"Hai! Selamat sore, Adena"
"Selamat sore, Mbak"
Aku tersenyum melihat wanita cantik pertengahan usia tiga puluh tahunan ini. Mbak Ratih Purwasih namanya. Ia sudah menjadi konselor ku selama enam bulan terakhir.
Awalnya aku sudah berganti konselor sebanyak dua kali. Yang pertama karena aku merasa pengobatan yang ku jalani sangat biasa sekali. Tidak ada perubahan signifikan selama setahun aku berkonsultasi. Hanya obat-obatan yang selalu diberikan untuk membantu pengobatan.
Yang kedua itu disarankan oleh Miko. Katanya salah satu psikolog terbaik di Jakarta, namun karena konselornya adalah seorang lelaki dan aku kurang nyaman ketika bercerita. Kuputuskan untuk mencari lagi psikolog yang berbeda.
Dan untuk konselor ku kali ini, Mbak Ika yang merekomendasikannya. Ia adalah teman Mbak Ika, dan ia juga humble sekali sama seperti Mbak Ika. Hal inilah yang membuatku nyaman sekali mencurahkan isi hatiku padanya.
Tips-tips yang ia berikan selalu mudah untuk ku terapkan. Dan itu selalu berhasil membuatku pelan-pelan menjadi sedikit lebih baik ketika berhadapan dengan pria.
Adapun ucapan beliau yang sangat aku ingat adalah : "Ingat, Aden, selama pria itu belum mengucapkan kata 'aku cinta kamu' atau 'aku suka kamu' ke Aden. Kamu jangan panik Aden, sayang. Kalau cuma kode-kode abstrak mah ga usah dipikirin. Kalau cowok baik sama kamu, itu karena emang dia baik. Jadi ga usah khawatir kalau mereka suka kamu. Nikmati saja kebaikannya"
Dan tips itu berhasil sekali mengurangi kegundahanku. Dulu, pria berbuat baik padaku saja sudah hampir membuatku frustasi. Aku takut kebaikan yang pria-pria itu tunjukkan padaku hanyalah untuk awal mendekatiku saja. Sama seperti Rio dulu.
Namun, aku sudah menanamkan kata-kata tersebut dalam hatiku agar tak gampang curiga.
"Tumben kesini tanpa bikin janji. Untung aja saya free jam segini" ucap Mbak Ratih.
"Kayaknya setiap Jum'at sama Sabtu bakal jadi jadwal konsultasi Aden deh Mbak. Kalau Jum'at bakal datang jam segini, nah kalau Sabtu agak menyesuaikan aja nanti"
"Ohh Yaudah.. bagus deh kalau sering datang kayak gini. Semoga makin banyak peningkatan yaa"
"Aamiin. Makasih banyak, Mbak Ratih" aku tersenyum kecil mendengar ucapan terselubung doa yang Mbak Ratih ucapkan. Aku sangat menantikan hari dimana aku bisa sembuh dari penyakit psikis ini. Agar aku bisa kembali mencintai dan percaya pada pria lain yang berniat tulus padaku.
"Eh- Sama temennya, ya?"
"Iya. Vania, Mbak" Vania mengulurkan tangannya sopan mengajak Mbak Ratih berkenalan.
"Ratih" keduanya saling menjabat tangan dan tersenyum satu sama lain.
"Saya sebaiknya tunggu di luar atau tetep disini, Mbak?" Tanya Vania.
"Kamu bisa tanya sama temen kamu ya. Karena kenyamanan temen kamu yang dibutuhkan disini"
"Gapapa Vania disini aja" jawabku santai.
Mbak Ratih mengangguk. Wanita cantik itu lantas berdiri dan menyalakan lilin aromaterapi yang dampaknya makin membuatku relax.
"Seger baunya, ya?" Mbak Ratih kembali duduk di sofa yang biasa ia duduki ketika mengkonseling-ku. Sedangkan aku duduk disofa santai seraya meluruskan kakiku. Juga Vania sudah duduk santai di Bean bag yang terletak disudut ruangan konselor ku seraya memainkan ponselnya.
"Aroma apa Mbak? Enak banget"
"Fruity Breeze. Kalau gitu nanti saya stock yang banyak biar kamu makin semangat konselingnya"
Aku tertawa kecil mendengar ucapan Mbak Ratih. Konselor satu ini memang benar-benar paling jago dalam hal membuat kenyamanan pasiennya.
"Temennya tunggu agak lama gapapa, ya?" Mbak Ratih melihat Vania yang tengah duduk santai di Bean bag seraya tersenyum ramah.
"Santai aja, Mbak" Vania tertawa kecil membalasnya.
"Baik kalau gitu, langsung aja kita mulai ya Aden.." Mbak Ratih mengambil berkas berisi catatan perkembangan kesehatan mentalku beberapa bulan terakhir lalu membacanya sekilas.
"Okay.. Adena Barsha. Jadi gimana seminggu terakhir keadaan kamu? Gejalanya kambuh lagi karena suatu hal? Atau mungkin udah bisa ngatasin rasa cemas sendiri tanpa bantuan obatnya?"
Aku menarik napasku dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum menjawab pertanyaan Mbak Ratih.
"Kadang-kadang bisa, Mbak. Tapi dua hari yang lalu sempet kambuh agak parah"
"Agak parah? Gimana tuh ceritanya"
Aku mulai bercerita mengenai kejadian di cafetaria kantor kala itu. Yaitu Kejadian mengenai Rama yang iseng bertanya bagaimana jika Gaharu menyukai-ku. Setiap detail peristiwa ku ceritakan tanpa terkecuali. Mulai dari bagaimana reaksi tubuhku, reaksi orang disekitarku, sampai dengan bagaimana cara aku bisa menyembuhkan serangan panik, semua ku ceritakan pada Mbak Ratih.
"Memangnya apa yang melatarbelakangi si Rama bilang kayak gitu ke kamu? Kamu deket sama Boss kamu itu karena memang dia baik?" Mbak Ratih menyilangkan kaki kanan dan kirinya seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Wanita itu menatapku dengan tatapan menenangkan sehingga membuatku tak ragu untuk bercerita blak-blakan.
"Enggak deket sih Mbak. Ya selayaknya karyawan sama atasan aja. Boss Aden juga ngeselin banget orangnya. Suka marah-marah, moody-an, everything must be perfect. Pokoknya dalam seminggu paling cuma satu atau dua hari enggak kena omelannya. Sisanya pasti ada aja tingkahnya yang bikin emosi. Aden juga bingung sih kenapa Rama bisa mikir kayak gitu. Rama pure becanda aja kan, Mbak?"
Mbak Ratih tertawa kecil menanggapi penjelasanku.
"Oke.. oke.. jadi kenapa bisa gagal ngatasin Panic attack? Inget pesan saya 'kan?"
Aku mengangguk mendengar pertanyaan Mbak Ratih. Tentu saja aku ingat. Kalimat penenang tersebut merupakan mantra terbaik sejauh ini dalam membantuku mengatasi Panic Attack.
'Sebelum dia bilang dia cinta kamu, dia suka kamu, he crush on you, kamu jangan GR'
"Inget kok. Tapi ga tahu kenapa kemarin enggak ingat apa-apa, Mbak. Makanya sampai sesak gitu d**a Aden saking paniknya" jelasku.
"Okay.. nah kalau dari kamu sendiri gimana?Ada pria yang menarik perhatian kamu 'kah akhir-akhir ini?"
Aku menggeleng pelan menjawab pertanyaan Mbak Ratih.
"Belum Mbak. Aden ga mau buru-buru jatuh cinta lagi. Insyaallah pasti seiring berjalannya waktu, Aden akan nemu orang yang tulus"
"Oke kalau begitu. Jadi saya punya simple meditasi yang bisa kamu praktikan dirumah"
Aku membenarkan posisi dudukku menjadi lebih nyaman lagi, memilih diam saja dengan menyimak penjelasan dari Mbak Ratih se-fokus mungkin.
"Pertama. Kamu harus bisa mensugesti diri kamu sendiri dengan meyakinkan jika orang kayak mantan kamu itu cuma ada satu di dunia ini. Kamu bisa amati dan pikirkan laki-laki baik yang ada dihidup kamu. Lelaki baik yang pernah kamu temui"
"Nah, coba sekarang pikirkan dan sebutkan laki-laki yang pernah kamu temui dan menurut kamu dia itu baik"
"Ayah" ucapku spontan.
"Ada lagi?"
"Uda Roni"
Uda Roni adalah Kakak sulungku yang mengalami kecelakaan kerja, yang pernah ku ceritakan tempo lalu.
"Terus sebutkan" perintah Mbak Ratih.
"Om Airlangga" om-ku yang tinggal di Aceh dan sangat royal padaku. Padahal aku menelepon untuk menanyakan kabarnya saja, tapi lima menit berselang setelah menelpon, tiba-tiba uang di rekeningku sudah bertambah.
"Kinos" Temanku yang waktu itu membantuku dari Rio.
"Sama.. Pak Suripto" satpam di kos-ku.
"Sebagian besar sudah berkeluarga?" Aku mengangguk menjawab pertanyaan Mbak Ratih.
"Okay, Kedua. Kamu amati bagaimana cara para lelaki memperlakukan pasangan mereka. Entah itu istri mereka atau pacar mereka. Setelah kamu amati, hmm atau mungkin kamu masih ingat interaksi antara si lelaki dan pasangannya yang pernah kamu lihat, kamu boleh pikirin itu juga. Kamu boleh bayangkan hal-hal sederhana ketika si pria berinteraksi atau treat istrinya"
" Last step. Kamu lakukan itu setiap malam menjelang tidur. Nah, nanti bikin kertas yang berisi nama-nama lelaki yang kamu sebutkan tadi, lalu ditempel di kamar. Dibayangkan.. direka ulang.. gimana cara pria baik versi kamu itu memperlakukan orang tersayang mereka"
"Setiap minggunya kamu cerita experience kamu ngelakuin itu, dan setelah satu bulan, saya akan beritahu hasilnya. Bisa?"
"Tapi kalau Aden lupa gimana? Misalnya tiba-tiba ketiduran"
"I make sure you should imagine or thinking about the behavior of a kind men 'your version', before you go to sleep. I will call or sending text every night during one month"
***
Hari ini selesai berkonsultasi pukul lima sore, aku dan Vania ingin bernostalgia kembali dengan jajanan atau makanan yang sering kami beli ketika jaman kuliah dulu. Kami berdua memutuskan untuk mengunjungi kampus kembali dan mendatangi tempat-tempat yang dulu sering kami singgahi saat kuliah.
Alunan lagu 22 milik Taylor Swift dari radio mobil Vania membuat kami ikut menyanyikannya dengan semangat. Aku sempat merekam keseruan kami dan memasukkannya ke insta story lalu menandai Vania.
"Jangan lupa di re-post, Vania sayang"
"Siap" Vania tertawa mendengar ucapanku
"Eh tau ga sih? Mas sepupu lo hari ini diare parah banget. Udah gitu ga mau minum obat lagi" aku mengubah topik pembicaraan saat lagu tiba-tiba berganti acak.
"Mas Aru emang ga bisa makan pedes. Gue aja kaget banget abis balik dari dapur liat mangkok lo udah pindah tangan ke dia" Vania tertawa keras seraya memukul setirnya gemas.
"Apa Pak Gaharu ga mikir ya gue punya penyakit apa? Siapa tahu kan gue ada sakit menular, tapi karena belum sempat check up baru ketahuan. Nah loh mampus kena juga!"
"Tingkah Mas sepupu gue walaupun songong tapi lucu ya? Bisa awet muda si cewek yang hidup sama dia"
Entah saat inj Vania tengah sarkas atau sungguhan dalam berucap, aku tetap bergidik ngeri mendengarnya. Awet muda p4ntat-ku! Yang ada bisa serangan jantung every situation!
"Itu mah bukan lucu. Tapi lebih ke kurang akal sehat"
Lagi-lagi Vania tergelak hebat mendengar celotehanku.
"By the way lancar banget lo gibahin Abang sepupu gue tadi"
Sejenak kami berdua terdiam saling pandang, hingga akhirnya tawa kami meledak secara bersamaan.
Punchline yang dilontarkan Vania kali ini benar-benar pecah! Membuatku sampai terbahak lepas mendengar ucapannya. Benar juga.. kalau dipikir-pikir tadi aku sedang membicarakan kejelekan sepupu Vania didepan gadis itu sendiri.
***
Aku dan Vania sampai disalah satu cafe langganan yang biasa kami kunjungi ketika masa kuliah. Kutatap interior cafe ini seraya bernostalgia akan kenangan yang pernah kubuat dengan beberapa orang disini. Termasuk mantanku dulu, Rio.
Dekorasinya sudah berganti, namun letak kursi dan meja yang ter-tata rapi kurasa tetap sama. Juga kesan vintage tak sepenuhnya dihilangkan untuk dekorasi interior cafe ini.
Dulu, menu dicafe ini sangat affordable sekali dikantong kami para anak kos. Aku ingat sekali range harga yang ditawarkan hanya berkisar 5K sampai dengan yang paling mahal 30K. Rasa makan dan minumannya pun tentu saja enak. Ditambah fasilitas live music dan juga free WiFi membuat cafe ini jadi tempat favorit anak-anak kampus yang doyan nongkrong.
"Gila! Kayaknya cuma naik tiga ribuan aja deh per-item makanan disini" Vania geleng-geleng kepala ketika melihat isi menu disini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
"Kalau masih murah gue aja yang bayarin. Pesen semua yang lo mau. Anggep aja upah nemenin gue konsultasi" ucapku.
"Bener nih?" Tanya Vania memastikan.
"Apaan sih Vania, pesen aja"
"Tapi- masa model internasional dibayarin lo sih?"
"Terus maksud lo? b***k perusahaan kayak gue ga pantes bayarin model INTERNASIONAL?" Aku memicingkan mataku sepanjang bicara, dan menekankan kata 'Internasional' yang tadi Vania sebutkan.
"Becanda! HAHA! Kalau gratisan mah gue gas!"
Dengan semangat Vania mengambil kertas kecil berisi deretan menu yang ada didekat kotak tissue, lalu mencentangnya dengan kalap.
"Sosis sapi bakarnya ga ada obat! Mau empat"
"Pesenin gue juga. Samain aja. Eh- tapi punya gue tambahin nasi ayam geprek satu, laper banget soalnya" titahku.
"Eh- masih ada ya menu ayam geprek? Aduh sayang banget ga boleh makan nasi. Kalau ayamnya doang mah kurang afdol. Anet bener-bener deh!" Vania bersungut kesal menyumpahi manager-nya yang over protective dalam menjaga pola makannya.
"Kali ini berapa jam durasi?" Tanyaku iseng.
"Dari Maghrib sampai tengah malam"
"Buseettt"
Aku menggelengkan kepalaku mendengar jawaban Vania. Durasi yang dimaksud disini adalah lamanya waktu Anet mengomeli Vania. Ck..ck.. manager satu itu benar-benar totalitas memperhatikan modelnya!
"Eh, Den. Lo ingat ga dicafe ini gue pernah dilabrak Kating gara-gara cowoknya nge-add f*******: gue terus gue acc"
Setelah memberikan kertas pesanan kepada pelayan, Vania kembali ke meja kami lagi, lantas memulai pergibahan.
"Oh! Yang cewek rambutnya Bob itu kan? Yang pede banget pake rok padahal betisnya koreng semua?"
"Anj1ng! Ga kuat banget gue denger deskripsinya"
Vania kesulitan menghentikan tawanya. Pergibahan seru kami pun terus berlanjut hingga makanan datang satu persatu.
Namun saat tengah asyik mengobrol bertiga dan bernostalgia, sebuah dering notifikasi mengalihkan atensiku. Kulihat pada bar ponsel. Dan ternyata sebuah pemberitahuan pengikut baru.
Awalnya biasa saja. Followers model internasional macam Vania tembus satu juta, tak heran pengikut instagramku sering bertambah jika Vania sering me-repost story atau meng-tag aku di i********:.
Namun kali ini berbeda. Mataku terbelalak ketika melihat username si follower.
Gaharukstr_ requested to follow you.
Karena merasa tak asing dengan nama tersebut, aku langsung mengklik profil username tersebut dan melihat feed i********:-nya.
Lagi-lagi aku tercengang melihat tiga foto yang bertengger di feed i********: orang ini. Ketiga foto di feed i********: tersebut adalah foto pria yang amat kukenali, mengenakan baju santai berlatarkan pemandangan pantai.
Ternyata benar, itu Gaharu yang kupikirkan.
Jadi bagaimana ini? Harus kah ku acc? Tapi aku tidak ada niatan ingin pria itu tahu kehidupan pribadiku. Karena hanya di i********: lah aku bisa memposting semua hal sesuka hatiku.
Pria itu pasti akan terus berkomentar tentang apa yang ku posting. Seperti dulu saat aku lupa meng-hide story w******p dari dia. Saat itu aku hanya meng-upload sebuah story lagu favoritku, tapi komentar pria itu berceramah panjang seperti orang tua.
"Kenapa, Den?"
"Oh? Enggak kok" aku buru-buru menutup aplikasi i********:, lalu meletakkan ponselku keatas meja. Karena terlalu lama dilema, aku pun mengabaikan permintaan mengikuti dari pria itu. Biarlah pura-pura tak tahu.
"Loh? Mas Iki?"
Aku mengikuti arah pandang Vania menuju pintu masuk cafe. Seorang pria yang baru saja memasuki cafe ini berdiri melihat kesekeliling cafe, seperti sedang mencari tempat duduk.
"Mas Iki!" Vania melambaikan tangannya kearah Mas Rizky, membuat pria itu sepersekian detik sempat terkejut melihat keberadaan kami.
"Kok ga ngabarin pulang?" Sambut Vania kala Mas Rizky telah sampai dimeja kami.
"Sengaja. Biar ga diteror oleh-oleh" Mas Rizky tersenyum tenang, membuat wajah Vania makin tertekuk masam melihatnya.
"JAHAT BANGET!"
"Apa kabar, Aden?" Mengabaikan Vania yang merajuk habis-habisan, Mas Rizky justru mengulurkan tangannya padaku.
Sejenak aku terdiam menatap Mas Rizky dan tangannya yang terulur secara bergantian. Ya. Dia adalah Mas Rizky kakak tingkat-ku ketika dibangku perguruan tinggi, sekaligus cinta pertamaku.
***
Visa Ranico
Prabumulih Sumatera Selatan