Axele dengan cepat membuka portal menuju ke Kerajaan Vampir. Dia memasuki kerajaan yang didominasi oleh warna emas itu. Terlihat megah dan mewah dan menandakan jika Kerajaan Vampir menjadi penguasa utama di jagat raya ini. Axele segera menuju ke ruang kerja ayahnya, dan tentu saja Raja Baz berada di sana.
“Ada apa kamu pagi-pagi sekali ke sini?” tanya Raja Baz tanpa menoleh sedikit pun dan berfokus kepada kertas-kertas entah apa itu.
“Ayah, aku ingin menanyakan sesuatu,” jawab Axele dengan nada serius miliknya. Mendengar nada serius yang putranya tunjukkan membuat Raja Baz menghentikan aktivitas kerjanya.
“Ini ada hubungannya dengan wanitamu?” tanyanya yang tepat sasaran.
“Ya. Mr. Martin pagi ini mengatakan hal yang tak masuk akal,” kata Axele. “Sejak semalam dadaku terasa sakit, dia mengatakan bahwa ini efek dari kutukan itu di mana aku akan merasakan sakit di bagian d**a ketika bertemu dengan pasanganku,” sambungnya.
Raja Baz mengangguk mengerti. “Itu memang benar, Nak. Ayah sudah mengetahui hal ini dari wizard tertua. Dia lebih dulu mengatakannya padaku,” jelas raja vampir.
“Konspirasi apalagi ini, Yah? Apalagi yang tidak aku ketahui mengenai kutukan itu? Dan bagaimana bisa aku bersatu dengan pasanganku kalau aku saja merasakan sakit ketika berdekatan dengannya?” Sungguh kutukan ini benar-benar membuat Axele geram.
“Wizard tertua mengatakan hanya ada satu agar cara kutukan itu hilang,” tutur Raja Baz.
“Apa itu?”
“Kamu harus meminum darah pasanganmu sendiri,” jelas Raja Baz membuat Axele terkejut hingga dia mundur beberapa langkah.
“Tidak, Yah! Itu tidak mungkin. Dia adalah ma—”
“Manusia,” potong Raja Baz. “Ayah tau itu. Kalau kamu ingin terlepas dari kutukan itu, kamu harus mengigitnya dan meminum darahnya. Hanya itu satu-satunya cara agar kutukan hilang. Dan juga dengan dia menjadi vampir, itu akan membuat hubungan kalian berjalan dengan lancar,” jelas Raja Baz.
“Tidak, Yah. Ayah tidak lupa, kan, kalau kita tidak pernah mencampuri urusan bangsa lain dan tidak boleh memaksa bangsa lain masuk ke bangsa kita. Itu melanggar peraturan,” timpal Axele. Lagi pula dia tidak tega menjadikan gadis itu vampir di mana masa-masa awal menjadi vampir sangat riskan dan menyakitkan.
“Kamu bujuk dia untuk masuk ke bangsa kita. Semua keputusan terserah padamu, Axele. Dia adalah belahan jiwamu, dan kamulah yang berhak menentukan takdir kalian,” kata Raja Baz membuat Axele bimbang dibuatnya. Apa yang harus dia lakukan selanjutnya?
Axele sudah kembali ke rumah keluarga Damitri. Luc dan Reynart yang melihat temannya itu datang dengan raut wajah yang tidak baik dengan cepat menghampiri Axele. “Di mana gadis itu?” tanya Axele disela-sela dirinya masuk ke dalam kamar. Pria ini mengabaikan rasa sakit yang menyerang dadanya lagi.
“Dia masih belum sadar, Frey sedang membersihkan tubuhnya di dalam kamar,” jelas Luc membuat langkah Axele terhenti diikuti oleh kedua temannya ini.
“Mungkin lebih baik jika kau sementara tidak mendekatinya, Axele. Dadamu akan semakin sakit jika terus memaksa berada di dekatnya,” usul Reynart meskipun itu akan sulit terjadi mengingat ikatan antara mate sulit dijauhkan.
Axele memandang Reynart dengan tatapan tidak suka. Temannya terlihat santai, Luc pun mengangguk paham sikap posesif yang Axele tunjukkan.
Luc menepuk pundak Axele pelan. “Tenanglah, ada Frey di sana, dia yang akan menjaga pasanganmu,” papar Luc.
Axele dengan perasaan geram langsung melesat keluar dari rumah itu membuat Reynart yang melihatnya hanya bisa mengembuskan napas kasar. “Tenanglah, Rey, dia baru pertama kali, jadi wajarlah,” sahut Luc yang diangguki oleh temannya.
***
“Dia masih belum bangun,” lapor Luc yang mendapat panggilan telepon dari Axele.
Temannya itu belum pulang sejak kepergiannya tadi siang. Tentu saja Luc tahu jika alasan Axele menelepon adalah untuk menanyakan gadis itu. Luc sendiri sudah memerintahkan Frey untuk merawat gadis yang belum mereka ketahui namanya itu.
“Aku akan pulang sekarang,” putus Axele yang langsung mematikan ponselnya membuat Luc di seberang sana memandang gemas dengan tingkah temannya itu.
Axele benar-benar tidak mengerti dengan ikatan ini. Dia tidak ingin merasakan sakit itu lagi, satu-satunya cara adalah dengan menjauh dari matenya, akan tetapi bagaimana bisa dia menjauh dari pasangannya sendiri?
Axele memutuskan untuk kembali ke rumah keluarga Dimitri meskipun dirinya harus merasakan sakit itu lagi. Luc sudah memberitahukan hal ini kepada Reynart, keduanya berjaga di depan pintu untuk menungguk kedatangan Axele. Tidak butuh waktu lama bagi pria itu untuk datang karena kekuatan vampir memudahkannya untuk melesat.
“Aku akan menahannya,” tutur Axele menatap keduanya dengan serius. Baik Reynart ataupun Luc tidak bisa menahan keputusan teman mereka. Axele berjalan masuk ke dalam rumah di mana dia berpapasan dengan Mrs. Martin yang tengah mencuci beberapa piring.
“Axele, makanlah dulu, Nak,” kata ibu dari Reynart itu.
“Terima kasih, Mrs. Saya langsung ke kamar untuk istirahat,” jawab Axele yang dengan cepat melesat ke kamarnya.
Sebelum pria ini masuk ke dalam kamar, dia melirik pintu kamar di mana sang mate berada di sana. Axele tidak boleh gegabah, melihat keadaan gadis itu yang tidak baik membuat Axele meyakinkan dirinya jika dia tidak akan mengubah matenya menjadi vampir.
“Axele ....”
Suara seorang wanita masuk ke indra pendengar pria itu. Axele perlahan membuka kedua kelopak matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah cahaya terang di langit, bahkan dia sampai harus menutupi pantulan sinar yang diciptakan dari cahaya itu.
“Siapa kau?” tanya pria ini sebab mendengar cahaya itu memanggil-manggil namanya.
“Kau tidak perlu tau siapa aku. Aku adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh semua makhluk di dunia. Aku adalah penciptamu. Aku adalah raja di atas raja.”
“Raja? Bahkan suaranya mirip dengan wanita."
“Aku bisa mengubah suaraku sendiri,” sahut suara itu lagi, kali ini ia menggunakan suara pria. Sungguh aneh.
“Baiklah, aku akan percaya. Lantas ... kenapa aku bisa berada di sini? Tempat apa ini?” tanyanya tidak sabar.
“Inilah adalah tempat bagi orang-orang spesial yang ingin bertemu denganku. Axele ... kau sudah dalam misi pencarian sejak lama, dan kini misi pencarianmu telah selesai. Saat ini kau harus berjuang demi wanita itu, mate mu,” terang suara dari langit itu lagi. “Dia adalah manusia suci, memiliki jiwa yang murni. Dia adalah wanita yang tangguh dan kuat.”
“Tetapi dia manusia,” ralat Axele cepat.
“Ya, kau benar. Hanya satu yang bisa aku katakan, ada sesuatu yang tidak banyak orang ketahui mengenai dirinya. Jagalah di baik-baik. Aku menciptakan dia untuk menjadi pasanganmu, Axele. Kalian sudah aku ciptakan sejak lama. Takdir telah mempertemukan kalian, kini saatnya bagi kalian untuk berjuang,” katanya.
Axele terdiam, dia yakin jika suara ini memang adalah sang pencipta. “Aku ... aku akan menjaganya,” putus pria ini akhirnya.
“Baiklah, sekarang bukalah matamu dan temui dia, tahan rasa sakit yang ada pada dirimu, Axele. Kau pasti kuat,” nasihat suara itu. Kemudian cahaya yang berada di langit bergerak cepat menuju ke tubuh Axele, membuat tubuh pria itu bersina terang hingga tiba-tiba semuanya menjadi lenyap.