***
Dengan wajah yang tertekuk masam, aku terus mengunyah suapan demi suapan makan siangku kali ini. Hampir tiga puluh menit rasanya aku mendengar rekan-rekan kantorku tengah membicarakanku secara terang-terangan saat ini. Mengungkit tindakanku dan Gaharu tadi pagi saat insiden dibawah kubikel.
"Gila ya? Keponya ga ngotak banget Boss kalian" aku menaruh sendok yang tadi kupakai dengan kasar keatas meja.
"Ngerasa ga sih? Tingkah Pak Boss makin lama makin ga jelas ya, Mbak?"
That's great Atika! Akhirnya ada yang sepaham denganku! Ya walaupun gadis cantik ini juga ikut-ikutan menggodaku diawal pembicaraan.
"Iya 'kan?! Bukan Mbak doang berarti yang ngerasa"
"Dih beliau mah dari dulu udah aneh. Dari awal kalian belom kerja disini pun tingkahnya emang aneh. Tapi ga separah ini sih anehnya" Tawa Mbak Ika meledak hebat. Membuat karyawan yang ada di sekitar meja kami jadi ikut menoleh ke meja kami.
Sadar karena diperhatikan, Mbak Ika tersenyum canggung ke sekelilingnya seraya meminta maaf. Namun tak lama kemudian, janda anak satu ini malah kembali nimbrung untuk mem-bully ku.
Huh! Dasar Mbak Ika!
"Gue penasaran sih, kalian ngobrolin apaan dibawah kubikel" Miko ikut menimpali.
"Halah kepo lu!" Jawabku kesal. Ingin sekali rasanya memukul mulut Miko menggunakan sendok stainless yang tengah kupegang saat ini. Namun niat jahat yang otakku pikirkan ini urung terealisasi ketika Mas Daren ikut andil buka suara dalam percakapan memuakkan ini.
"Hampir empat tahunan Mas kerja sama Si Bos tapi ga pernah tuh liat beliau kalau ngobrol mau dibawah kolong kubikel" komentar Mas Daren. Cengiran menjijikan pria itu sangat ingin membuat aku memuntahkan semua makan siang yang telah masuk ke mulutku saat ini.
"Ya kali si Bos kalo mau ngobrol pergi ke kolong kubikel dulu, Mas. Ribet banget kayak panitia" sahut Miko santai, yang disambut dengan gelak tawa semua orang. Terkecuali aku.
Sementara aku memutuskan untuk kembali menghabiskan sisa makanan yang ada di piringku dan mengabaikan celotehan para rekanku. Tindakan Pak Gaharu tadi pagi benar-benar membuat aku jadi topik pembicaraan utama sepanjang hari ini.
"Kalau ternyata Pak Gaharu suka sama Mbak Aden, gimana Mbak Aden?"
Pertanyaan spontan yang dilayangkan Rama membuat sendok yang ada digenggamanku reflek terlepas. Sehingga menghasilkan bunyi yang nyaring kala sendok tersebut beradu dengan piring beling wadah makanan siangku. Hal ini membuat para rekan kerja-ku yang tadinya sedang sibuk berbincang-bincang, menjadi fokus pada diriku.
Tanganku sedikit bergetar ketika pertanyaan atau pernyataan yang berhubungan dengan hal itu ditujukan padaku. Kurasakan keringat dingin mulai menembus punggungku dan membuat kemeja katun berwarna navy yang kugunakan saat ini menjadi setengah basah.
"Ga- ga mung..khii..nn.. lah.."
Aku bersusah payah untuk mengucapkan kata-kata tersebut. Juga berusaha keras menjaga agar nada suaraku masih terdengar sok asik dihadapan teman-temanku. Namun aku tak mampu. Jantungku mulai berdetak kencang dan napasku mulai tersengal.
Aku tau benar itu hanyalah sebuah candaan. Namun aku sangat sensitif sekali tentang urusan seperti ini.
"Apaan sih, Ram? Lo kalo ngomong dijaga!"
"Tapi Rama cuma becanda, Mas Miko" raut wajah Rama berubah menjadi pasi.
"Makanya lihat-lihat situasi dulu kalau mau bercanda. Udah gede juga, kamu"
Kulihat Miko yang tadinya duduk di seberangku tiba-tiba berdiri lalu memutari meja, mendekat kepadaku.
"Masih kuat jalan ga? Ayo kita ke ruang P3K dulu"
Aku mengangguk dan langsung memegang erat lengan Miko. Berjalan perlahan kearah lift dengan napas yang tersengal membuatku cepat merasa lelah.
"Gapapa relax aja. Itu becandaan kok enggak beneran. Stay calm doong" ucap Miko mencoba menenangkan di sepanjang perjalanan menuju ruang P3K perusahaan.
***
Aku berjalan bersisian dengan Miko di koridor menuju ruangan divisi Marketing. Saat ini kondisiku sudah lumayan membaik. Tapi kata Miko sih masih sedikit pucat.
Tadi, Miko merawatku dengan cukup baik. Pria itu menjelaskan kondisiku tanpa memberitahu hal apa yang sebenernya terjadi. Ia hanya berkata pada dokter yang bertugas jika ada hal yang memicu terjadinya trauma dan ketakutan yang terjadi padaku. Jadi dengan sigap dokter jaga langsung memberikan Benzodiapine, obat penenang yang sama seperti yang sering aku dapatkan dari psikologku dan biasa aku konsumsi. Bahkan ku rasa baru tadi pagi aku mengkonsumsi obat ini.
"Entar minta waktu sama Pak Gaharu yaa biar lebih sering lagi lo konsultasinya. Kalau cuma sekali seminggu mah bakal susah buat lo sembuh"
"Ya lagian siapa suruh bukanya Senin sampai Sabtu doang. Kan di hari itu orang-orang pada kerja. Mana Sabtu cuma setengah hari lagi. Malah berasa ga enakan gue sama Mbak psikolognya" aku menghembuskan napas panjang.
"Ketemu diluar ga bisa apa?"
"Nambah biayanya, Ko. Lumayanlah ongkosnya kaya paket data roaming yang biasa lo beli kalau mau nelpon cewek lo" aku tertawa kecil menanggapi pertanyaan Miko.
"Buset!!!" Wajah Miko terkejut bukan main.
"Tutorial membuat diri semakin miskin" ucap Miko yang kembali mengundang tawaku.
"Sekarang lo tau kan Den, kenapa gue sering nelpon cewek gue pake telepon kantor?"
"Emang otak korupsi mah susah" ledekku.
"Ya gimana daripada meninggal di kosan gara-gara ga makan"
Aku kembali tertawa mendengar ucapan Miko. Memang benar. Satu kali berkonsultasi ke psikolog harganya lumayan juga untuk ukuran orang sepertiku. Untungnya Ibu sering memberiku sedikit bagian uang sewa kos untuk membantu biaya pengobatan psikisku. Walapun pada awalnya sudah ku transfer semua, tapi beliau malah mentransfer balik sebagian uang kos yang kukirim padanya.
"Mbak Aden, Rama minta maaf banget. Rama ga bermaksud apa-apa! Apalagi sampai buat Mbak Aden gini. Rama ga maksud beneran!" Aku terkejut ketika baru saja memasuki ruangan divisi Marketing namun sudah disambut dengan permintaan maaf dari Rama.
"Rama ga tau kalau Mbak Aden punya fobia kayak gitu" ucap Rama lagi seraya menunduk.
Aku tersenyum kecil. Akhirnya rekan se-timku tau akan kondisi ini. Awalnya hanya Miko dan Mbak Ika saja yang kuberi tahu tentang masalah psikologisku. Mereka berdua juga sering menyarankan psikolog atau psikiater Jakarta bagus yang dapat kudatangi untuk melakukan sesi terapi.
"Gapapa, Rama. Mbak udah baikan kok. Lain kali jangan bahas-bahas kayak gitu lagi ya.. Mbak rada sensitif soalnya kalau menyangkut hal kayak gitu"
Aku cukup tersiksa akan hal ini. Kondisi takut akan jatuh cinta dan dicintai. Philophobia. Ya. Aku menderitanya. Sudah sekitar tiga tahun lebih aku menderita phobia ini, tepatnya ketika aku berada di tahun-tahun terakhir perkuliahan.
Dan yang menjadi penyebabnya adalah mantan pacarku. Dia pria terburuk yang pernah ku temui. Pria terburuk yang mampu membuatku trauma hebat pada pria-pria lain yang menyukaiku maupun kusukai.
Aku akan langsung mengalami gangguan kecemasan yang parah ketika orang lain sudah menyinggung tentang 'perasaan'. Aku hidup dalam penderitaan. Takut dicintai pria dan takut membuat pria jatuh cinta padaku.
"Iya Mbak, Janji. Rama enggak akan gegabah lagi kalau ngomong" Rama mengangguk cepat dan menatapku dengan wajah yang sangat menyesal.
"Ini diminum ya, Mbak"
"Makasih" aku tersenyum melihat tiga s**u kotak strawbery favoritku yang diberikan Rama. Biasanya ini adalah sarapanku setiap pagi yang mampu membangkitkan mood. Mereka memang tahu akan diriku.
"Kalau kamu kurang sehat, istirahat aja dulu. Kerjaan biar yang lain aja handle-nya." Tatapan Mas Daren menyiratkan bahwa ia kasihan. Bukan hanya Mas Daren saja sih, tapi hampir seluruh orang yang ada di ruangan ini menatapku begitu. Biasanya sih Mas Daren kalau menyangkut kerjaan marah-marah selalu, hampir tak ada toleransi. Tapi untuk kali ini ia sungguh berbaik hati untuk membiarkanku free.
"Gapapa, Mas. Ini udah mendingan ko-"
"Kenapa rame-rame?"
Perkataanku terpotong kala seseorang menginterupsi begitu saja. Kerumunan yang ada di sekitar kubikelku juga tiba-tiba bubar. Kehadiran Gaharu yang datang secara tiba-tiba memang mengejutkan kami semua.
"Ngapain?"
Kusadari semua orang semakin gelisah saat Pak Gaharu kembali mengulang pertanyaannya. Penasaran sekali orang tua ini ya?
"Ngobrol biasa doang, Pak.. hehe" Mbak Ika tertawa kecil di akhir kalimatnya. Aku tahu, pasti ibu-ibu ini hanya sedang menghilangkan kegugupannya saja dengan tertawa canggung begitu.
Kulihat Pak Gaharu mengangguk setelah mendengar alasan klasik dari Mbak Ika. Namun, tiba-tiba saja pandangan mata pria itu beralih padaku. Membuatku terkejut dan tak sempat mengendalikan ekspresi wajahku.
"Kamu!"
"Tolong bawain hasil diskusi planning A Minggu lalu, keruangan saya"
"Baik Pa-"
"Biar saya aja, Pak"
Aku menoleh cepat melihat kearah Miko. Saat ia juga sedang menoleh ke arahku, kugelengkan kepalaku guna memberi tanda pada pria itu agar jangan memberitahu apapun pada Pak Gaharu tentang apa yang terjadi saat ini.
"Kenapa harus kamu?" Tanya Pak Gaharu bingung.
"Sekalian ada yang mau saya tanyain soalnya sama Bapak"
Tanpa sadar napasku terhembus lega kala mendengar jawaban yang keluar dari mulut Miko. Tumben sekali teman rusuhku itu tidak bertingkah menyebalkan hari ini. Apa aku harus sakit begini terus agar dia selalu baik padaku dan tidak menyebalkan?
"Tanya disini aja ga bisa?" Aku hampir menyemburkan tawaku ketika melihat ekspresi Miko saat melihat wajah songong Gaharu ketika beliau bertanya.
Wajah Miko cengo dengan ekspresi mulut yang sedikit menganga dan mata memandang Gaharu bingung. Berbanding terbalik dengan Gaharu yang berdiri dengan angkuh, alis kirinya yang naik dan ekspresi wajahnya yang Tampol-able.
"Enggak lah Pak. Ini agak privasi soalnya. Cuma urusan saya sama Bapak aja, yang lain ga perlu ikut-ikutan tahu juga"
"Oh yaudah, masuk aja"
Gaharu melenggang pergi memasuki ruangannya. Berjalan dengan angkuh lalu menutup pintu ruangannya.
"Gapaham lagi gue sama pola pikir beliau, Sumpah!"
Tawaku seketika pecah saat melihat Miko yang tiba-tiba saja mengambil kertas secara random lalu mengipas-ngipasnya seolah sedang merasa kegerahan.
***
Visa Ranico
Prabumulih, Sumatera Selatan