Kebetulan?

1525 Kata
*** Aku tersenyum mendengar Vania yang tengah bercerita panjang lebar mengenai hubungan asmaranya. Gadis cantik ini bercerita dengan perasaan menggebu-gebu dan ekspresi bahagia yang tak bisa ia tutupi. Oh iya, Btw aku sedang berada di rumah Vania. Menepati janjiku untuk menginap disini malam ini. Sebanarnya aku masih sedang tidak enak badan pasca dua kali mengalami gejala trauma yang datang secara tiba-tiba hari ini. Rasanya ingin sendiri saja staycation di hotel misalnya. Karena dikamarku juga masih ada Rina yang stay disana sebab kamar gadis itu belum selesai direnovasi. Tapi karena memang aku sudah berjanji pada Vania untuk menginap dirumah gadis itu, tentu saja aku tak akan mengingkari. Aku juga sudah sangat merindukan sahabat baikku ini. "Gue ga nyangka sih Aga bakalan ngenalin gue ke Mama-nya. Unpredictable banget siih Agaaa" Senyuman bahagia diwajah Vania tak kunjung luntur saat menceritakan ulang apa yang baru saja ia dan pacarnya alami. Keduanya benar-benar sedang dimabuk asmara sepertinya. "Ya bagus dong. Berarti dia serius. Gue restuin hubungan kalian sampe kakek-nenek!" Aku mengangkat kedua jempolku seraya tersenyum. Ikut senang rasanya ketika melihat sahabatku senang. Dan sekarang mulai detik ini aku telah berjanji pada diriku sendiri. Jika Aga menyakiti Vania sampai membuat gadis itu menangis, maka aku yang akan bersiap maju paling depan untuk membuat pria itu sengsara. Vania sudah sangat baik padaku, maka dari itu aku akan mencari celah untuk membalas setiap kebaikan yang sahabatku ini beri. Aku sungguh menyayangi gadis ini. Saat aku terpuruk, Vania adalah orang nomor satu yang mampu menenangkanku selain Ibu. Vania juga memiliki sifat pemberani yang membuat orang lain takut untuk macam-macam padaku. Ia juga ada di garda terdepan ketika mantanku ingin melakukan hal buruk padaku. "Lo sendiri gimana? Masih rutin ke psikolog 'kan?" "Kerjaan gue lagi numpuk banget di kantor. Jadi ga sempet buat konsultasi" aku menggeser tasku yang ada di atas sofa, lalu kembali membenahi posisi dudukku menjadi lebih nyaman. "Ya ampun beb, lo harus segera sembuh dari trauma lo. Lo ga ada niatan melajang seumur hidup 'kan?" Ucap Vania sewot. Aku terdiam sejenak mendengar ucapan Vania. Melajang seumur hidup? Hmmm.. apakah aku bisa menikah? Memangnya aku bisa sembuh? "Ga tau deh" ucapku singkat. "Cowok itu karakternya beda-beda beb. Enggak semuanya b******k kok. Lo harus mulai tanamkan mindset itu lagi biar lo cepet pulih dari trauma lo.. Oh iya, selain rutin ke psikolog, lo juga harus praktik tipis-tipis. Kalau ada cowok yang kayak mau deketin lo gitu, langsung cari sisi positifnya dulu, jangan langsung nebak sisi negatifnya" jelas Vania. "Masalahnya gue takut banget. Gue takut perasaan gue tiba-tiba jadi gila sama orang lain. Gue selalu wanti-wanti kalo rekan kantor gue bilang suka sama gue, makanya gue langsung galakin cowo yang mau deketin gue. Gue capek hidup kayak gini!" Pandanganku tiba-tiba mengabur ketika air mata menggenang di pelupuk mata. Wajah pria itu terus terbayang sepanjang hidupku. Bahkan mimpi buruk pasca trauma tersebut masih sering datang ketika aku tertidur. See.. bahkan ketika aku tidur wajah b******k pria itu selalu membayangi. "Gue tau kok.. gue juga masih sering nyari keberadaan mantan k*****t lo itu, buat balesin dendam lo" Vania mengelus bahuku menenangkan. Sorot mata gadis itu seketika menajam ketika membicarakan pria itu. "Ga, Van. Gue udah ikhlasin kok dia memperlakukan gue kayak gitu. Gue cuma pengen lepas dari bayang-bayang dia. Udah itu aja.. cukup.." "Gue yang ga ikhlas! Gue juga masih marah yaa sama lo gara-gara ga pernah cerita kelakuan b*****t dia selama ini! Itu pun gue tahu sendiri dari temen-temen sekelas lo. Coba kalo gue ga pernah tahu soal kejadian kemarin? Wah mungkin ga putus lo, masih sama dia. Parah sih lo mah!" Napas Vania naik-turun. Gadis itu lantas kembali melanjutkan ucapannya seraya menatapku malas. "Gue cuma mau nebus rasa bersalah gue karena udah jadi sahabat ga pengertian. Harusnya dari awal kalau ada apa-apa tuh langsung cerita!" Aku mengusap wajahku yang tadi sempat basah akan air mata, lantas tersenyum mendengar ucapan Vania. Benar. Vania adalah orang yang ikut andil besar dalam memisahkan hubungan toxic yang kujalani bersama Rio, mantanku. Gadis itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membantuku. "Udah sekarang lo cukup fokus sama pengobatan psikis lo. Minta kompensasi waktu satu atau dua jam sama Boss lo seminggu sekali. Di coba aja ngomongnya" "Gue belum pernah ngomong sih.. takut ditolak mentah-mentah. Takut pas ngomongin masalah psikis gue yang sebenarnya, gue dipecat" jawabku lesu. "Ga mungkinlah. Salah sendiri kenapa nerima lo dari awal si HR nya" "Karena gue ga jujur kali pas ngisites. Gue ga ngaku kalau punya phobia" "Itu mah enggak ketat aja seleksinya. Pokonya dicoba dulu ngomong sama bos lo minta kompensasi waktu. Kalau memang lo harus dipecat gara-gara punya penyakit psikis kayak gitu, yaudah gapapa. Di kantor management tempat gue kerja ada kok lowongan kerja yang sesuai sama jurusan lo" "Iya, Vaniaa. Iihh baik banget deh" Aku tersenyum kecil menanggapi ocehan panjang lebar dari Vania. Lihat kan? Anak ini baiknya minta ampun! "Mau makan apa nih? Biar gue pesenin? Jadi gampang laper deh kalo ngomongin si b*****t!" Vania meraih ponselnya yang ada di atas meja, lalu fokus memainkannya. "Lo gapapa makan malem-malem begini? Ga takut gemuk si model?" Tanyaku cemas. "Entar gue diet lagi abis makan. Pokoknya malam ini ga boleh ada bates-batesan makan buat gue. Bodo amat dimarahin si Anet" Untuk yang kesekian kalinya, setelah menangis aku dibuat tertawa saat mendengar ucapan Vania. Gadis. ini memang benar-benar mood booster bagiku. Btw, Anet adalah managernya Vania. Dia yang mengatur tentang jadwal, keuangan, sampai dengan pola makan Vania. Jika berat badan Vania naik satu ons saja, Anet pasti ngomel sepanjang hari, bahkan sampai berat badan Vania kembali ke asalnya, baru pria cantik itu diam. Pria cantik? Ya benar. Anet adalah seorang pria muda namun senang berdandan ala feminim. Ia kemayu dan sangat lentik. Nama asli pria itu sendiri adalah Andi Saputra. Dan Anet sendiri merupakan nama panggungnya saja. "Makan apa nih jadi?" Tanya Vania kembali. "Rawon setan, Bu Narti aja" "Ahh good idea! Udah lama juga ya kita ga makan di sana?" Kami berdua tertawa ketika teringat masa-masa kuliah kami. Dulu kami sangat dekat walapun berbeda fakultas. Aku belajar di fakultas Ekonomi dan Vania belajar di fakultas Seni. Walaupun berbeda jurusan bahkan fakultas, ada saja waktu kami sempatkan untuk bertemu dan ngobrol tentang keseharian. Semua kegiatanku Vania tahu, begitu pun sebaliknya. Kecuali satu yang tak berani ku beritahu pada Vania. Yaitu perlakuan mantan pacarku dulu. Awal kedekatan kami adalah pada saat Masa Orientasi mahasiswa baru. Vania wajahnya jutek walaupun ketika diam sekalipun. Jadi anak-anak segan untuk mengajaknya berteman ataupun berkenalan, kecuali aku. "Van, Btw gue ketemu sama Mama-nya Mas Iki baru-baru ini" "Mas Iki sepupu gue itu? Cinta pertama lo pas ospek?" Vania menyandarkan punggungnya pada sofa yang ia duduki. Kedua kakinya terangkat, lalu ia taruh di atas meja. "Iya. Ternyata dia kayak masih ada hubungan keluarga gitu sama Bos gue" "Loh siapa?-" Tok..tok.. "Loh cepet juga Abang Ojolnya. Perasaan baru banget pesen makanannya" ucap Vania kebingungan. "Tamu lo, kali" "Bentar ya Den, gue buka pintu dulu." Aku hanya mengangguk lalu meraih ponselku guna mengecek apakah ada pesan yang masuk atau tidak. Kusandarkan punggungku dengan nyaman dan tetap fokus pada layar. "Loh? Ngapain Mas kesini?" Samar-samar kudengar percakapan Vania dan tamunya yang ada diluar sana. "Ada Kio di atas. Sana, Vania mau lanjut cerita sama temen" Aku menoleh ketika merasa suara Vania terdengar lebih dekat. Dan benar saja ternyata dia sudah disini bersama orang yang-- sangat tidak terduga hadirnya ini. Coba tebak? Yap! "Loh? Pak Gaharu? Ngapain?" "Emang ga boleh berkunjung ke rumah sepupu saya sendiri?" Setelah mengatakan kalimat tersebut, Gaharu melenggang pergi menaiki anak tangga. Menyisakan aku yang memandangnya cengo dan Vania yang hanya bisa geleng-geleng kepala. Eh kebetulan sekali. "Biasanya ga pernah kesini dia. Ada acara keluarga aja males kesini. Kesambet kali" Vania mengedikkan bahunya. "Nah itu!" Aku menunjuk tangga yang tadi dilewati oleh Gaharu setelah tersadar dari cengo-ku. "Hah?" Vania menatapku ikut-ikutan bingung. "Itu sepupunya Mas Iki" ucapku kembali. "Ohh.. Mas Aru.. iya-iya gue paham." Vania menganggukkan kepalanya santai, namun sedetik kemudian gadis itu langsung berteriak heboh setelahnya. "Eh- jadi Mas Aru Boss lo? Ih kenapa ga bilang? Kan gue bisa nego sama dia biar kasih lo waktu buat konsultasi!" Vania berucap dengan menggebu-gebu ketika mendapati satu fakta baru baginya. "Ya mana gue tahu dia sepupu lo, isssh" Vania tertawa mendengar ucapanku. " Terus.. terus.. back to topic, ada ngobrol apa lo sama Mama-nya?" Vania duduk kembali ketempatnya semula, ia menyimpan ponsel yang ia pegang ke atas meja dan mulai fokus mendengarkanku untuk bercerita lagi. "Ga ada sih, cuma basa-basi doang. Beliau masih inget kalau gue pernah donorin darah buat Adeknya, padahal mah gue aja udah lupa" "Loh? Adeknya? Tante Rumi? Bundanya Mas Aru dong?" "Masa sih?" Aku membelalakkan mataku ketika mendengar ucapan Vania. Fakta baru apalagi yang kudapat kali ini? "Iya. Soalnya saudara kandung Mama-nya Mas Iki itu cuma ada empat. Mamanya Mas Iki sulung, yang kedua Tante Rumi si Mama-nya Mas Aru, ketiga Mama gue, dan terakhir Om Aryo kerja di Singapura" "Gue rasa Mama gue sama Om Aryo ga pernah terima donor darah deh. Kalau om Aryo ga tau juga ya soalnya jauh" Aku hanya mampu terdiam mendengar hal tersebut. Kenapa dunia ini bisa begitu sempit sekali? Bagaimana bisa aku dikelilingi oleh para keluarga Vania begini? *** Visa Ranico, Prabumulih, Sumatera Selatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN