"Halo Pak?"
"Bapak sehat?"
"Pak saya mau bilang sesuatu"
"Gini Pak.."
"Pak saya boleh minta waktu kerjanya dikurangin?
"Assalamualaikum, Pak"
"Pak saya punya urusan"
"Pak-"
"Den, ketik ini ya. Tolong di bawah jam makan siang harus udah selesai"
Lamunanku seketika buyar saat suara Mas Daren tiba-tiba terdengar ditelingaku. Secepat mungkin ku-ulas senyum manis guna menutupi keterkejutanku dari Mas Daren.
Aku menganggukan kepala sekali menjawab instruksi dari Mas Daren. Mengambil lembar tersebut lalu mulai mengetiknya sembari memikirkan kalimat apa lagi yang pas untuk memulai pembicaraan meminta izin pada Gaharu nantinya.
Alasan yang logis dan jelas sangat Boss-ku itu butuhkan jika bawahannya meminta suatu izin padanya. Tapi.. apa harus Gaharu mengetahui masalah personalku? Haruskah aku menjelaskannya secara detail agar pria itu mau memaklumi? Aisshh! Bikin malu saja?
"Den, gajian entar makan di AYCE yuk. Ajak yang lain juga sekalian. Lumayan perbaikan gizi hehe"
"Boleh deh. Lo yang teraktir kan?" Aku melirik Miko yang ada di depanku sekilas, lalu kembali mengetik.
"Sinting lo ye. Juragan kosan malah minta traktir sama rakyat jelata" Miko mendelikkan matanya menatapku malas.
"Becanda kali. Yaudah ayo. Jangan lupa bawa Tupperware lo, biar kalau ga abis bisa bawa pulang"
"Ga dibawa pulang juga bisa gue ngabisinnya disana selama dua jam. Gue bosen makan di cafetaria kantor pesennya telor balado mulu. Berasa mau bisulan sebadan gue" aku tertawa keras mendengar ucapan Miko. Memang benar. Demi menghemat, ia memesan menu tersebut hampir setiap hari.
"Ya gimana ga pesen telor mulu, orang lo nya aja diawal bulan hedon mulu" balasku.
"Ya kapan lagi gue bisa hedon selain di awal bulan?"
Aku tertawa kembali mendengar ucapan Miko. Pria itu lalu menenggelamkan kepalanya dibalik kubikel sehingga membuatku tidak bisa melihatnya.
"Eh, Ko. Btw kasih gue saran kata-kata yang pas buat pembukaan dong"
"Puji syukur kita panjatkan kehadira-"
"BUKAN ITU!" Aku menatap kearah kubikel Miko dengan garang. Sayang sekali wajahnya tidak terlihat dari tempatku duduk. Kalau iya, mungkin sudah ku sambit!
"Lah itu pembukaan kan ya?"
"Maksud gue, introduction buat ngomong sama Boss! Ah lo mah mulai rese lagi kalo gue sehat"
"Jadi lo berharap gue baik sama lo sepanjang hidup lo? Mimpi aje lo! HAHA" tiba-tiba saja kepala Miko menegak sempurna sehingga membuatku mampu melihat wajah menyebalkannya dari balik kubikel ini.
Kutatap wajah Miko dengan tajam seraya meremas mouse wireless yang ada digenggaman tangan kananku, membayangkan jika perangkat keras ini adalah mulut lemes Miko.
"Becanda ya" ucap Miko dengan jari tangannya membentuk huruf V.
Bisa-bisanya punya teman sekaligus rekan kerja seperti ini!
***
"Masuk aja kali Den. Pusing Mbak liat kamu mondar mandir gitu"
Aku menoleh cepat ketika Mbak Ika mengacaukan imajinasiku yang sedang menyusun kata-kata untuk bertemu manusia paling sensitif di dunia ini. Ya. Benar sekali! Alasan yang kurangkai harus se-logis mungkin untuk menghindari pertanyaan-pertanyaaan berkelanjutan.
"Loh? Mbak Ika pusing? Mual ga?"
Mbak Ika mengangguk kemudian matanya kembali fokus pada layar komputer yang sedang menemaninya bekerja.
"Oooh itu tandanya Mbak Ika udah di buntingin komputer" jawabku datar.
"Mulai deh ngawur-nya kalau lagi panik" Mbak Ika memutar bola matanya bosan.
Aku memutuskan untuk segera masuk dan mengakhiri sesi berpikir kali ini. Dari pada Mbak Ika mual-mual dan pusing melihat tingkahku, lebih baik diakhiri kan?
Saat akan memasuki ruangan Gaharu, aku merapikan bajuku terlebih dahulu. Beberapa kali menarik dan menghembuskan napas membuat perasaan gugupku jadi lebih baik.
Oke, aku sekarang sudah siap masuk. Bahkan jika harus dihadapkan dengan kenyataan Gaharu memotong beberapa persen dari gajiku, aku siap.
Ceklek!
Dup!
Ketika telah sepenuhnya memasuki ruangan Gaharu, ternyata pria itu tak ada di ruangannya. Saat ini aku berdiri bak orang t***l dengan keadaan ruangan tak berpenghuni, padahal sudah susah payah mengumpulkan keberanian untuk bisa masuk kesini.
Aishhh! Kira-kira kemana perginya Gaharu di jam kerja seperti ini? Bikin repot saja harus dicari-cari!
Aku membalikkan tubuhku lagi untuk keluar dari ruangan Boss-ku ini. Namun saat tanganku hampir menyentuh handle pintu, terdengar suara gemericik air dari dalam toilet yang ada disudut ruangan ini.
Sepertinya ia sedang menggunakan kamar kecil. Haruskah kutunggu saja?
Belum sempat menimbang-nimbang rencana selanjutnya, suara pintu dibuka kembali mengejutkanku. Kulihat pria itu keluar dari toilet dengan raut wajah lesu. Lengan kemeja panjangnya sudah tergulung sampai siku, dan beberapa kancing teratas kemeja pria itu juga sudah terlepas.
Wow! Sepagi ini penampilan Gaharu sudah berantakan begini?
Ini kali pertama aku melihatnya berantakan. Biasanya dari awal masuk sampai sore pulang, baju pria itu selalu rapi. Bahkan Gaharu juga sering marah-marah kepada kami jika pakaian yang kami kenakan tidak rapi.
Kurasa Miko akan senang jika melihat keadaan Gaharu seperti saat ini. Karena yang biasa kena tegur masalah kerapian adalah Miko. Pria itu tak pernah menyetrika baju kerjanya dengan alasan tidak punya waktu.
Aku tersenyum canggung ketika tatapan kami tiba-tiba bertemu. Kedua tanganku saling bertautan karena gugup.
"Kenapa?" Melihat Gaharu yang telah berjalan dengan lemas ke mejanya. Aku juga lebih mendekat ke arah meja pria itu.
"Itu.. hmmm.. saya mau ajukan izin, Pak" ucapku hati-hati. Sepelan mungkin mengucapkan kata demi kata agar terdengar jelas dan sopan ditelinga Gaharu.
"Apa?" Tanya Gaharu datar.
"Saya ingin mengajukan pemotongan jam kerja, dua jam perminggu" jawabku to the point. Kuhela napas sejenak lalu kembali melanjutkan penjelasanku.
"Saya sangat perlu menambah jadwal konsultasi saya. Sebenarnya saya punya trauma yang harus diobati dengan terapi sesering mungkin. Makin sering frekuensi terapinya, maka kemungkinan saya bisa sembuh akan semakin tinggi. Kalau Bapak berkenan memberi izin saya akan sangat berterimakasih. Tapi kalau Bapak merasa keberatan tidak apa-apa, Pak"
Sempat hening sesaat setelah aku menjelaskan alasanku dengan panjang lebar. Gaharu hanya duduk dikursinya seraya terus memandangku, padahal aku telah selesai bicara sejak beberapa menit yang lalu.
"Maaf.. Pak?" Aku melambaikan tanganku, mengacau fokus Gaharu pada wajahku.
"Baik. Saya setujui"
"Hah? Yang bener, Pak?" Tanyaku spontan.
"Gapapa ga usah dipotong gaji. Dua jam tersebut saya anggap kamu lagi tugas diluar aja"
Makin tercengang aku ketika mendengar kalimat tersebut keluar dengan sangat lancar dari mulut Gaharu. Sulit dipercaya! Benar-benar sulit dipercaya!
"Kamu pilih hari apa? Biar saya bisa laporkan absensi kamu ke personalia setiap minggunya. Atau kamu mau konsultasi hari ini?"
"Emang boleh, Pak?"
"Oke hari Jum'at ya. Kamu boleh pulang dua jam lebih awal dari yang lain untuk hari Jum'at"
Kalian tahu? Saat ini aku bersusah payah menahan bibirku agar tak melengkung membentuk senyuman bahagia didepan Gaharu.
Pria ini.. kenapa bisa jadi baik begini?
"Terima kasih Pak Gaharu atas pengertiannya. Saya akan memanfaatkan keringanan yang Bapak beri dengan sebaik mungkin" kuulas senyum manis menutup ucapan syukur yang kuutarakan pada Gaharu.
Setelah kulihat pria itu mengangguk menjawab ucapanku, aku lanjut pamit untuk kembali ke kubikelku. Kembali bekerja sebentar sebelum pergi untuk konsultasi.
"Adena"
"Ya, Pak?" Begitu namaku dipanggil, aku menghentikan langkahku, lalu berbalik menatap Gaharu yang juga sedang menatapku.
"Pak?" Aku kembali memanggil Gaharu karena tak ada balasan dari pria itu. Gaharu hanya diam saja seraya terus menatapku. Tentu hal ini membuatku kurang nyaman.
"Semoga lekas membaik"
Aku terdiam sejenak mendengar tiga kalimat yang lolos dari bibir pucat Gaharu.
"I-iya. Terima kasih Pak" aku tersenyum canggung membalas ucapan basa-basi yang Gaharu lontarkan. Tapi entah mengapa saat ucapan itu terdengar dari mulutnya, jadi terasa berbeda. Apa karena dia Boss-ku yang terkenal memiliki image kaku? Makanya agak aneh?
"Kalau begitu.. saya Pamit dulu ya, Pak. Permisi" aku mengangguk sekali memperlihatkan gesture sopan saat hendak berpamitan. Namun baru saja tanganku hampir menyentuh handle pintu, lagi-lagi Gaharu memanggil namaku untuk yang kedua kalinya.
"Adena"
"Ada apa lagi, Pak?"
"Kamu ada sakit diare hari ini?"
Aku mengerutkan dahiku spontan mendengar pertanyaan Gaharu. Kenapa tiba-tiba pria ini bertanya begitu?
"Enggak, Pak. Alhamdulillah saya sehat"
Tanpa membalas ucapanku, Gaharu hanya mengangguk lantas memberi isyarat menggunakan tangannya menyuruhku keluar.
***
"Van! Lo ada bilang sesuatu ya sama Pak Gaharu? Kok bisa baik banget dia? Biasanya mah izin ke toilet pas meeting aja bisa ngomel 7 turunan dia"
Saat waktu telah menunjukkan pukul tiga sore, aku langsung keluar dari ruangan divisi Marketing untuk menelpon Vania.
Jam pulang kerja adalah pukul lima sore, itu artinya pada pukul tiga sore aku harus sudah keluar menemui konselor-ku. Untungnya klinik terapi yang biasa aku datangi tutup pukul enam sore.
'Ga ada bilang apa-apa kok. Dia juga tahu kali lo temen gue makanya ga enakan aja itu'
"Yaudah deh. Kira-kira lo sibuk ga sore ini?"
'baru aja selesai latihan ini'
Aku tersenyum lebar mendengar jawaban Vania. Ahh benar-benar suatu kebetulan yang mengasyikkan!
"Pas banget! Yuk temenin gue konsultasi"
'Oke-oke. Jam setengah empat gue sampai ya di kantor lo. Sekarang juga gue siap-siap on the way'
"Oke see you"
Senyumku terus mengembang seraya menggenggam ponselku dengan erat. Rasa senang membuncah di dadaku. Seriously, mungkin ini kali pertama ucapan Gaharu yang mampu membuatku senang. Biasanya hal-hal yang menyakitkan hati saja akan keluar dari mulut pria itu.
Akhirnya aku bisa menambah jadwal konsultasi ku. Aku berharap bisa cepat sembuh dan kembali normal seperti tiga tahun yang lalu. Ibuku juga sudah bertanya-tanya apakah aku sudah ada pasangan atau belum. Dan sampai saat ini, ibuku tidak tahu aku menderita penyakit ini. Semua keluargaku tak ada yang tahu tentang kondisi psikisku. Aku tak mau menjadi beban pikiran mereka. Cukup sudah orang tuaku saat ini disibukkan mengurusi kondisi kakakku yang mengalami kecelakaan kerja tempo lalu.
Dengan senyum masih terkembang sempurna, aku membalikkan badanku untuk kembali masuk ke ruang divisi Marketing.
"Astaghfirullah!" Ucapku spontan.
"Bapak ngapain?" Aku menatap Gaharu seraya mengelus d**a efek terkejut tadi.
"Ke toilet"
"Ohh" aku mengangguk. Namun sedetik kemudian aku langsung tersadar akan satu hal.
"Eh? Bukannya di ruangan Bapak ada toilet?"
"Kerannya rusak"
"Ohh.. yaudah saya masuk duluan ya, Pak" aku tersenyum kemudian melanjutkan langkahku yang tertunda untuk masuk ke ruang divisi Marketing.
"Adena"
"Ya, Pak?" Aku menghentikan langkahku lalu berbalik menatap Gaharu lagi.
"Kamu pergi sendiri konsultasi hari ini?"
Sontak aku mengerutkan dahi ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Pak Gaharu.
"Sama temen rencananya, Pak. Kenapa?" Tanyaku bingung.
"Hati-hati di jalan"
Sejenak aku terpaku melihat wajah Gaharu yang semakin memucat. Sepertinya kondisi pria ini makin parah.
"Bapak kayaknya lagi ga enak badan. Apa ga sebaiknya ke ruang P3K untuk berobat?" Tanyaku khawatir. Pasalnya ini sudah siang menjelang sore dan pria itu terus bolak-balik toilet.
"Saya cuma diare kok. Biasanya sembuh sendiri tanpa obat kalau banyak minum air putih"
"Bapak salah makan itu.. biasanya kalau enggak karena telur lalat berarti makanan pedas biang keroknya. Biar cepat mampet langsung minum obat diare sih, Pak"
"Iya saya ga kuat pedas"
"Aduh.. mending jangan dipaksain, Pak. Apa ga capek bolak-balik bera- maksud saya buang air"
Aku menepuk mulutku yang tak terbiasa bicara formal.
"Saya duluan" Gaharu pamit masuk ke ruang divisi Marketing.
Ternyata badan saja yang besar. Makan makanan pedas sudah mencret-mencret. Dasar Pak Boss!
Padahal semalam ia baik-baik saja, saat bertemu denganku dirumah Vania. Kenapa tiba-tiba jadi diare hari ini?
Setelah melihat pria itu masuk, aku melangkahkan kakiku untuk ikut masuk ke dalam. Namun begitu teringat akan sesuatu, kakiku jadi urung melangkah.
Tunggu..
Makan pedas?
Rumah Vania?
HAH?! Apa jangan-jangan.. ini karena rawon setan Bu Narti? Semalam makanannya memang terasa pedas sekali dilidahku. Aku yang pecinta pedas saja juga merasakan jika rawon Bu Narti malam itu pedas mampus!
***
Aku berjalan di koridor kantor kembali menuju ruangan divisi Marketing. Ditanganku terdapat dua strip obat dengan fungsi dan kegunaan yang berbeda.
Tadinya aku sudah akan pergi menemui dokter-ku bersama Vania. Tapi saat sudah didalam lift, tiba-tiba aku berubah pikiran dan langsung memencet angka lima. Lantai dimana ruang P3K berada, dan biasa para karyawan kunjungi jika sedang tidak enak badan.
Tok.. tokk..
"Permisi Pak.." aku menutup pintu dengan pelan, lalu berjalan kearah pria itu
"Loh? Belum pergi?"
"Bentar lagi. Hmm.. Ini saya bawain Bapak obat diare. Diminum sekarang ya, Pak."
Aku jadi merasa bersalah karena membiarkan pria ini makan bekas makananku. Siapa yang tahu 'kan? Bisa saja sendok bekas makanku kemarin mengandung banyak Bacteria E-c**i yang berasal dari air liurku. Lagian ada-ada saja sih pria gila ini!
"Padahal tanpa obat juga bakal sembuh" jawab Gaharu congkak. Cih! Sudah dalam kondisi lemas begitu masih ada saja stamina untuk menyombongkan diri sendiri.
"Kekurangan cairan bahaya untuk tubuh loh Pak. Bapak ga bisa terus-terusan nahan buat ga makan obat. Seenggaknya sekali aja untuk hari ini" Gaharu menatapku untuk beberapa detik, lalu mengangguk menanggapinya.
"Saya minta maaf ya, Pak. Kayaknya selain kuah rawon setan Bu Narti, air liur saya juga ikut andil bikin Bapak sakit perut" ucapku pelan.
"Ahh.. ga gitu. Ini memang murni karena makanan pedas" Gaharu mengibas-ngibaskan tangannya, menyangkal ucapanku.
"Saya taruh sini ya, Pak. Saya pamit pergi dulu. Obatnya diminum sekarang. Terus kalau udah buang air besar lagi, sekali lagi diminum obatnya" jelasku memberi instruksi sesuai yang dokter jaga katakan tadi.
"Terima kasih, Adena"
Sejenak aku terpaku melihat senyuman Gaharu yang terulas lemah. Kalian tahu? Ini kali pertama aku melihat senyumannya setelah beberapa tahun terakhir bekerja dengan pria itu.
***
Visa Ranico
Prabumulih, Sumatera Selatan