Menunggu

1479 Kata
"Apa kita akan langsung pulang sekarang?" Amelia dengan sigap berdiri dan menggantungkan tali tas selempangnya di atas bahu, melirik ke sana kemari di mana Ithar sebelumnya sudah berdiri terlebih dulu sedangkan, Aiyla masih duduk dengan anggunnya sambil meneguk wine.-nya. "Yah, kita pulang sekarang! Ibuku sudah menunggumu." "Oh, ya?! Aku juga sudah sangat kangen sama Tante." "Ayo!" Ajak Ithar entah pada siapa tapi, tatapannya masih pada Aiyla yang masih asyik duduk. "Oh, ah.., Ayo!" Sekali lagi Amelia tampak bingung dia sudah berdiri dan bahkan, keluar dari barisan meja hanya menunggu mereka untuk berjalan bersama tetapi, tak satupun dari dua orang ini bergerak sampai mau tidak mau dia membuka suaranya. "Mbak Aiyla, kenapa belum berdiri?! Ayo, kita pulang bersama." Aiyla mendongak, tersenyum datar. "Tapi, aku belum mau pulang. Kalian bisa pulang terlebih dulu." Suara dengusan dingin terdengar dari orang yang berdiri di depan Aiyla. "Apa yang kamu tunggu?" tanyanya menggunakan nada remeh, seolah memerintah wanita di depannya untuk bangun, duduk atau bahkan, menyuruhnya berbaring dan mengangkang adalah hal biasa baginya. "Aku masih ada janji di sini. Juga, aku membawa mobilku sendiri," jawab Aiyla dengan senyuman penuh. "jadi, aku pulang sendiri saja. kalian bisa pulang terlebih dulu." Ithar mengerutkan kening tetapi, hanya sesaat sebelum dia berwajah datar lagi dan tidak mengatakan apa-apa lagi dan berlalu begitu saja. Sedangkan, wanita bernama Amelia itu masih berdiri dan menatap Aiyla dengan kebingungan tetapi, juga terlintas raut senang di wajahnya. "Mbak Aiyla, beneran gak mau pulang bareng kita? Harusnya hari ini jadi, hari kencan kalian,kan? Gara-gara aku,yah, kencannya gagal," ujarnya dengan tampang disedih-sedihkan. "Harus gimana, donk?" "Kamu itu–" "Ah, iya, Mas tungguin aku!" potong Amelia cepat dengan mengalihkan perhatian pada Ithar sambil berjalan pergi tidak menghiraukan ucapan Aiyla, yang baru saja dibuatnya kesal. Di sisi Aiyla dia hanya bisa melihat punggung wanita itu pergi dan menghampiri Ithar yang ternyata benar-benar berdiri menunggu di depan pintu keluar. Hanya sebatas meliriknya sebelum dia pergi digandeng Amelia, setelahnya tidak ada lagi yang bisa terlihat dengan keduanya kecuali, dia tahu Amelia sangat bahagia dengan tampangnya yang tidak bisa terlepas dari senyum kepuasan yang menyebalkan. Mencoba narik napas dalam-dalam, Aiyla ingin memenuhi dadanya dengan udara bersih dan berusaha tenang menanggapinya. Dia tidak lagi harus marah apalagi cemburu keputusan sudah diambil, inilah langkah besar setelah sekian lama terjebak cinta yang tak berbalas. Hanya saja luka dihati tidak semudah itu diperintah untuk tidak lagi terluka. Dirinya tidak sakit hati saat Ithar digandeng Amelia tetapi, dia sesak saat tahu pria itu bisa menunggunya berdiri di depan pintu, merawatnya ketika sakit dan bahkan, membawanya masuk untuk tinggal bersama. Sungguh kebaikan-kebaikan seperti itu tidak pernah didapatkannya meski, bertahun-tahun berlalu dia berada di samping pria itu. Melihatnya perlahan berubah untuk wanita lain, Aiyla sadar mungkin bukan dialah yang pantas bersanding di sampingnya. "Y-yah, sepertinya sudah seharusnya begini," katanya sambil menegak wine yang tersisa di gelasnya. ** Sesuai apa yang dikatakannya pada Aiyla, Ithar tidak melangkahkan kakinya untuk turun ke rumahnya dan berniat langsung pergi dari sana setelah menurunkan Amelia di kediamannya. Sudah waktunya wanita ini kembali ke sini, sekarang ibunya sudah pulang tidak ada tugasnya lagi untuk terus merawatnya. "Kamu bisa turun," kata Ithar sambil menunggu, menyangga kepalanya dengan satu tangannya menyangga di pintu mobil. Amelia mengangkat kedua alisnya heran seraya melepas seltbelt-nya dan bersiap keluar tetapi, dia ragu telingannya mendengar Ithar berbicara seolah tengah mengusirnya sedangkan dirinya sendiri tidak akan turun dari mobil. "Mas, Mas Ithar juga ikut turun, kan?" tanyanya tanpa ragu. "Tidak, cepat turun. Masih ada yang harus kukerjakan." "Loh, Itu Mama Mas Ithar nungguin." Amelia menunjuk sosok wanita paruh baya dari balik jendela tengah melambai pada mereka. Amelia membuka jendela mobilnya, balas melambai sambil berteriak gaduh. "Tante, tunggu ya! Mas Itharnya gak mau turun, nih?!" "Amelia!" Nada panggilan Ithar berubah jadi, sangat dingin seolah dia tengah menahan kesalnya. Bibir Amelia mendadak kelu, dia menahan napas dan menunduk takut tetapi, tetap berusaha untuk bicara. "M-maaf, Mas tapi, aku pengen Mas turun dan ketemu Ibunya Mas. Tante Melinda pasti kangen Mas juga lagipula inikan rumahnya Mas, apa sulitnya masuk!" diakhir kalimatnya Amelia mengangkat dagunya dan berbicara lebih keras sambil menatap Ithar. "Turun!" Ithar tetap dengan sikap dinginnya menyuruhnya turun. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Amelia turun dan sekejap mata setelah dia menutup pintu mobil tersebut. Ithar langsung menginjak gas mobilnya, melaju kencang tanpa menoleh ke belakang. Amelia dibiarkan mematung sampai, Melinda datang menghampirinya. "Ke mana Ithar pergi? Kenapa dia gak turun?" "Ah, itu a-ah...." Amelia tampang bingung menjawabnya tetapi, dengan cepat tersenyum lebar lagi. "Mas Ithar bilang dia mau ketemu klien, tiba-tiba saja klien menghubunginya barusan." "Aish, anak itu nyebelin! Padahal Tante kira dia bakal pulang dan nginep di sini. Hahh, sudahlah!" ujarnya menyerah lalu menggandeng Amelia untuk masuk. "Ayo, Mel masuk aja! Tante kangen kamu terus, loh. Duh, bisa-bisanya tante nyuruh tinggal sama manusia dingin kayak Ithar tapi, kamu gak dapet masalah, kan?" "Ngga, kok! Tante ya, ampun Mas Ithar malah sangat baik, dia ngerawat aku sampai sembuh, loh!" "Syukurlah, Tante juga ikut senang." Meskipun langkahnya berjalan ke depan tetapi, Amelia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari jalanan kosong di mana mobil Ithar telah berlalu pergi. Rasanya hatinya menjadi sangat resah dan sedih membiarkan pria itu pergi. Beberapa hari tinggal bersamanya, rasanya sudah jadi candu yang tidak ingin diubahnya. ** Ithar sendiri malam itu langsung kembali ke apartemennya tetapi, tidak sesuai apa yang dia pikirkan. Dia tidak melihat Aiyla, di sana. Apartementnya tampak sepi, masih seperti beberapa waktu lalu ketika dia pergi. "Ke mana dia? Kenapa belum juga datang?" tanyanya pada ruangan kosong sambil melesakkan bokongnya di atas sofa. Diam menunggu dengan tenang. Bosan, Ithar melakukan ritual malamnya dengan mandi lalu, membuka berkas-berkas yang masih perlu diperiksanya sampai batas waktu dia pun hampir melupakannya hanya sampai matanya mulai letih dan menghentikan pekerjaannya untuk berbaring. Matanya sudah terpejam tubuhnya lelah tetapi, entah kenapa sulit sekali untuk terlelap dan akhirnya hanya bisa membuka matanya kembali. Melirik ponsel yang sejak tadi tak ada satupun panggilan atau pesan yang masuk ke ponselnya. Meraih ponselnya Ithar mulai membuka ikon telepon lalu, mencari nama yang tersemat di atas nomer-nomer yang sebelumnya tidak pernah ia hubungi sama sekali karena, biasanya wanita itulah yang pertama kali menghubunginya tetapi, untuk kali ini dia melepas egosnya. Dia menghubungi nomor terserat karena ketidaksabarannya. "Kamu sudah membuatku menunggu lama, Aiyla," ucapnya dengan nada sengit dan arogan. Dering telepon masih berbunyi tetapi, tidak pernah ada jawaban dari line sana. Hal itu semakin membuat Ithar menarik napas, menahan emosi. Dia menutup sambungannya, mencoba kembali mencari nomor lain berpikir mungkin saja dia salah memanggil sambungan telepon orang lain karena yang dia kenal Aiyla selalu bisa menjawab panggilan siapapun terutama, jika itu dirinya. Aiyla tidak mungkin mengabaikannya jika, tidak dia pasti berbalik segera menghubunginya. "Tidak ada nama yang lain. Jelas, tidak salah! Ini nomornya," ujar Ithar setelah memastikan tak ada nama lain yang serupa, kecuali hanya nama wanita itu yang tertera .Aiyla. yah, hanya namanya yang paling singkat dan tidak pernah berubah sejak dulu. "Ke mana dia sampai tidak menjawab teleponku." Jauh didalam keramain sebuah club Bar, Aiyla berdiri di antara kerumunan yang sedang menggerakkan tubuhnya mengikuti aliran music yang sedang menggema. Dia tidak peduli dengan sekitar hanya menikmati music sampai tiba-tiba ada sebuah tangan membelit pinggangnya, berdiri di depannya seorang pria tampan dengan senyum menawan berbisik mesra di telinganya. "Sweat heart apa kamu tidak lelah? Mari berhenti dan minum?" Aiyla mendorong dadanya, keningnya sedikit merengut dengan mata menyipit memerhatikan pria itu dengan seksama. "Siapa kamu, hah? Pergi dari sini," ujar Aiyla sambil mengibaskan tangan dan mencari jalannya sendiri sampai meja bar. "Lady, Anda baik-baik saja," tanya si Bartender yang melihat Aiyla datang dan malah langsung menelungkupkan kepalanya di atas mejanya sana. "Dia tidak apa-apa hanya sedikit mabuk," jawab pria yang masih tiba-tiba datang dan duduk di samping Aiyla. "Pesankan saja Orange Juice." Sang Bartender mengangguk tanpa berkata-kata lalu, segera menyiapkan pesanan tersebut sambil sesekali melirik mereka. Sebelumnya dia hanya melihat wanita itu datang sendiri, duduk di sana lalu berjalan ke dance floor menari sendiri sampai pria yang duduk itu menghampirinya. Sebenarnya, yang seperti itu bukan masalahnya tetapi, sejak awal dia tertarik dengan wanita cantik itu. Aiyla masih menelungkup di atas meja ketika, dering ponselnya berbunyi dari dalam tas. Mendengarnya dia membuka mata dan langsung mengeluarkan ponselnya hanya untuk mendapati nama My Love. Tertera di sana. Mendengus keras, Aiyla tidak berniat menjawabnya dan hanya memasukan kembali ponselnya ke dalam tas lalu berdiri hendak pergi tetapi, sebelum itu seseorang menahan tangannya dan menyorongkan segelas juice orange di depannya. "Minumlah itu dulu, kamu cukup mabuk, kan?" "Siapa kamu, hah?" "Akan kuberi tahu setelah kamu minum Juice-nya!?" Mata Aiyla meliriknya, "Apa yang kamu masukkan di sana?" Pria itu tertawa ringan, mengangkat jarinya dengan pose bersumpah. "Aku hanya memesannya dan bersumpah tidak memasukkan apapun." Setelah mendengarnya, Aiyla tidak menolaknya dan meneguk juice itu hampir setengah gelas. Perasaan setelah meminumnya cukup membuat kepalanya mengerenyit dan hampir saja limbung tetapi, tidak. "Sudah! Aku pergi," ujarnya membalikan tubuhnya dan berjalan sempoyongan ke luar dari arena bar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN