Yang Davian sesalkan adalah, kenapa ia harus bertemu dengan nenek sihir yang paling tidak ingin ia temui sekarang ini? Dari sekian juta orang di negeri ini, kenapa harus dia yang datang ke kelab yang bahkan terkenal karena privasinya ini? Seolah dia punya mata-mata atau radar yang bisa menemukan Davian di mana pun ia berada. "Lepaskan tanganmu, Bri!" Davian tidak mau bersusah payah untuk menjaga suaranya tetap datar. Di ruangan tertutup dan musik yang keras ini, ia bisa berteriak sesuka hati tanpa khawatir ada orang lain yang akan datang untuk mengeceknya. "Kau kelihatan sangat kacau, Sayang. Butuh hiburan?" Bridgietta tidak memedulikan keengganan Davian, seperti biasanya. Ia malah duduk di sofa kulit mahal berwarna hitam dan menempelkan tubuhnya pada pria itu. "Aku tidak butuh apa pun

