir jurang. Luc pun meninggalkan Axele bersandar di pohon dan dia berlari dengan cepat menyeret Frey menjauh dari tempat itu. “Apa yang kamu lakukan?!” sentak Luc dengan nada tinggi. Frey pun kemudian tersadar, dia tak tahu kenapa dirinya nekat ke tempat ini. “Ma-af,” jawab Frey sedikit takut. “Aku ... aku mendengar seseorang di sana,” ujarnya yang kemudian menujuk ke arah jurang. Luc pun berdecak kesal. Bahkan Frey tidak sadar jika dia berada di tempat berbahaya. Entah mengapa tadi dia tidak memiliki kesadaran penuh. “Jagalah Axele di sana, aku akan mengecek ke jurang itu,” perintah Luc yang dilaksanakan oleh Frey. Wanita itu pun menghampiri Axele yang masih terus kesakitan sambil memegang dadanya. “Axele ... kau masih hidup, kan?” tanya Frey yang terdengar konyol. Axele pun tak menjawab karena setiap kali dia mencoba mengeluarkan suaranya, rasa sakit itu kembali datang tiada henti. Luc mulai memeriksa jurang itu, dia menajamkan indra pendengarnya. Terdengar sayup-sayup suara minta tolong, rintihan, dan tangisan. Perlahan Luc menyembulkan kepalanya untuk meneliti lebih dalam jurang itu, seketika matanya membulat penuh kala melihat sosok perempuan yang tersangkut di sebuah pohon. Jurang itu tidak begitu curam, namun memiliki kemiringan yang tidak bisa dianggap remeh. Luc pun dengan cepat menuju ke tempat perempuan itu berada. Keadaan wanita ini tidak begitu baik. “To ... long.” Luc masih mendengar suara itu sebelum kesadaran perempuan yang ia temukan perlahan hilang. Dengan cepat Luc menggendong dan membawanya menuju ke tempat Axele dan Frey. Tepat ketika dia datang, Axele malah terlihat menutup matanya juga. “Aish, kenapa mereka berdua pingsan di saat bersamaan?” keluh Luc. “Sayang ... kamu bisa bantu aku membawa perempuan ini, kan?” tanya Luc kepada Frey yang diangguki oleh wanita itu. Luc dan Frey pun menggunakan kekuatan mereka membawa Axele dan perempuan yang tidak diketahui namanya. Celesse terbangun di sebuah ruangan yang tak ia ketahui di mana. Ruangan yang didominasi warna putih itu membuat kepala Celesse pusing. Apakah dia berada di rumah sakit? Tentu saja tidak, bahkan dirinya tak melihat tangannya diinfus. Hal terakhir yang Celesse ingat adalah dirinya berada di tepi jurang, tentunya itu semua perbuatan sang bibi. Bahkan mengingat hidupnya yang selalu memiliki takdir yang buruk membuat Celesse menjadi sedih. “Kau sudah bangun?” Sebuah suara wanita membuat Celesse terkejut. Gadis itu mencari-cari asal suara tadi, namun yang dia temukan hanyalah warna putih. Dia sendirian, tetapi dari mana suara itu berasal? “Aku adalah sesuatu yang tak terlihat dan tak bisa dijelaskan,” ucap suara itu lagi. “Aku .... Apakah kau bisa memberitahuku di mana sekarang aku berada? Apakah aku sudah mati? Dan apakah ini surga?” tanya Celesse. Mungkin benar apa yang dia pikirkan bahwa dirinya sudah mati setelah jatuh ke jurang saat itu. “Bisa iya, bisa tidak,” jawab suara itu. “Anggap saja ini adalah tempat di mana kamu harus menentukan pilihanmu, Celesse.” Celesse nampak terkejut ketika suara itu mengetahui namanya. “Di sini kamu bisa memilih untuk tetap hidup atau memilih pergi selamanya.” Terlihat Celesse bimbang. “Aku ... aku ingin mati saja,” jawabnya jujur. Sudah lama sekali dia merasakan kepahitan di hidupnya, Celesse sudah lelah mendapatkan perlakuan buruk dari bibinya. “Aku ingin bersama ibu dan ayah,” lirih Celesse yang merindukan kedua orang tuanya. “Jangan terburu-buru, Celesse. Apakah kamu tidak tau ada seseorang yang harus kamu temui di sana?” ungkap suara itu. Celesse pun mengernyit, siapa yang sedang menunggunya? Tidak mungkin sang bibi yang selalu menantikan kematiannya, bukan? “Bukan. Bukan bibimu yang aku maksud. Dia seseorang yang sudah menunggumu sejak lama, Celesse. Dia adalah seseorang yang kamu butuhkan. Dia adalah seseorang yang bisa mengubah seluruh hidupmu,” lanjut wanita itu lagi seolah bisa membaca pikiran Celesse saat ini. “Siapa dia? Apakah aku mengenalnya?” tanya Celesse. “Jika kamu ingin tahu, bangunlah. Temui dia dan tanyakan kepadanya. Kamu tidak akan tau jika tidak bangun sekarang.” Celesse mengangguk, kemudian gadis itu menutup kedua matanya mencoba memusatkan pikirannya. Dia harus segera bangun sekarang. Axele terbangun dari tidurnya keesokan harinya. Pria itu masih memegang dadanya yang terasa nyeri, namun tak sesakit tadi pagi. Hal terakhir yang dia ingat adalah dirinya bersama Luc dan Frey di dalam hutan. Karena saat itu Axele merasakan sakit yang teramat sangat, dia pun menjadi pingsan. Dia adalah vampir, tetapi dia bisa pingsan. Sungguh aneh. Axele beranjak dari tidurnya dan memilih keluar kamar untuk mencari semua orang. Namun, langkah Axele terhenti ketika dia mencium bau aneh yang pernah ia cium di hutan malam itu. Kali ini bau itu semakin kuat dan langkah kaki Axele terhenti di kamar tamu yang tepat berada di samping kamar miliknya. Axele kembali memegang dadanya karena merasakan sakit itu lagi. Karena penasaran akan bau itu, Axele pun membuka knop pintu. Hal pertama yang Axele lihat adalah seorang gadis dengan banyak perban di tubuhnya tengah tertidur lelap. Mata Axele terpaku di sana. Akan tetapi Axele semakin merasakan sakit di dadanya kala melihat gadis itu. Dengan cepat pria ini pun keluar dari kamar tamu itu dan turun ke bawah untuk mencari semua orang. “Kau sudah bangun, Axele?” tanya Luc. Axele menemukan Luc dan Martin di meja makan. Axele hanya mengangguk dengan tangan yang masih memegang dadanya yang nyeri itu. “Mr. Martin, apakah Anda memiliki obat nyeri d**a? Sejak semalam dadaku terasa sakit,” tanya Axele. “Kau aneh,” sahut Luc. “Kau itu vampir, jadi tidak akan merasakan sakit di bagian sana,” sambungnya. “Diamlah,” ujar Axele dengan dingin. “Maaf, Pangeran. Sepertinya tidak ada obat yang mempan dengan rasa sakit yang kamu alami,” jawab Mr. Martin yang membuat Axele bingung. Kemudian datanglah Reynart dan Mrs. Martin. Entah ibu dan anak itu dari mana, Axele tak peduli. “Maksud Anda apa Mr. Martin?” tanya Axele yang mengundang tanda tanya bagi dua orang yang baru datang itu. Mr. Martin menampilkan senyum hangatnya. “Itu adalah efek dari kutukan itu,” jelasnya. Axele pun mengembuskan napas kasarnya, kutukan sialan itu lagi membuatnya kesal. Bahkan dia tidak bisa hidup normal seperti vampir lainnya. “Itu adalah efek ketika kamu berdekatan dengan pasangan hidupmu. Ketika kalian bertemu, kamu akan merasakan sakit di bagian d**a,” lanjut Mr. Martin membuat semua orang memusatkan perhatian mereka kepada pria paruh baya itu termasuk Axele yang terkejut. “Pasangan? Aku tidak—” “Jangan-jangan gadis itu!” seru Luc lebih dulu yang memotong perkataan Axele. Axele pun membulatkan kedua bola matanya. Pantas saja dia tadi merasakan sakit teramat sangat ketika melihat gadis itu. Kutukan macam apa ini sebenarnya? “Ayah, ada apa ini? Bisa Ayah jelaskan semuanya?” tanya Reynart yang tak mengerti apa pun di sini. Mr. Martin mengangguk mengerti, kemudian menatap Axele dengan serius. “Gadis yang terbaring di dalam kamar itu adalah takdirmu. Kalian sudah ditakdirkan untuk bersama, tetapi karena kutukan itu, maka Axele harus merasakan sakit di bagian dadanya ketika bertemu dan berdekatan dengan takdirnya,” terang Mr. Martin. “Aku harus menghubungi Ayah,” putus Axele kemudian yang segera berlalu menuju ke kamarnya. Yuk komen dulu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN