Lessi terkesiap. Merasakan pelukan erat Davian di tubuhnya, mendengar semua ungkapan perasaan suaminya membuatnya tidak berdaya. Ia tidak akan bisa mengelak lagi, ia tidak ingin pergi. "Aku juga mencintaimu, Davian. Aku tidak akan pergi, selama kau masih menginginkanku berada di sisimu," ucapnya serak, pipinya sudah basah oleh air mata. Davian melepas pelukannya, menangkup wajah istrinya dan menatap kedua bola mata birunya yang bening dan basah. Mata itu berkata jujur, "Aku selalu menginginkanmu, Sayang." Ia menghapus air mata dengan kedua ibu jarinya. Meniadakan jarak di antara mereka dan mencium bibir mungil istrinya yang manis. Ciuman penuh kelembutan, kerinduan, dan cinta yang mendalam. Lessi melingkarkan lengannya pada leher Davian, meremas rambutnya yang berantakan. Ia menggeram k

