Bawah Kubikel

1476 Kata
*** Tungkai-ku berjalan memasuki kawasan kantor dengan mata yang terus mengawasi sekitar. Sesekali kepalaku menunduk kala melihat pria yang perawakannya mirip dengan Gaharu. Perasaan was-was jika saja bertemu pria itu membuatku jadi berkeringat sepagi ini. Benar. Aku sedang sembunyi dari Pak Gaharu. Walapun aku tahu itu mustahil dilakukan, mengingat kami bekerja dilingkungan yang sama. Bahkan satu divisi. Dengan status ia sebagai Manager dan aku kacungnya. Kemungkinan cara ini berhasil minus 0,001%. Ya. Hanya mukjizat langka yang mampu membuatnya berhasil. Namun apa salahnya mencoba 'bukan? Brukk! Aku mengusap wajahku yang baru saja menabrak punggung seseorang. Dahiku sedikit merasa kesakitan karena punggung tersebut benar-benar keras. Aku bak menabrak kumpulan otot yang tumbuh dipapan kayu. Tidak fokus memang membuatku selalu sial! "Eh maaf, Pak. Saya ga liat kalo ini lift direksi" Aku shock ketika mendapati punggung siapa yang baru saja kutabrak. "No problem" Pak Danendra tersenyum melihat wajahku yang cemas. Pria itu memberi kode pamit dengan mengangguk sekali sebelum masuk kedalam lift. Heol! Bisa-bisanya aku membuat ulah sepagi ini pada si pemilik tempatku mencari nafkah. Benar. Itu tadi Pak Danendra. Si pemilik perusahaan tempatku bekerja ini. Si pemuda kaya yang dua tahun lalu membeli hampir seluruh saham milik Pak Jayadi Ibrahim. Si Jackie Chan dari Pondok Indah. Lebih tepatnya mantan CEO kami yang kerap bergonta-ganti sekretaris. Ingat serial Marriagephobia 'kan? (Btw marriagephobia novel bisa kalian dapatkan diseluruh toko buku yang ada di Indonesia^^) Btw, setelah menikah pria itu menjadi lebih ramah dan murah senyum dengan karyawannya, ya? Kak Faranisa dari divisi Keuangan benar-benar mampu menaklukan hatinya ternyata. Iri sekali! Aku juga ingin kembali merasakan fase dicintai dan mencintai tanpa adanya kecemasan. Bisakah aku sembuh dan memulai hubungan asmara lagi dengan seorang lelaki? *** Aku terus menundukkan kepalaku ketika sudah sampai di ruang divisi Marketing. Sesekali kulirik situasi ruangan saat ini. Memastikan apakah aman dari hadirnya Bos-ku itu atau tidak. Namun kurasa Gaharu belum datang. Pasalnya jendela yang ada di ruangannya belum ada tanda-tanda secercah sinar masuk. Yang artinya belum dibuka oleh siapapun. Bisa terlihat samar dari pintu kaca buram ruangannya yang ada disudut sana. "Kenapa nunduk terus lo? Lagi cosplay jadi padi?" Tak kutanggapi ucapan Miko yang memancing emosi tersebut. Aku tetap menyibukkan diri dengan ponselku, terus menundukkan kepala bersembunyi dibalik kubikel. "Den? Lo sakit? Belum sarapan?" "Atau lo ngantuk lagi gara-gara dengkuran maut anak kos-lu itu?". "Lo radang tenggorokan apa gimana sih?" "WoiLo ada masalah sama gue? Lagi silent treatment apa gimana nih?" Karena jengah terlalu sering mendengar ucapan tak berbobot Miko, aku pun mengangkat kepalaku menatapnya. Kuangkat jari telunjuk dan menaruhnya di depan bibirku. Seolah memberi tanda untuk 'Diam' pada pria itu. "Apaan sih lo, ga jelas banget hari ini. Kalo marah sama gue bilang. Jangan diem kayak gini!" Baru saja aku ingin menjawab ucapan Miko dengan berapi-api, namun tak sengaja ekor mataku melihat siluet Gaharu yang baru saja datang dan berjalan melewati kubikelku. Otakku refleks memerintahkan untuk bersembunyi di bawah kubikel. Berpura-pura menjatuhkan barang dan mengambilnya. Hampir tiga menit aku berada di bawah kubikelku ini. Cukup lama untuk ukuran orang yang hanya ingin mengambil sesuatu yang terjatuh. Namun untuk memastikan jika pria itu sudah benar-benar masuk kedalam ruangannya, aku memutuskan untuk mengintipnya. Tapi ketika kepalaku hendak mengintip kearah luar, aku dikejutkan dengan sepasang sepatu pantofel mengkilap yang berada di depan tempat persembunyianku. Dan tak lama kemudian, alangkah makin terkejutnya aku ketika si pemilik sepatu ini menundukkan kepalanya, melongo kebawah kubikelku yang notabenenya adalah tempat persembunyianku sekarang. "Ngapain kamu ngumpet-ngumpet?" "Ma- mana ada saya ngumpet, Pak" "Kenapa lama banget disana? Emang ada apa di bawah kubikel kamu?" Gaharu berjongkok di depanku. Sehingga jarak yang tercipta cukup dekat antara kami. Wangi parfum pria itu yang menusuk ke indera penciuman 'pun semakin membuatku pusing saking dekatnya jarak kami saat ini. Timbul keinginan kuat dalam diriku untuk berteriak didepan wajahnya saat ini, guna menyuruh pria gila ini mundur. Namun apa daya. Kata-kata makian yang ada dikepalaku untuk Gaharu tertahan semuanya ditenggorokkan. "Kamu nyaman di bawah sana? Nanti saya minta tolong OB aja buat pindahin barang-barang kamu di atas kubikel sana jadi disini" Nyaman kepalamu! Kaki dan leherku lumayan keram juga karena tertekuk dan tak mampu bergerak bebas. Sarkasme yang bagus Pak Bos! "Saya mau keluar, Pak. Misi-" Duk! Aku refleks kembali memundurkan tubuhku, akibatnya punggungku membentur bagian sisi belakang kubikel karena terkejut. Gila! Bukannya memberi ruang untuk aku keluar dari bawah sini, Gaharu justru masih bergeming ditempatnya. Hampir saja wajahku menabrak wajahnya karena tidak memberikanku ruang untuk keluar. Dan puji syukur sekali Tuhan memberikanku refleks yang sangat bagus. Salah gerak sedikit lagi saja bisa tabrakan maut wajah kami berdua. "Pak permisi saya mau keluar dari sini" aku memaksakan senyuman ketika meminta izin kepada pria ini. "Emang benar kamu sudah punya pacar?" Aku hampir pingsan ketika Pak Gaharu tiba-tiba kembali mengungkit perkara chat salah kirim semalam. Benar-benar tipe pria blak-blakan yaa orang ini. Bahkan tidak melihat situasi sedikitpun untuk membahas hal ini! Kuingatkan kembali bahwa saat ini kami sedang ada dibawah kubikel. Kubikel! "Pak ini jam kantor loh, kenapa jadi bahas-bahas hal pribadi gini?" Tak kututupi lagi mimik muka tak nyamanku pada Gaharu. Bahkan nada bicaraku terdengar sedikit ketus. Tak ramah seperti sebelumnya. "Saya cuma nanya aja" raut wajah Gaharu tetap datar dan terus menatapku. 'Ya mana punya. Orang saya aja takut banget-bangetan kalau ada cowok yang tiba-tiba bilang suka atau cinta sama saya!' Ingin sekali rasanya berteriak begitu sekarang. Namun sayangnya kesadaranku masih penuh untuk tidak keceplosan berteriak begitu. "Nanya aja kan? Kalau pertanyaan pribadi kayak gini saya rasa ga wajib buat dijawab" jelasku. "Saya butuh konfirmasi!" Ucap Gaharu cepat. Apasih! Kenapa aku serasa di desak begini? "Emang kenapa kalau saya ga punya? Kalau punya 'pun apa korelasinya sama Bapak?" Ucapku seolah menantang. Selain itu aku juga ingin melihat reaksi beliau. Sebegitu tertariknya kah dia dengan kehidupan para kacungnya? Padahal kehidupan selebriti tanah air lebih menarik untuk diikuti. Gaharu menggelengkan kepalanya. Kemudian jawaban pria itu selanjutnya sungguh sangat membuat perubahan mood pada diriku secara signifikan. "Nggak sih.. saya mah yakin kamu ga punya pacar" Mataku membelalak mendengar tanggapan meremehkan dari Pak Gaharu. Ini ngatain seolah-olah diriku tidak laku? Hei! Tidak punya pacar bukan berarti tidak laku ya! Bagaimana mau punya pacar kalau akunya saja takut ketika orang lain menyukaiku. Sulit menghadapi trauma ini. Wah sialan sekali! Selain suka mempermalukan diriku dihadapan rekan team, Bos-ku ini juga mempermalukan harga diriku? Mengataiku 'Tidak Laku' secara tidak langsung? "Saya punya kok!" Ucapku lantang. Terjadi hening sesaat setelah aku bicara. Sampai akhirnya pria itu dengan gilanya memberondongku dengan sejuta pertanyaan yang langsung membuat kepalaku pening. "Oh ya? Siapa?" "Umurnya berapa?" "Kerja dimana? "Tinggal dimana dia?" "Emang dia ganteng?" "Lebih ganteng saya atau dia?" Aku hanya tercengang mendengar pertanyaan memberondong dari Gaharu. Mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut bahkan membuatku lupa akan rasa sakit di punggung dan leherku akibat tertekuk lama karena terjebak dibawah kubikel ini bersama Gaharu. "Ke.. ke.. kenapa Bapak nanya-nanya terus? Ini masalah pribadi dan ga ada urusannya sama masalah kerjaan. Kita ga sedekat itu untuk saya ngasih tahu semua hal tentang saya ke Bapak!" Aku meneguk ludahku susah payah. Fyuu hampir saja ketahuan jika aku berbohong perihal pacar. Respon pria ini sungguh di luar dugaan ternyata. Bisa-bisanya sampai sedetail itu bertanya. Para Wartawan infotainment sepertinya harus belajar dari Gaharu kurasa. "Kalau gitu, gimana caranya biar saya bisa tahu semua tentang kamu? Emang kamu mau saya pacarin biar kita jadi deket?" HEH! Jantungku berdegup cepat. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit punggungku. Perutku mulai mual ketika mendengar ucapan Pak Gaharu. Sialan! Kenapa jadi terpicu muncul reaksi begini disaat situasi begini sih! "Apaan sih!" Aku mendorong paksa d**a Pak Gaharu yang ada di depanku. Begitu ia terjatuh ke lantai aku langsung meringsek keluar dari bawah kubikel sempit ini. Tenang Adena. Kata dokter Reni, anggap itu sebagai salah satu gombalan yang buaya darat lontarkan. Jangan panik. Kalimat Gaharu tadi saja belum jelas. Tak butuh waktu bermenit-menit untuk aku sadar akan tindakan gilaku ini, aku kembali menghampiri Pak Gaharu dan membantunya untuk berdiri. "Maaf Pak, lagian tadi saya udah minta izin buat keluar tapi Bapak ga mau ngasih jalan" aku menundukkan kepalaku setelah membantu Pak Gaharu berdiri. Bersiap menerima ocehan pria ini dengan mata tertutup takut. "Adena" Aku meneguk ludahku dengan bersusah payah ketika namaku disebut dengan nada suara yang terdengar datar oleh Gaharu. "Iya, Pak saya salah" ucapku mendahului. "Saya mau ketemu pacar kamu" Setelah mengatakan kalimat tersebut, Gaharu melenggang pergi meninggalkanku masuk kedalam ruangannya. Dan ketika beliau sudah pergi, secepat kilat aku mengobrak-abrik isi tasku guna mencari obat anti kecemasan yang biasa aku makan ketika panik hampir tak terkontrol begini. Dan beberapa menit kemudian, napasku kembali berangsur membaik. Penglihatanku mulai terkontrol dan jantungku sudah berdetak dengan kecepatan yang semestinya. Ketika beberapa menit setelah keadaan tubuhku normal kembali, ucapan terakhir yang Gaharu lontarkan padaku tadi kembali teringat. Sejenak pikiranku blank. Mataku menatap layar komputerku yang belum menyala dengan tatapan kosong. Satu hal yang saat ini tengah ku pikirkan. Aku Mampus! *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN