Ternoda

660 Kata
WOY!! Kenapa kau tulis status macam tu, hah?! Cepat hapus! Jangan cari penyakit, kau! Bisa kena sial, kau! Aku menggelengkan kepala saat membaca pesan dari Redi, teman suami Cinta, sahabatku. Apa yang salah dengan status WAku? Aku membaca ulang dan tak ada yang salah. Pesan Redi kembali masuk. Wow!! Hapus pesan kau, cepat! Kau bisa kena sial tulis pesan macam tu! Hapus, woy! Cari masalah, kau! Apa sih, dia? Sudahlah, abaikan saja. Aku meraih roti yang baru kubuat lalu setelah pamit pada ibu, aku mengendarai motor menuju Sungai Cambai untuk menghadiri undangan Cinta, sahabatku yang baru saja menikah untuk makan malam di rumahnya. *** Cinta sangat senang melihatku datang. Bukan hanya aku saja ternyata yang diundang untuk makan malam, teman-teman suaminya pun diundang. Dan Mas Yoga, mantan suami Cinta juga datang. Kami pun bakar-bakar ayam di belakang rumah sambil bicara ngalor ngidul. Tanpa terasa, malam semakin larut. "Kamu nginap di sini, yaa?" Pinta Cinta sambil menatapku penuh harap. Redi sebentar-sebentar mencuri tatap pada Tara yang sedang makan. Saat Tara menatap ke arahku, aku langsung mengalihkan pandang dari tatapan lelaki yang cintanya kutolak berkali-kali itu. Dia itu preman, sangat mengerikan. Semua orang di Mesuji, Lampung, takut padanya. "Nginap sajalah, sudah malam. Takutnya di jalan kau jumpa begal! Tahu sendirilah Mesuji ni rawan begal!" Ucapan Redi membuatku bergidik ngeri. Di Mesuji memang rawan begal, jangankan malam siang pun rawan, maka aku memutuskan menginap saja. Aku pun masuk kamar tamu lalu menelepon ibu mengatakan bahwa aku akan menginap, setelah itu mematikan lampu karena aku terbiasa tidur dalam gelap. Aku merebahkan tubuh di ranjang lantas memejamkan mata. Baru saja mulai terlelap, tiba-tiba embusan napas hangat menerpa wajah, membuatku terperanjat bangun. Dengan rasa cemas yang menggila, aku menyentak tangan yang melingkari tubuh dan berusaha berdiri. Namun gelapnya ruangan, membuatku kesulitan mencapai ambang pintu. Aku menjerit histeris saat tubuhku dibanting ke ranjang. Suara orang yang amat kubenci setengah mati berbisik ke telingaku. "Apa kamu akan menolakku lagi setelah ini?" "Lepas!" Tetapi tangan yang memeluk tubuhku malah mengeratkan pelukan. "To-long!" Aku memberontak saat mulutku di sumpal kain. Kurasakan tubuhku menggigil gemetaran dan aku sangat takut. "Tolong!" Teriakku sambil memukul juga menendanginya. Namun tenaganya begitu kuat. Aku terisak pilu saat kehormatan yang selama ini kujaga direbut paksa olehnya. "Neni, apa kamu baik-baik saja?" Itu suara Cinta terdengar begitu cemas. "Mungkin dia mengigau. Kamu sering cerita bahwa si jutek itu saat tidur sering mengigau!" Itu suara Mas Yoga, mantan suami Cinta yang satu jam lalu datang ke rumah ini mencari Cinta. Agar Mas Zain suami Cinta tak bertanya yang aneh-aneh tentang Mas Yoga, maka aku mengatakan padanya bahwa Mas Yoga adalah pacarku. Aku ingin menyahut untuk mengatakan bahwa aku tak mengigau, namun tak bisa karena mulutku disumpal kuat. "Cinta, aku mencarimu saat terjaga tadi." Yang barusan bicara adalah Mas Zain. "Ada apa?" "Neni, aku dengar Neni menangis dari kamar sini, Mas," kata Cinta. "Neni?" Lalu, terdengar derap langkah yang semakin menjauh. Aku menangis pedih. Cinta tolong aku, kumohon siapa pun tolong aku! Tapi suaraku sama sekali tak terdengar. "Tara!" Yang barusan memanggil dengan suara keras adalah Mas Zain. Sepertinya Mas Zain mencari Tara. "Ada apa, In? Malam-malam kau teriak-teriak." Suara Redi. "Mana Tara?" tanya Mas Zain. "Tadi ada di sini. Mungkin tidur di ru--" Terdengar derap langkah mendekat lalu, BRAK! BRAK! BRAK! Pintu kamar yang kutiduri berderak-derak dengan kuat. Seperti sedang didobrak dari luar. Tara berbisik di telingaku, "Apa setelah ini kamu akan menolakku lagi?" Dia kecup keningku, lalu beranjak bangkit. Ditekannya saklar, lampu pun menyala terang benderang. Dia menatapku penuh kemenangan, aku terisak pilu. Menatapnya yang menyeringai puas dengan pandangan jijik. BRAK BRAK BRAK! Tara berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Mas Zain langsung melayangkan pukulan ke wajah Tara sementara Mas Yoga terpaku di ambang pintu. Melihat darah di seprei, aku berteriak histeris. Cinta berlari mendekat lalu memelukku. "Neni." Bisiknya. Redi datang, dia langsung memukul Tara. Saat bersitatap denganku, tatapannya terlihat menyalahkanku. Aku hanya bisa terisak-isak. Andai aku menghapus status WA itu. Status itu adalah Di part selanjutnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN