Suara bip bip pendek terdengar mengisi ruangan, tubuh Dennis dipenuhi selang dan perban di mana-mana. Setelah memakai pakaian steril, Louis menghampiri sahabatnya yang kini terbaring lemah. Ia meraih tangannya yang bebas dari infus. Melihat bibir Dennis yang bergerak di balik alat bantu pernapasannya. Tanpa diminta, Louis mendekatkan wajahnya pada wajah Dennis. Berusaha mati-matian menahan air matanya. Wajah tampan sahabatnya kini dibalut perban karena sebagian pasti hancur terkena pecahan kaca. Hati kecilnya terus menggumamkan kalimat sakti kalau Dennis akan selamat. "Louis ... maaf ...," ucapnya berbisik, di setiap katanya seolah merasakan sakit yang teramat sangat. "Ssttt ... Kamu tidak boleh banyak bicara, nanti kalau sudah sembuh baru boleh bicara sepuasnya," hibur Louis, menelan s

