Bab 2. Misteri itu Ada

1686 Kata
Bab. 2 "Ada apa, Kak Rina?" aku menghampiri Kak Rina, meninggalkan beras yang belum selesai kucuci. Kak Rina terlihat bersama salah satu anak tetangga yang sering kulihat lewat bersepeda di depan rumah, dari lututnya mengalir darah segar. "Bella jatuh dari sepeda, Bidan," jelas Kak Rina. Kak Rina berusaha menenangkan Bella yang tak henti sesegukan menangis. "Tunggu sebentar, ya." Aku masuk ke kamar praktek, mencari kotak P3K. Cukup lama kutemukan karena masih jarang terpakai. "Coba kakak lihat, ya. Bella udahan nangisnya." Luka yang sering terjadi pada anak-anak, tidak parah. Hanya perlu dibersihkan dulu, menghentikan pendarahannya dengan menekan selama beberapa menit menggunakan kasa steril, lalu menutup lukanya. Kulirik Kak Rina yang duduk di sampingku, dia langsung membuang muka. Wajahnya terlihat tegang. "Udah gak apa-apa, kok, Kak," kataku. "Syukur, deh. Aku agak takut lihat darah," sahut Kak Rina. "Takut darah? Tapi kakak gak takut turun ke sungai tengah malam?" "Ah, itu kan sudah biasa." Sudah biasa? Cukup dia saja yang membiasakan itu. Aku cukup semalam saja. "Bella, bilang terima kasih sama Kak Bidan," kata Kak Rina pada Bella yang sudah berhenti menangis. "Terima kasih, Kak." "Iya, Bel. Lain kali hati-hati, ya. Ini obat merah sama kain kasa kamu bawa pulang, buat ngobatin lukanya di rumah. Nanti bilang sama Mama, ya." "Iya, Kak." Bella kemudian pulang, sembari menuntun sepedanya. Kak Rina masih duduk di teras rumahku, sepertinya kelelahan baru selesai berjualan. Aku hampir lupa ingin mengajaknya tidur di rumahku malam ini. "Kak, suami kakak ada di rumah?" tanyaku. "Ada, kok, Bidan. Memangnya kenapa?" "Ehm, gak. Amel sama Ayu, mau gak ya, saya minta nemenin saya tidur entar malam?" "Tidur di sini?" "Hehe, iya." "Kok, tumben. Kenapa?" "Ehm, saya lagi agak takut aja, Kak. Atau Kakak sekalian tidur di sini, sekali-kali." "Duh, gimana, ya. Anak saya itu masih suka ngompol." "Gak apa, kan bisa diatur." "Tapi kenapa bidan takut? Ada yang ganggu bidan?" "Gak, cuma lagi takut sendirian aja." "Oh, saya tau. Pasti karena cerita warga soal hantuwen, kan? Bidan gak usah percaya sama yang begituan." "Hem ...." "Tapi ya udah, saya usahakan nanti malam tidur di rumah bidan." "Mau, Kak?" "Iya." "Makasih, ya, Kak. Tenang aja, nanti aku beli snack yang banyak." "Gak usah lah, bidan Dea." Senang rasanya karena Kak Rina mau mengerti ketakutanku, dengan kedua anaknya, pasti rumahku jadi ramai. Biarkan saja suaminya tidur sendirian. Kan cuma satu malam. . Hingga sore,.tidak ada pasien lagi yang datang. Ba'da ashar aku kembali melakukan kunjungan nifas, biasanya hanya sampai tiga hari. Namun, aku masih mengunjungi lagi berjeda hari, hingga tali pusat bayi lepas dan sembuh. Dukun beranak, selama itu juga akan melakukan tugasnya. Biasanya mencuci pakaian kotor ibu dan anak yang baru lahir, kadang juga mereka ikut memandikan kalau bidan sedang sibuk atau sudah tidak mengunjungi. Dari yang kudengar, mereka juga melakukan pemijatan. "Bu, suami saya belum punya uang untuk pembayaran. Kalau bisa nanti tunggu sampai habis empat puluh hari, apa boleh?" "Santai, aja, Kak. Gak usah terlalu dipikirkan, nanti ASInya jadi mampet. Insya Allah ada aja rejeki debay." "Aamiin, terima kasih pengertiannya, Bu." Shintia, usianya baru dua puluh satu tahun. Menikah setahun yang lalu, dan sekarang sudah punya anak pertama. Apa kabar diriku yang sudah dua puluh enam tahun? Jodohku entah masih singgah di hati yang mana. [Ke RT 3 sekarang, ya. Tadi ada bumil yang menghubungi aku, tapi sekarang aku masih di Puskesmas. Kamu cek dulu, nanti aku nyusul.] pesan dari bidan Hana, seniorku. [Oke.] balasku cepat. Kucium kening debay yang katanya akan diberi nama Satria oleh ayahnya. Anak laki-laki pertama, pasti sangat membanggakan untuk kedua orang tuanya. Setelah kunjungan, aku langsung melajukan motor ke RT 3. Cukup lama untuk menemukan rumah bumil yang harus kucek. Setelah kuperiksa, kemungkinan akan melahirkan nanti malam. "Sudah siap ke puskesmas?" tanyaku. Pertanyaanku tak langsung dijawab, bumil dan suaminya malah saling menatap. Sepertinya masih bingung, sudah biasa kulihat ekspresi seperti itu. Mereka masih takut untuk melahirkan di puskesmas, walau alat medis di sana lengkap, juga digratiskan bila surat-suratnya lengkap. "Apa gak bisa lahiran di rumah aja, Bu Bidan?" tanya seorang ibu yang mengintip di bibir pintu kamar. "Bisa, tapi masih sempat kok, dibawa ke puskesmas. Nanti saya bantu hubungi ambulance. Mau, ya?" "Nanti saja, Bu. Kalau sudah dekat waktunya," sahut ibu tadi lagi. Aku hanya tersenyum melihat bumil, kondisi fisiknya tidak bermasalah kalau akan melahirkan di rumah. Aku tentu tidak bisa memaksa mereka, kalau mereka berat hati untuk dilayani di puskesmas. "Ya, sudah. Nanti saya atau Bidan Hana akan datang untuk cek lagi." "Iya, Bidan. Terima kasih." Aku berpamitan, lalu mengirim hasil cek pada Bidan Hana. Saat akan menyalakan motor, kulihat kehadiran Mak dukun beranak. Kalau kutebak, mungkin kali ini bumil akan melahirkan di rumah juga. . Aku baru tiba di rumah saat adzan maghrib berkumandang, sepanjang gang sudah sepi dari anak-anak yang bermain. Hanya ada beberapa kaum adam yang sepertinya akan pergi ke Masjid. Tak lama, Kak Rina datang bersama kedua anaknya. Membawa makanan dari rumah mereka. "Gak dimarahin sama suaminya, Kak?" "Gak kok, bidan. Suami saya kebetulan mau mancing nanti di danau." "Oh, oke." Lega rasanya akan ada yang menemani di rumah, akan tetapi nanti malam kemungkinan aku juga harus pergi melihat keadaan bumil tadi. Rumah tugasku masih bangunan tempo dulu, hanya berdinding dan berlantai papan. Langit-langitnya juga masih memakai sirap. Hal yang menguntungkan adalah hawa di rumah jadi lebih sejuk, panas kadang hanya saat siang hari saja. Kak Rina rumahnya sama dengan rumahku, akan tetapi sekarang dia terlihat kepanasan. Gelisah sekali sampai terlihat susah tidur, sedang kan Amel dan Ayu sudah tertidur bada isya tadi. Karena di rumahku tidak ada TV, tidak ada hiburan. Aku hanya bisa bermain gawai sembari menunggu kantuk, Kak Rina juga. "Kak, kalau panas nyalain aja kipasnya," kataku. "Eh, iya, Bidan. Panas ya, malam ini." Sebenarnya aku malah merasa agak dingin malam ini, jacket dan tas kerja sudah kusiapkan di atas meja ruang tamu. Berjaga-jaga kalau Bidan Hana butuh bantuan menangani persalinan. Malam sudah semakin larut, anehnya aku susah tidur. Kak Rina juga masih melek, bahkan sekarang dia hanya memakai kain jarik. Duduk di depan kipas, membiarkan rambut panjangnya tertiup angin. Mengerikan juga kalau dilihat dari belakang. "Kak? belum tidur?" Kak Rina terlihat terkejut, mungkin tak menyangka aku masih bangun. "Eh, iya. Mungkin karena baru kali ini tidur di sini Bidan, jadi susah tidur. Bidan dingin, ya? Saya matiin aja kipasnya." "Eh, gak apa-apa. Saya kan pakai selimut. Anak-anak juga, jadi gak apa." "Kalau gitu saya mau keluar dulu bidan, mau cari angin di depan." Kak Rina membuka pintu rumah, lalu duduk di bibir pintu. Perut yang mendadak lapar akhirnya memaksaku untuk ke dapur, mungkin lebih enak kalau makan mie rebus. Saat akan minum, kulihat air di teko sudah kosong semua. Di galon juga tersisa sedikit, aneh sekali. Selepas makan malam tadi, tak kulihat Kak Rina dan anak-anaknya minum banyak. "Bidan?" Kak Rina tiba-tiba ke dapur, wajah dan tubuhnya terlihat basah. "Saya izin mau minum, Bidan Dhea." "Oh, gak usah minta izin, Kak. Minum aja. Mau mie gak? "Ah, gak bidan. Saya gak lapar, kok." "Oh, yaudah." Aku kembali fokus ke panci, menatap mie yang tengah mengembang. Tak butuh waktu terlalu lama untuk mendaratkan mie itu ke mangkuk dan menyatukannya dengan serbuk bumbu. Mie memang tidak pernah membosankan walau tidak menyehatkan. Menunggu mie dingin, aku membawa mangkuknya ke ruang tamu. Memeriksa gawai sebentar, akan tetapi belum ada kabar. Tiba-tiba Kak Rina keluar dari dapur dengan wajah yang memucat. “Kak, Kakak kenapa?” tanyaku. “Eum, saya pulang sebentar, Bu Bidan. Ada yang mau saya ambil,” jawabnya. “Mau saya temanin?” “Gak usah.” “Yaudah.” Kalau dipikir-pikir, Kak Rina terlihat aneh juga. Namun, aku tidak perlu mengurusi itu. Setiap orang memiliki urusannya sendiri. Baru saja setengah mangkuk mie kumakan, tiba-tiba gawaiku berdering. Bumil yang kutunggu kabarnya ternyata akan bersalin, tak cukup satu bidan yang menangani karena terjadi pendarahan. Kuintip anak-anak Kak Rina yang tertidur pulas, berharap Kak Rina segera kembali untuk menjaga mereka. Kuhabiskan suapan mie, lalu memakai jaket dan bergegas menyalakan motor. Jalanan benar-benar sudah sepi, hanya ada lampu-lampu depan rumah warga yang menjadi penghias retina. Di depan rumah yang kukunjungi sore tadi, terlihat sudah terparkir mobil ambulance. Namun, tak terlihat aktivitas di luar. Tiba-tiba sebuah cahaya terlihat sangat menyala di atas atap rumah, aku mencoba memperhatikan, akan tetapi cahaya itu tiba-tiba menghilang dalam sekejab. Bulu kudukku terasa berdiri, cepat aku berlari masuk ke dalam rumah. Bidan Hana terlihat tengah memasang jarum infus, sedang Sang Ibu yang akan melahirkan terlihat masih berusaha mengejan dibantu dukun beranak. “Bidan Nadia, cepat kamu bantu,” kata Bidan Hana padaku. “Iya, Kak.” Aku mengambil posisi, memeriksa ke bawah area bersalin dan ternyata kepala bayi sudah akan keluar. “Tarik napas panjang, dan keluarkan sekali lagi, Kak.” Tarikan napas terhembus, bersamaan dengan jeritan yang melemah. Bayi berhasil keluar, darah pun deras mengalir seperti tak ada habisnya. Suara tangisan bayi terdengar, menggema nada kebahagiaan di seisi rumah. Sebuah pengorbanan yang tak akan ada balasannya, rasa sakit yang hanya awal dari sebuah tanggung jawab besar. “Selamat ya, Kak. Bayinya perempuan,” kataku pada Ibu yang baru bersalin, dan terlihat masih lemas bersandar pada bantal. “Usahakan jangan bergerak dulu, minimal dua jam. Agar pendarahannya tidak makin parah. Sekarang darahnya mulai stabil, harus ada nutrisi yang masuk untuk memulihkan tenaga,” jelas Bidan Hana yang sejak tadi memantau kondisi Sang Ibu. Bayi yang baru saja dilahirkan, memiliki bobot yang cukup besar. Terlihat sehat dan memiliki paras menggemaskan. Aku membersihkan kotoran yang menempel di tubuhnya dengan sedikit usapan air hangat, lalu memberinya pakaian agar merasa hangat. Malam masih menuju dini hari, kediaman yang kami datangi mulai ramai dengan datangnya saudara pasien dan juga tetangga. “Aku tadi liat sesuatu di bawah kamar, seperti cahaya merah. Pasti kalian gak bikin benteng apa-apa supaya rumah ini gak didatangi hantuwen?” kata seorang tetangga yang terlihat cukup tua. “Yang benar, Julak?” tanya suami pasien. “Iya. Kan sudah aku bilang siapin segala kayu dan daun-daun yang bisa menyamarkan bau darahnya.” Astaga, bisa jadi yang kulihat di atas rumah tadi adalah sumber cahaya yang sama seperti yang ada di bawah rumah. Makhluk itu datang dan berada di lantai kamar untuk menikmati setiap tetesan darah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN