Café kecil itu terlihat sepi, mungkin karena saat ini sudah hampir sore. Tidak banyak orang yang mampir ke sini, hanya beberapa pelajar dan ibu-ibu muda bersama putri mereka. Lessi menghela napas panjang ketika melihat anak kecil itu, ia teringat Cella, keponakan Davian. Teringat tentang mimpi dan harapannya untuk memiliki keluarga yang utuh. Es krim di hadapannya sudah mulai mencair, sejak tadi dia hanya mengaduk-aduknya tanpa minat. Biasanya saat ia melihat es krim, tidak perlu menunggu lama untuk menghabiskannya. Rasanya hampa, padahal saat ini ia sedang bersama pria yang dicintainya. Atau apakah perasaannya yang sudah berubah? Lessi menggelengkan kepalanya, berusaha menghapus pikiran ngaconya pada Davian. Ia tidak mungkin mencintainya, ia hanya mencintai Louis. Louis yang menyadar

