"Tunggu bentar ya, gue ambil ice cream sama camilan dulu di dapur. Go food-nya lama banget"
"Ohh iya-iya" Vania langsung melenggang pergi ketika mendengar jawabanku. Sedangkan aku langsung meraih remote tv yang ada di atas meja samping ponsel Vania. Menyalakan TV agar suasana tak terlalu sunyi.
Tingg..
Sebuah notifikasi pesan masuk dari ponselku mengalihkan fokusku yang sedang memindah-mindahkan channel TV.
Gaharu? Kenapa lagi orang ini? Padahal saat ini kami tengah berada didalam tempat yang sama, tapi mengirim pesan teks.
Pak Gaharu : kamu bilang hari ini kerumah pacar kamu. Kamu pacaran sama sepupu saya?
Sinting! Aku menggelengkan kepalaku membaca pesan dari Gaharu. Kulirik sekilas lantai atas tempat dimana pria itu berada lalu mengetikkan balasan singkat yang mampu membuatku sendiri jadi tertawa geli.
Aden : Iya. Saya pacaran sama sepupu Bapaak. Maaf ya Pak harus tahu fakta kayak gini secepat itu.
Kuletakkan ponselku di atas meja lalu kembali mengutak-atik remote TV. Mampus kau Gaharu! Harus overthinking dan tercengang semalam ini.
"Nihh dimakan. Curhatan kita bakal panjang malam ini" Aku tertawa ketika melihat Vania datang dengan dua nampan es krim dan beberapa camilan. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk berkeluh kesah. Juga akan menjadi malam menyenangkan bagi Vania karena bisa makan apapun yang ia mau tanpa gangguan Anet.
"Asli berat badan lo bakal naik banget sih ini" aku menggelengkan kepalaku karena Vania benar-benar nekat.
"Gue capek makan salad sayur mulu, beb. Kalo enggak salad sayur, telor setengah mateng sama oatmeal aja. Si Anet kayaknya nyiksa gue deh ya selama ini" keluh Vania.
"Ya masalahnya pasti dia marah-marahnya ke gue karena ga ngelarang lo makan tumpukan kalori"
"Ah gampang lah itu.. entar gue bilang aja kalau keluarga gue lagi ngumpul-ngumpul bikin mini gathering gitu. Ga mungkin di acara keluarga enggak makan dong?"
Aku dan Vania tertawa keras mendengar rencana jahat gadis itu yang pastinya akan membuat repot manager dan Timnya.
"Mau pindah ke kamar gue aja ga?" Tanya Vania.
"Entar aja nunggu go-foodnya sampe, baru pindah"
Kami kembali melanjutkan sesi curhat kami sembari mengunyah camilan dan menunggu go-food yang tak kunjung datang. Tertawa bahkan antusias satu sama lain ketika bercerita dan mendengarkan. Hufftt aku sungguh merindukan suasana ini. Dulu kami melakukan ini hampir setiap hari. Tapi sekarang kesibukan pekerjaan menuntut kami harus menunda segalanya.
"Btw, Lo masih suka sama Mas Iki? First love lo itu ga, Den?" Vania kembali membuka suaranya. Hampir saja aku tertawa saat melihat raut wajah penasaran dan kehati-hatian Vania kala gadis itu bertanya. Namun aku hanya mampu menggeleng pelan saat ini.
"Enggak deh Van. Gue udah ga mau terlalu ekspektasi terlalu besar ke cowok manapun. Ya walaupun gue tau Mas Iki itu baik banget tapi selepas trauma sama mantan gue, gue jadi sulit menemukan kepercayaan buat semua cowok. Termasuk Mas Iki." Ucapku serius.
Sebelum mengenal Rio, aku memang sempat menyukai beberapa laki-laki seperti perempuan pada umumnya. Namun setelah mengenal Rio yang selalu memberikan bayangan ketakutan, sulit rasanya untuk percaya lagi pada laki-laki manapun.
"Terlepas dari suka balik apa enggak sukanya Mas Iki sama gue, gue tetep ga mau berharap dan jatuh cinta lagi pada siapapun. Gue ga mau ekspektasi ketinggian. Gue sulit percaya lagi." Napasku terhembus berat.
Ku simpan mangkuk es krim yang sudah kuhabiskan isinya tersebut di atas meja lalu menyandarkan punggungku pada sandaran sofa yang sedang kududuki sekarang. Mataku memandang langit-langit rumah Vania dengan kosong. Seketika, potongan kejadian mengerikan tempo lalu teringat kembali.
#flashback on#
"Lo ngapain aja lama bales chat gue?"
"Yang, kok kamu tahu aku di kosnya Nita?" Aku kaget ketika membuka pintu dan mendapati pria ini berdiri tepat di depan kamar kos temanku.
"Jawab! Jual diri ya, lo?!!" Lagi, aku dibuat tersentak akan nada suara tinggi yang biasa Rio gunakan jika sedang marah padaku.
"Aku baru selesai nulis laporan kelompok, Yang. Kamu jangan marah dul-"
"ARGGHHH Bacot!!!"
Tanganku yang mencoba meraih tangan Rio, tiba-tiba ditepis dengan kuat.
"Jaga ya tangan lo!! Najis gue disentuh sama tangan perempuan ga bener kayak lo!"
Brukkk!
Arrghh.. kurasakan bokongku terhempas keras kelantai saat Rio mendorong bahuku dengan sangat kasar. Air mataku mulai menetes ketika Rio kembali memaki-makiku dengan kata-k********r yang sangat menyakitkan hati.
"Woi. Jangan berani main tangan lo sama cewek! Sini lo lawan gue aja!"
Terdengar suara dari para tetangga kos Nita yang tiba-tiba sudah ramai meneriaki dan memaki balik Rio.
Fyi, kos temanku ini adalah kos campuran antara Putera dan Puteri. Kebetulan sekali diantaranya ada lelaki yang melihat kejadian hari ini. Karena jika tetangga kos yang juga sesama perempuan, mereka tidak berani ikut campur sebab takut pada Rio.
"Halah ga usah ikut campur lo! Kenapa? Udah pernah dipuasin cewek sampah ini lo karena berani belain?" Mataku terbelalak mendengar ucapan Rio yang sudah kelewatan ini. Hatika marah, harga diriku terluka lagi dan lagi.
"RIO!" Ucapku keras
"Apa? Ga suka lo?"
Ya. Aku marah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk lepas dari b******n ini. Ada begitu banyak ancaman yang sangat kutakuti jika aku memutuskan hubungan dengannya. Pria gila ini terus memperlakukanku dengan kasar. Namun ketika aku meminta putus, ia akan bertambah marah besar.
Air mataku hanya terus mengalir deras. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam guna meredam emosi. Juga karena aku malu dengan semua orang yang menonton drama ini. Ya walapun tak terhingga rasanya Rio mempermalukanku di depan umum, tapi rasa malu tersebut masih bisa aku rasakan.
"Kalo ngomong yang bener, Setan!
Brukk!
Jeritan histeris dari orang-orang yang ada disana membuatku langsung mendongak. Mataku terbelalak kala melihat Rio yang sudah tersungkur karena baru dipukul oleh lelaki yang merupakan tetangga kos Nita tadi.
"Berani lawan cewek aja lo? Banci banget! Mulut lo kalo ga bisa ngomong yang bagus-bagus mending lo jahit aja!" Lelaki berambut gondrong itu berkacak pinggang seraya menunjuk-nunjuk wajah Rio yang baru saja terguling di bawah lantai.
"Sana minggat lo! Sampe gue lihat lo masuk kawasan kos ini lagi, abis lo sama gue"
#flashback off#
"Den.. Aden.. udah yaa sedihnya.. ini go food nya udah sampe. Kita makan dulu"
Lamunanku buyar ketika suara Vania terdengar ditelingaku. Tepukan ringan di pipiku juga menjadi tanda penyadar yang dilakukan Vania, agar kembali dari lamunan kelam-ku.
Namun setelah sadar, air mataku malah semakin mengalir deras ketika teringat akan banyaknya bantuan yang datang pada saat itu. Rasanya dulu aku merasa zolim sekali pada diriku sendiri. Orang lain saja bisa membantuku, masa diriku sendiri tidak bisa?
But yeah, it's just past. Let's live for a future time.
***
Aku menyuap makanan berkuah coklat dan memiliki cita rasa gurih ini dengan semangat. Sesekali tersedu karena habis menangis. Ternyata menangis membuat perutku jadi cepat lapar, ditambah pedasnya rawon setan Bu Narti kali ini membuatku semakin bersemangat untuk melahap makananku.
"Gue ambil minum lagi, bentar. Lo pelan-pelan aja makannya"
Aku hanya mengangguk mendengar teguran Vania. Mataku tetap fokus memandangi makanan yang sedang berjuang kuhabiskan.
"Eh udah mau pulang, Mas?"
Mengalihkan atensiku sebentar, aku melirik Vania yang berdiri beberapa langkah dari tempatku duduk. Langkah Vania terhenti saat melihat Gaharu yang berjalan menuruni tangga menuju kami.
"Belum" jawab Gaharu singkat.
Aku memilih kembali melanjutkan makanku tanpa memperdulikan interaksi kedua sepupu ini.
"Mas Aru, sini deh"
Aku melirik sekilas Vania yang memanggil Gaharu dan mengajaknya untuk berbicara ke ruangan lain. Kurasa mereka akan diskusi singkat internal antar keluarga.
Masa bodo. Ga boleh ikut campur.
Sekitar lima menit kemudian Vania dan Gaharu kembali lagi ke sini. Kulirik sekilas Pak Gaharu yang memilih ikut duduk disana.
"Kalian makan apa?"
"Rawon. Bapak mau?" Aku menghentikan suapan yang akan masuk ke mulutku. Berbasa-basi sedikit kurasa tidaklah buruk.
"Kamu ngasih saya yang bekas?"
Mampus! Salah lagi deh. Sudah lah. Ditawari salah, tidak ditawari lebih salah lagi!
"Yaudah saya pesenin lagi aja, Pak. Mana mungkin saya ngasih Bapak bekas saya. Saya 'kan punya penyakit mematikan"
Vania tertawa keras mendengar ucapanku. Sedangkan Gaharu hanya diam mendengarkan dengan ekspresi datar seperti biasanya.
"Gue ambil minum bentar ya" pamit Vania. Meninggalkan aku dan Gaharu disini yang tengah bersitegang oleh semangkuk rawon Bu Narti.
Btw. Melihat pria ini mengenakan baju kaos seperti saat ini, membuatku sedikit merasa aneh. Pasalnya kami selalu bertemu dilingkungan kantor yang notabenenya dituntut harus mengenakan setelan kemeja. Ini kali pertama aku melihat Gaharu mengenakan pakaian santainya.
"Jadi Bapak mau berapa porsi" aku menaruh mangkok rawon-ku yang isinya tinggal setengah. Menghentikan kegiatan makanku sebentar lantas mengambil ponsel guna memesan makanan untuk Gaharu.
"Yaudah bekas kamu aja"
"Jangan bercanda deh, Pak! Adik keponakan saya aja ga mau makan bekas saya"
Ucapku tanpa mengalihkan atensiku dari layar ponsel. Agak terkejut juga dengan jawaban unpredictable pria itu. Mana ada sejarahnya Boss makan makanan bekas karyawannya.
"Ga usah dipesan. Saya mau cicip dikit aja"
"Bapak mau level bera- PAK?!"
Aku tercengang melihat mangkok rawon-ku tadi sudah berpindah tangan ke Gaharu. Pria itu sudah menyendok makanan dan bahkan memasukannya ke mulut memakai sendok bekas punya-ku! Seriously?!
"Pak- BPJS saya aja masih dibayarin pemerintah. Kalau Bapak sakit tiba-tiba saya yang repot bayar tagihannya" bahu-ku menurun lemas. Ada-ada saja tingkah laku Boss-ku ini. Bagaimana bisa tanpa rasa jijik sedikitpun pria itu makan dengan begitu hikmad. Padahal bisa ditukar dulu sendok milikku dengan punya Vania. At least, mereka sepupu dan masih ada hubungan darah.
"Saya ga jadi nyicip, diabisin gapapa?"
What?!
***
Visa Ranico
Prabumulih, Sumatera Selatan.