ALUNA sudah siap untuk protes namun sebuah suara menyapa indra pendengarannya. "Ini gue. Jangan teriak," bisik sang pemilik suara. Aluna sebenarnya tidak mengenali suara itu. Namun ia mengenali bau ini. Ini bau yang sama dengan bau cowok yang menolongnya beberapa waktu lalu di arena balap. "Alaska?" Aluna memaksa untuk berbalik sehingga kini mereka berdiri berhadapan. Tempat yang sempit membuat hampir tidak ada jarak yang tersisa di antara Alaska dan Aluna. Alaska mendengkus. "Ngapain pakai balik badan, sih? Tambah sempit, tahu!" omel cowok pemilik bola mata berwarna cokelat tersebut menghilangkan suasana romantis yang seharusnya muncul. Aluna tak menghiraukan protes yang dilemparkan Alaska padanya. "Jadi bener kan lo yang nolongin gue tempo hari?" tuduh Aluna tanpa basa-basi. Alas

