TANPA perlu bertanya, Aluna tahu bahwa yang dimaksud bos besar tentu kakeknya Alaska. “Oke,” sahut Alaska singkat. Tanpa banyak bicara, Alaska kembali menggengam tangan Aluna dan membawa gadis itu bersamanya. Jujur saat ini rasanya jantung Aluna sudah seperti habis lari maraton. Bagaimana kalau keluarga Alaska nggak suka gue? Bagaimana kalau mereka pikir gue kurang pantas untuk Alaska? Kurang cantik? Kurang baik? “Nggak usah mikir yang enggak-enggak,” bisik Alaska yang membuat gadis itu semakin kewalahan mengatasi degup jantungnya. Duh! Kenapa jadi deg-degan gini kalau di deket Alaska? “Selamat malam, Kakek,” sapa Alaska. Sang kakek tidak menjawab sapaan itu. Beliau malah sibuk mengamati Aluna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Walau tidak sedang melihat ke arah kakeknya Alaska

