Mari Kita Lihat Gadis Sombong, Kita Cocok Apa Tidak?

1250 Kata
"Suamimu ... suamimu jahat. Dia merencanakan dengan Tara," kataku sambil tersengal. Ketepis kuat tangan Cinta yang mencoba memelukku. Aku masih ingat jelas saat Mas Zain sedang PDKT dengan Cinta, ia pernah bilang padaku agar berhati-hati pada Tara. Cinta menatapku tak percaya. "Maksudmu apa, Nen? Aku tahu seperti apa Mas Zain." "Maksudku jelas, suamimu itu jahat!" Aku menarik selimut lebih erat ke tubuh lalu beranjak duduk, kemudian menuding Mas Zain yang berdiri diam di ambang pintu dengan tatapan penuh benci. Di samping Mas Zain, Mas Yoga terus membisu. Redi melongok ke dalam dan akhirnya melangkah menjauh. Terdengar dari kejauhan ia mengoceh pada Tara. "Pergi kamu! Per-gi!" Aku menuding Mas Zain sambil terisak kecil. Selama ini, aku menjaga diri dari arus pergaulan bebas. Aku berbeda dengan mahasiswi sekelas yang mayoritas bebas melakukan hubungan suami istri padahal belum terikat pernikahan sah. Aku bahkan tak pernah pacaran karena bagiku hanya membuang-buang waktu saja. Mas Zain menatap Cinta yang terus memandangnya. "Aku mengingatkannya agar berhati-hati pada Tara. Aku bilang padanya agar menjaga sikap. Apa aku salah?" Mas Zain memandang Cinta. Lalu berganti menatapku. "Pergiii! Pergi!" Teriakku keras. Kuraih bantal lalu melemparkannya ke arah Mas Zain. Kulempar lagi bantal dan Mas Zain segera menangkapnya. Mas Yoga hanya berdiri diam di ambang pintu. Mantan suami sahabatku itu menoleh saat Mas Zain menepuk bahunya pelan dan pergi menjauh. Mas Yoga mengikutinya. Terdengar jelas suara Mas Zain yang menyuruh Mas Yoga untuk tabah menghadapi musibah yang menimpaku. Mas Zain berkata begitu pasti karena menyangka aku benar-benar kekasih Mas Yoga padahal sebenarnya bukan. "Nen." Cinta memelukku. Aku dengan cepat menepis tangannya. Jika ia tak mengundangku, pasti ini tak menimpaku. "Kenapa ini terjadi padaku, Cin? Kenapa?" Aku tersengal. Batinku pedih. Saat tatapanku tertuju pada pakaian juga jilbab yang berserak di lantai, aku berteriak histeris. Ini nyata ini bukan mimpi. Aku menggelengkan kepala kuat, merasa jijik pada diri sendiri. "Mas Zain ... dia merencanakan semuanya." Isakku. "Gak mungkin Mas Zain merencanakan hal jelek padamu, Nen. Aku tahu seperti apa dia. Walau dia menakutkan, tapi, aku yakin gak mungkin dia berbuat seperti itu." "Dia bilang sendiri padaku agar aku berhati-hati. Aku gak bohong, Cinta. Dia bilang begitu padaku!" Cinta mengusap rambutku yang tergerai berantakan. Aku tersengal-sengal sampai dadaku sesak. "Cinta, aku takut. Bagaimana jika pacarku tahu bahwa aku ..." Aku menggeleng kecil, tak sanggup membayangkannya jika Mas Kevin sampai tahu. Kekasihku yang seorang dokter itu bilang, bahwa ia tak pernah melakukan hubungan badan dengan siapapun, selalu menjaga diri dengan baik maka dia pun ingin calon istrinya pun begitu. Kukatakan bahwa aku sama sepertinya. Tapi sekarang ... sekarang ... Aku menggeleng kuat karena ketakutan. Aku sangat mencintainya tak ingin kehilangannya. "Cin, aku takut. Aku ta-kut." Kututup wajah dengan tangan. Cinta mengusap pelan bahuku. Dia merebahkanku di ranjang lalu menyelimutiku, lalu ia ikut merebah di sampingku, tangannya terus bergerak mengusap rambutku. Aku terus terisak-isak sampai akhirnya jatuh tertidur. *** Aku terbangun saat mendengar kokok ayam. Kutatap jam dinding pukul 5. Saat teringat kejadian semalam, rasa sedih merasuk ke benakku dan aku terisak-isak kecil karenanya. Terdengar jelas suara Cinta dan Mas Zain. "Neni bilang, bahwa kamu bilang padanya menyuruhnya berhati-hati. Apa benar, Mas?" Hening. "Ceritakan padaku biar aku gak salah paham, Mas." "Aku memang tahu Tara merencanakan akan mengerjai Neni. Begitu pun Redi juga tahu." "Jadi kalian memang merencanakannya, Mas?!" Terdengar helaan napas beras. "Kamu bisa dipenjara karena merencanakan kejahatan, Mas." "Dengarkan dulu, Cin. Aku tidak sekongkol dengan Tara. Tara memang bilang padaku akan mengerjai Neni. Tapi, aku mengingatkannya bahwa itu tidak baik, dan dia bisa dipenjara. Tapi dia tetap bersikukuh. Makanya aku memberi tahu Neni agar hati-hati. Siapa yang akan sangka akan terjadi di rumahku? Aku sama sekali tidak curiga karena ini adalah rumahku." Jadi benar semua sudah direncakan? Aku bangkit berdiri, berjalan ke arah kamar mereka dengan cepat. "Tetap saja kamu salah, Mas!" Teriakku keras, menatap suami sahabatku penuh kebencian. "Aku pulang." Aku membalikkan badan, berlari keluar sambil terisak. "Nen, tunggu!" Cinta mengejarku. Mas Zain ikut berdiri. Ia berjalan mendekati Mas Yoga yang duduk di kursi ruang tamu dengan wajah sulit diartikan. "Kenapa kamu jadi acuh setelah apa yang terjadi padanya? Lelaki macam apa kamu?!" Aku dan Cinta menoleh ke arah Mas Zain juga Mas Yoga. Suami sahabatku itu tengah mencengkeram erat kerah baju Mas Yoga. Mas Yoga tampak kebingungan, namun akhirnya ia mengangguk. Ditepisnya tangan Mas Zain lalu ia menuju kemari. "Kuantar ke rumahmu," kata Mas Yoga. "Gak perlu!" Kutepis tangan Mas Yoga yang tiba-tiba saja menggenggam tanganku. "Cinta, tolong jangan sampai ada yang tahu kejadian ini. Aku gak mau ini sampai tersebar lalu semua orang tahu." Aku menyusut air mata yang mengalir deras jatuh di pipi. Suaraku serak karena kebanyakan menangis. Cinta mengangguk. Ya Allah, apa yang akan terjadi seandainya Mas Kevin tahu? Lelaki itu sudah berencana melamarku. Aku menghela napas panjang, dadaku pedih sekali. "Pacarmu sedang sedih. Seharusnya kamu menghibur pacarmu, bukan bertindak acuh." Mas Zain menepuk-nepuk bahu Mas Yoga. "Aku bisa sendiri!" kataku saat Mas Yoga kembali menggenggam tanganku. "Nanti aku antar motor kamu, Nen. Lebih baik kamu pulang sama Mas Yoga. Aku ke rumahmu nanti," kata Cinta. Mas Yoga menggenggam tanganku, aku memberontak menolak namun ia terus memaksa hingga akhirnya aku terpaksa mengikutinya menuju halaman di mana mobilnya diparkir. POV Tara Aku berhenti melangkah saat mendengar ucapan Cinta pada Zain. "Aku merasa sangat bersalah, Mas. Apa yang harus kulakukan pada Neni." "Kamu harus menghiburnya. Dia butuh teman saat ini." "Aku akan ke sana nanti, Mas." Kuhela napas panjang. Sejujurnya, aku tak memiliki rencana menodai Neni saat tadi siang, Zain menelepon menyuruhku ke sini untuk makan malam bersama. Tapi saat membaca status WA Neni tadi sore, aku begitu jengkel padanya. Tiba-tiba terbersit di benakku untuk menodainya, dengan begitu mungkin aku bisa menikahinya. Story' WA-nya kurang lebih begini Lelaki itu sungguh gak punya malu terus menyatakan cinta padaku. Padahal sudah kujelaskan bahwa aku sudah memiliki kekasih. Apa dia gak berkaca, mana mungkin aku yang seorang bidan, menerima lelaki sepertinya yang kerjaannya membuat takut orang? Ya Allah jauhkan aku dari preman sepertinya. Jika dia membaca status ini, semoga dia sadar bahwa aku dengannya tidak cocok Plak! Zain tiba-tiba mendaratkan telapak tangannya ke wajahku. Sakit berdenyut, namun aku tak membalas. "Aku sudah bilang padamu untuk jauh-jauh dari Neni!" Tatapnya murka. Tangan Zain terangkat hendak kembali memukul wajahku, namun dihalangi oleh Cinta. "Kamu juga dulu melakukannya pada Talita!" Kubalas tatapan jengkel sahabatku. "Itu kalian yang terus membujuk agar aku mengerjai Talita. Aku tidak mau tapi kalian terus memaksaku mengerjai Talita!!" Tangan Zain terkepal kuat di sisi tubuhnya. Dia menatapku tajam seperti singa mengintai mangsa. "Sudah, kenapa kalian jadi bahas ini? Yang dulu ya sudah. Kau, Tara, tak perlu mengungkitnya. Sekarang yang penting--" Redi menatapku dan Zain bergantian. "Aku akan bertanggung jawab," kataku penuh keyakinan. Aku sangat mencintai Neni. Memang tujuannya mengerjainya agar aku bisa menikahinya. Cinta ditolak, lalukan segala cara! Itu prinsipku. Egois memang, tapi aku tidak suka ditolak apalagi dihina oleh perempuan yang kucintai. Lihat saja Neni, kamu akan jadi milikku, ucapku dalam hati penuh keyakinan. "Nanti malam, aku akan datang ke rumahnya untuk melamarnya," kataku lagi memecah pagi yang hening. Wajah Zain penuh keraguan saat dia berkata, "Dia punya pacar." "Aku yakin lelaki itu akan putus dengan Neni. lihat saja," kataku penuh keyakinan. Cinta dan Zain berpandangan. Aku lagi-lagi tersenyum penuh keyakinan. Mari kita lihat wahai gadis sombong, kita cocok atau tidak. Aku menyeringai puas saat ingat semalam. Perbuatanku memang seperti binatang, tapi itu salahnya juga menyakiti hatiku. Mari melihat, kamu akan jadi istriku atau tidak wahai gadis sombong? Aku lagi-lagi menyeringai, sangat yakin dia akan kudapatkan. Tidak percaya? Lihat saja nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN