bc

Bayi Tak Bernasab

book_age18+
194
IKUTI
1.9K
BACA
kickass heroine
boss
heir/heiress
drama
bxg
detective
city
harem
affair
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

Bocah berumur satu tahun itu melonjak kegirangan karena terdapat banyak balon yang mengelilingi mereka. Melihat putranya yang begitu gembira tak terasa Gendis bernyanyi sambil meneteskan air mata. Dia terharu melihat betapa bahagianya bocah lelaki itu, Gendis merangkul erat dan memeluknya, dia menciumi kedua pipi gembul itu.

"Selamat ulang tahun Rahandika Kai Niskala, seperti arti namamu kau harus menjadi seorang lelaki yang kuat bagaikan prajurit gagah dan perkasa juga berparas tampan. Tak ada yang perlu kau takutkan di dunia ini, karena ibu akan selalu ada untukmu," ujar Gendhis.

Sejak kejadian terakhir di Ponorogo Gendis memutuskan untuk hijrah ke Surabaya, dia memulai hidup barunya bersama anak yang dikandungnya. Karena saat itu Gendis memang sedang hamil dua bulan. Ingin rasanya dia memberitahu Rio saat itu, namun kenyataan pahit menyadarkannya. 

Kedatangan Sifa dan Purwati membuat Gendis pun perlahan mundur dari cinta segitiga itu. Dia tahu percuma saja memperjuangkan Rio untuknya, karena Rio sendiri tak memiliki ketegasan mengambil sikap. Dia tipikal lelaki yang mementingkan diri sendiri, Gendhis juga menyadari bahwa sang buah hati juga tak akan bisa memperjuangkan haknya. Karena dia adalah bayi tak memiliki nasab, maka dari itu Gendis memutuskan untuk pergi menjauh dan membuka lembaran baru. Namun dia tersadar saat Purwati meninggal dunia dan membuat satu wasiat di luar dugaan Gendhis. Kai yang membutuhkan Akta kelahiran, ketika berjuang tentang akta kelahiran datang sosok Mulki. Lelaki yang ternyata adik Sifa. Bagaimanakah kelanjutan cinta segi empat itu? Mana pilihan Gendhis?

AKANKAH GENDHIS KEMBALI PADA RIO MENJADI ISTRI KEDUA DEMI ANAKNYA? ATAU MENIKAH DENGAN POHAN BEDA AGAMA? ATAU MEMBUKA LEMBARAN DENGAN MULKI ADIK SIFA?

chap-preview
Pratinjau gratis
Timezone
Timezone! "Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, Sayang! Selamat ulang tahun," kata Gendhis sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk putranya. Bocah berumur satu tahun itu melonjak kegirangan karena terdapat banyak balon yang mengelilingi mereka. Melihat putranya yang begitu gembira tak terasa Gendis bernyanyi sambil meneteskan air mata. Dia terharu melihat betapa bahagianya bocah lelaki itu, Gendis merangkul erat dan memeluknya, dia menciumi kedua pipi gembul itu. "Selamat ulang tahun Rahandika Kai Niskala, seperti arti namamu kau harus menjadi seorang lelaki yang kuat bagaikan prajurit gagah dan perkasa juga berparas tampan. Tak ada yang perlu kau takutkan di dunia ini, karena ibu akan selalu ada untukmu," ujar Gendhis sambil mencium pipi gembul Kai. Hari ini tepat Kai berumur satu tahun, tak ada perayaan istimewa. Gendis memang sengaja merayakannya hanya berdua dengan sang buah hati. Sejak kejadian terakhir di Ponorogo Gendis memutuskan untuk hijrah ke Surabaya, dia memulai hidup barunya bersama anak yang dikandungnya. Karena saat itu Gendis memang sedang hamil dua bulan. Ingin rasanya dia memberitahu Rio saat itu, namun kenyataan pahit menyadarkannya. Kedatangan Sifa dan Purwati membuat Gendis pun perlahan mundur dari cinta segitiga itu. Dia tahu percuma saja memperjuangkan Rio untuknya, karena Rio sendiri tak memiliki ketegasan mengambil sikap. Dia tipikal lelaki yang mementingkan diri sendiri, Gendhis juga menyadari bahwa sang buah hati juga tak akan bisa memperjuangkan haknya. Karena dia adalah bayi tak memiliki nasab, maka dari itu Gendis memutuskan untuk pergi menjauh dan membuka lembaran baru. 'Tok' 'Tok' 'Tok' pintu diketuk oleh seseorang, Gendis pun membukanya. Nampak lelaki keturunan yang selama ini membersamainya. Hampir dua tahun mereka bersama tetapi tanpa ikatan yang jelas "Happy birthday, anak Daddy," kata lelaki itu sambil menggendong Kai dan mengulurkan hadiah dalam box. "Kau itu gila ya, Gendis! Anak ulang tahun kok temanya hitam-hitam seperti ini," tegur lelaki itu. "Loh memangnya kenapa? Menurutku sah sah saja, apalagi aku memang menyukai warna hitam. Bukankah ini elegan?" tanya Gendis. "Sama sekali tak elegan dan tak lucu, kau terkesan berduka di hari yang harusnya menjadi sukacita anakmu. Kau jangan mencampur aduk kan perasaanmu dengan perasaan bayi ini. Bayi ini tak berdosa, tak bersalah. Ulang tahunnya harusnya semarak dengan warna biru yang lucu dengan badut dan balon-balon yang meriah bukan seperti ini," jelas Pohan. "Tak apa, aku menyukainya, Pohan! Duduklah aku sudah memasak nasi kuning spesial untuk kita makan bersama," perintah Gendis. Pohan pun menganggukkan kepalanya setuju. Mereka pun makan bertiga, dengan telaten Pohan menyuapi Kai yang mulai lahap makan. "Hari ini rencananya kau mau ke mana?" tanya Pohan lagi. "Tak ada rencana ke mana-mana, memang kenapa?" sahut Gendhis yang sibuk membereskan meja makannya. "Bukankah hari ini ulang tahun Kai? Setidaknya kita bisa mengajaknya jalan-jalan sebentar, bagaimana kalau kita ke mall saja? Kita bisa membawa Kai ke playground atau Timezone," usul Pohan. "Boleh saja, rasanya itu cukup menarik," jawab Gendhis. "Kai! Kau mau pergi ke Timezone dengan Daddy?" tanya Pohan. Kai pun hanya menganggukkan kepalanya sambil bertepuk tangan seolah-olah dia sudah mengerti apa yang dikatakan di katakan lelaki di hadapannya. Pohan pun mengelus kepala balita itu perlahan. Setelah makan nasi kuning, mereka memutuskan untuk segera pergi ke mall. Kalau di lihat sekilas, mereka pergi bertiga layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia. Apalagi dengan telaten Pohan mendorong stroller Kai, sedangkan Gendis berjalan di sampingnya. Mereka menuju ke salah satu Timezone. Tanpa mereka sadari sepasang mata yang tertutup cadar melihat kedatangannya. "Astaghfirullahaladzim, bukankah itu Gendis," batin wanita itu. Dia menatap erat keberadaan Gendis dan Pohan serta balita di dalam stroller yang di dorong. Tangannya seketika mengeluarkan keringat dingin, matanya segera mencari sosok suami yang sedang asyik bermain dengan putra mereka. Sontak saja Sifa segera menggeret lengan Rio untuk pergi meninggalkan Timezone itu. "Ayo kita pergi sekarang, Mas!" perintah Sifa. "Kenapa memangnya? Lihatlah Farhat masih asik bermain seperti ini," tolak Rio asik bermain mobil- mobilan dengan putranya. "Tak apa-apa, perutku sedikit kram," ujar Sifa lagi mencari alasan. Dia takut Rio melihat Gendis, meskipun sekarang hubungannya sudah membaik dengan Rio, tetapi tak menutup kemungkinan jika Rio melihat Gendis lagi dia akan tergoda. Padahal selama ini Sifa sudah berjuang mati-matian untuk membuat sang suami lupa pada selir kesayangan suaminya itu. Perjuangan Sifa yang lumayan panjang sudah membuahkan hasil terbukti dari kehamilan Sifa sekarang ini. Dia tak ingin Rio kembali terjerumus lagi. "Baiklah kalau begitu, Farhat ayo kita cari makan dulu dan minum es krim yuk," ajak Rio pada putra pertamanya. Ini kali pertama mereka memang ke Timezone karena selama berada di Ponorogo Rio tak pernah mengajak putranya bermain di area mall. Kebetulan karena keponakan Rio yang berada di Surabaya menikah mereka pun mampir ke mall untuk sekedar berjalan-jalan. Untung saja Farhat anak yang patuh, dia menurut saja ketika orang tuanya mengajaknya pergi. Sifa segera menuntun Rio ke arah yang berlawanan agar mereka tak berpapasan dengan Gendis dan Pohan. AKANKAH TAKDIR MEMBAWA GENDIS DAN RIO BERTEMU LAGI? Bersambung Baca SEASON 1 Ketika Suamiku Izin Poligami

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.4K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.2K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.2K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook