"Selamat sore, Tuan Smith," ucap Lessi sopan. Dalam hati ia merasa gugup. Lessi belum memikirkan apa yang akan ia katakan jika bertemu dengan pria ini. Ia hanya ingin bertemu untuk membantu Davian, selebihnya ia sama sekali belum tahu. Pria yang dipanggil Smith itu tidak menjawab, ia memasang tampang dingin dan angkuh. Mungkin semua pengusaha terkenal memang punya sifat seperti itu, seperti Davian. Lessi meringis. Kenapa semua hal mengingatkannya dengan Davian? Mengingat Davian hanya membuat Lessi semakin terluka, seolah ada lubang menganga di dalam jantungnya. Hentikan! Ia harus fokus. "Apa yang Anda inginkan? Kalau Anda ingin meminta maaf untuk suami Anda, sia-sia saja Anda menunggu saya seharian ini," ucapnya datar. Kalau saja Lessi tidak mengingat Davian, rasanya ingin sekali ia m

