Davian memandang kecut pada selembar map di tangannya yang dibuat oleh pengacara pribadinya. Map yang berisi kertas keputusan hidup dan matinya. Ia tahu, setelah ia memutuskan untuk membuat kertas ini, maka sepenuhnya ia akan mati. Mungkin tidak secara fisik, melainkan hatinya yang tidak akan bisa merasakan hal yang sama lagi. Pertama kalinya dia jatuh cinta, tapi ia harus melepaskannya secepat cinta itu datang. Tapi, Davian tahu kalau ia tidak boleh egois. Ia harus melakukannya. Dengan langkah yang lebih mantap dari sebelumnya, ia memasuki apartemennya yang masih gelap gulita. Davian mengerutkan kening dan menyalakan lampu ruang tamu. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar sebuah suara isakan lirih dari arah dapur. Davian mempercepat langkahnya dan mendapati istrinya sedang menangis, tu

