bc

Kekasih Hati (HeartLess)

book_age18+
14
IKUTI
1K
BACA
dominant
self-improved
CEO
drama
sweet
realistic earth
intersex
stubborn
sacrifice
Neglected
like
intro-logo
Uraian

Aiyla sudah sangat lelah dan menyerah untuk terus bertahan bersama Ithar Devano. Kekasihnya hatinya tetapi, tidak pernah menjadikan dirinya sebagai kekasih dalam hati pria berhati dingin itu. Aiyla kira hanya sifatnya dingin namun, hatinya juga dingin tanpa perasaan bagaimana tidak pertemuan mereka setelah beberapa lamanya tidak bertemu Ithar malah membawa wanita lain. Membuat Aiyla akhirnya saat itu juga menyerah dan berhenti mencintainya.

Ithar Devano pria berhati dingin yang tidak tahu apa itu cinta dan bagaimana melakukan sesuatunya dengan cinta akhirnya, tersiksa sendiri melihat wanita yang selalu berjalan sekitarnya tidak lagi terlihat dan mengatakan tidak ingin terus bersamanya karena ingin berhenti mencintainya. Siapa yang bisa menerima hal itu? Padahal sebelumnya Aiyla-lah yang mengejarnya, yang mengatakan cinta padanya dan tak akan pergi meski, diusir.

Lalu, bagaimana saat ini dia pergi tanpa diminta?! Dan, apa yang harus dilakukan Ithar ketika mengetahui jika ternyata Aiyla sedang hamil?

chap-preview
Pratinjau gratis
Melepaskan
Aiyla Cadi kini sedang memasang senyum palsunya dengan sabar, dia membiarkan pria dihadapannya melakukan apa yang diinginkannyaa. Pria yang tak terhitung lagi banyaknya sudah menyakiti perasaannya entah itu disengaja atau tidak, yang jelas dirinya bagai kerbau yang dicucuk hidungnya. Orang bodoh yang tidak berdaya hanya karena cinta. Ya, cinta yang terlalu besar membuatnya buta akan segala hal termasuk kesehatan mentalnya. Dia sudah sangat sakit sudah waktu baginya untuk menyembuhkan semua lukanya atau dia akan mati hanya karena sesak napas saja. Hari ini diluar jendela sana, langit malam tampak bersinar karena terpapar sinar bulan purnama yang penuh. Melihat bulan bertengger sendiri tanpa bintang-bintang yang mungkin tersembunyi atau memang tak kunjung terlihat seperti sosoknya. Dia ada di sini, seharusnya malam ini dialah bintangnya bukan wanita itu. Hari ini, harusnya menjadi waktu untuk mereka menikmati kebersamaan, melepas rinda setelah beberapa minggu ini keduanya belum lagi bersua. "Aiyla, apa yang kamu lihat di luar? Makananmu bisa jadi dingin." Mendengar suara itu tentu saja Aiyla harus berbalik, menatap pria yang eksistensi dalam hidupnya sudah seperti narkoba dulu, dia tidak akan bisa tahan melihatnya. Tidak bisa makan tanpa memegang tangan, tidak bisa tidur tanpa mendengar suaranya. Sungguh, pria tampan dan sombong, Ithar Devano yang sudah membuatnya terhuyung jatuh mengiba hanya untuk bisa, tetap berada di sampingnya. "Yah, hampir saja aku lupa jika, sedang makan saking terlenannya melihat langit malam di luar jendela." Pria bernama Ithar tidak lagi mengatakan apa-apa, fokusnya kembali teralihkan pada sosok wanita lain di sampingnya. Seseorang yang seharusnya tidak ada dalam jadwal pertemuan mereka. Tetapi, apa mau dikata mungkin seperti inilah seharusnya. Apa hak baginya, dia tidak bisa menentuka apa yang diinginkannya atas apa yang dinginkan atau diperbuat Ithar. Dia pria bebas, yang akan mengundang atau menolak kehadiran orang-orang disekitarnya sesuai apa yang dimintanya. Begitupula, pada sosok Aiyla di mata Ithar. Sosok wanita patuh yang akan datang saat dipanggil dan pergi saat diminta. Jika, Ithar berhati lembut tidak mungkin tidak dia akan jatuh cinta pada Aiyla. Wanita mandiri, menawan dan penuh pesona dengan kepercayaan dirinya yang luar biasa. Belum lagi prestise- pencapaian dalam pekerjaan selalu diatas rata-rata sebagai seorang manager perencanaan di bidang pangan. Hanya sayang, dalam dunia percintaan nilainya adalah nol. Cintanya tidak pernah berbalas. Meskipun begitu, hari ini dia akan mengakhirnya setelah butuh waktu yang sangat panjang juga, keberanian untuk menghentikan kecanduannya. Jadi, kini di depannya saat Ithar tidak memedulikannya dan hanya menaruh perhatian pada wanita di sampingnya. Itu cukup membuat luka, sehingga akan lebih besar untuk menguatkan tekadnya dengan memilih mengakhiri 'Love Toxic'-nya ini. Untuk malam ini jadi biarlah, dia sedikit menderita lagi sebagai penghabisan rasa cinta yang tersisa di dadanya agar masih bisa bertahan di esok hari. Dari muali saat ini, rasanya sudah sangat cukup waktu yang dia berikan Ithar atau malah sangat panjang bertahan di sisinya hanya agar bisa melihat apakah cintanya menjadi berbalas kasih ataukah berbalas risih. "Aiyla, Apa yang kamu lihat? Apa kamu melihat sesuatu yang lucu dari kami?" 'Oh, kami?!' dalam hati Aiyla terperangah, cukup terkejut dengan penggunakan kata pria di depannya, yang ternyata sudah sangat jujur dan santai dengan menggunakan kata kami untuknya dan wanita di sampingnya. Entah apalagi yang harus dia tunggu nyatanya, sudah seperti ini. "Tidak ada," jawabnya masih dengan senyum tipis untuk pertanyaan pria di depannya. Meskipun, saat ini hati Aiyla masihlah merasakan sakit padahal tidak boleh lagi dirinya menunjukkan perasaan secara keterlaluan. Dia sudah berpikir untuk mengakhiri perasaannya jadi, tidak perlu lagi dirinya merasa marah dengan semua yang dilakukan Pria bernama panjang Devano ini. "Ehm, Mbak Aiyla pasti ngetawain cara makan aku, yah? Yang udah kayak orang kampung. Maaf, ya abis steik di sini enak banget. Jadi belepotan, deh." Ringis Amel, wanita yang berada di samping Ithar. Wanita bernama Amelia putri yang tengah tersenyun tampak malu-malu. "Sepertinya, bukan itu. cara makan kamu gak kampungan sama sekali." Bela Ithar dengan santai sambil mengambil tissue dan mengelap sudut bibir Amel yang terdapat saus, bekas makannya yang berantakkan. "Makasih, Pak! Tapi, jangan gini," ucapnya kali ini bertambah penuh rasa malu dan bangganya sambil melirik Aiyla penuh dengan maksud tertentu. Seolah berkata 'Lihatlah! Pria ini melakukan hal ini untuknya.' Sungguh pemandangan yang mengesankan. Barang tentu Aiyla harus puas dengan dirinya yang sudah mengambil keputusan sehingga, tak perlu baginya menyimpan hal seperti sedih apalagi cemburu. 'Biarlah kalian bahagia, semoga beruntung!' katanya dengan hati tulus. "Makanlah pelan-pelan tidak ada yang akan merebut dagingmu," tegur Ithar yang melihat Amel kembali berulah dengan cara makannya yang terburu-buru meski begitu, diam-diam memberi kesan lucu di bawah matanya berbeda dengan saat dirinya memperhatikan Aiyla yang kini tengah dengan tenang, makan penuh sangat lembut jelas penuh tatakrama. "Ehm, iya! Maafkan aku, Pak?!" "Jangan panggil aku dengan sebutan Pak jika, diluar jam kantor seperti ini." Mata Amel membulat seakan tak percaya, pria didepannya memberinya keleluasaan seperti ini. "Aku boleh panggil, Mas Ithar?" "Panggil Ithar saja tidak masalah." "Owh, tapi Amel mau panggil Mas Ithar aja kayaknya lebih enak didengar." "Hm, kalau begitu terserah saja." Melihat hal itu, Aiyla hanya tersenyum tipis meski, sakit lalu apa? Tidak ada yang bisa dia dapatkan dari semua bahkan, ucapan ramah dan hangat seperti itu tidak pernah didapatkannya dari seorang Ithar Devano yang dikenal sebagai pria dingin dan angkuh. Sudah cukup mencoba menenangkan hatinya, dirinya masih tak mampu saat ini jadi, lebih baik dia bisa segera memalingkan diri darinya. Menegak habis gelas minumnya, Aiyla mencoba membenahi perasaan dan kembali melanjutkan makan malamnya. "Steik di sini sangat-sangat enak, ya, Mas?" kata Amel sambil menelengkan kepalanya ke arah Ithar dengan bibir penuh senyuman. "Lain kali, kita ke sini lagi , ya? Setelah Amel gajian dan biarin Amel yang neraktir Mas Ithar makan di sini." "Gak perlu, Kamu bisa traktir orang lain saja." "Tapi, aku gak mau traktir yang lain cuman Mas sama Mba Aiyla aja," ujarnya sambil menatap Aiyla. "Mba Aiyla, mau, ya?" "Terima kasih tapi, kamu juga gak usah traktir aku." "Yah, kenapa begitu Mbak?" Amel seperti tidak bisa menerima dua jawaban dari kedua orang ini. "Tidak ada yang kenapa, hanya belum tentu, aku bakalan bisa makan bareng kamu dilain waktu," sahut Aiyla terus mengunyah daging steik di mulutnya. "Ahh, maaf!" "Kenapa minta maaf?" tanya yang diajukan Ithar karena melihat perubahan raut wajah Amelia. Amelia Putri, bertampang tengah ragu-ragu beberapakali dia melihat antara Ithar dan Aiyla lalu berdeham seolah tengah menahan diri. "I-itu, aku sudah mengganggu kencan kalian berdua, yah? Harusnya aku tidak perlu ikut ke sini dan membuat tidak nyaman Mbak Aiyla. Mbak ..maafin, aku,yah?" Aiyla menghela napasnya, tiba-tiba nafsu makannya merosot lagi setelah mendengar omong kosong wanita di depannya sampai kapan wanita itu akan berpura-pura menyenangkan dengan makan malam sepertAh, Aiyla tentu saja salah, bagi wanita bernama Amelia putri tentu saja sangat menyenangkan melihat dirinya yang satu meja dengan Ithar tengah diabaikan oleh pria itu. Sungguh lelucon sejati melihat saingan cintamu menderita dan kamu akan merasa paling bahagia. "Loh, makannya berhenti Apa Mbak gak suka makanannya? Atau Mbak gak suka aku ada di sini, ya?" tanyanya bertubi-tubi1 dengan nada polos dan seolah penuh rasa bersalah. "Sejak tadi Mbak Aiyla gak ngomong apa-apa,saya jadi gak nyaman. Harusnya tadi saya gak perlu ikut, ini, kan kencan kalian berdua." Aiyla hanya mendengus kecil, jika wanita itu memang tahu seharusnya dia tidak melakukannya dan jangan jadi pengganggu. Tetapi, siapa yang tahu dengan kedalaman hati seseorang. Meski, ingin menumpasnya dengan kata-kata kasarnya. Aiyla memilih tidak mengatakan apa-apa sebaliknya Ithar lah yang berbicara untuknya seolah membela keberadaanya. Sungguh lucu jadinya. "Aiyla tidak seperti itu, dia hanya sedang menikmati makanannya jadi, jangan hairaukan ketidaknyamananmu itu." 'Aku tidak seperti itu?; Aiyla ingin mengeluarkan pertanyaan itu tetapi, tidak ia keluarkan hanya merasa terlalu lelah. Biar saja mereka mau melakukan apa hari ini dia ingin melepas penatnya bukan menambah penderitaan. Janji bertemu hanya berdua tetapi tanpa, meminta persetujuannya pria itu malah membawa wanita lain. Sungguh dirinya tak pernah dianggap. "Aku permisi ke toilet dulu!".pamit Amel pada Ithar dan hanya melirik pada Aiyla dan segera berlalu pergi. "Kamu, kenapa sejak tadi hanya diam saja?" "Sebenarnya apa pedulinya?" tanya Aiyla dalam hatinya. "Kenapa diam saja? Kamu tidak mau bicara? Marah? Karena aku ke sini membawa gadis itu? tanyanya dengan ekpresi tidak menyenangkan." "Tidak aku hanya lelah dan tidak ingin bicara banyak," jawab Aiyla dengan lugas dan tersenyum tipis. "Siapa yang bisa marah padamu. Dan, siapa pula yang bisa melarangmu membawa siapapun yang kamu suka." Ithar berpikir sebentar lalu mengangguk dan membuka mulutnya lagi. "Aku membawanya karena dia tidak bisa ditinggal sendiri di apartemen. Hari ini, aku akan membawanya ke rumah karena Mama sudah pulang dari Paris." "Hm," gumamnya sebagai jawaban. Ithar menatap Aiyla setelah mendengar jawabannya yang singkat. "Aiy, malam ini sepertinya kamu tidak perlu ke tempatku dulu, karena aku akan pulang ke rumah mungkin saja aku menginap di sana juga." "Yah, menginaplah di sana," jawabnya tenang seolah hal itu bukan masalah besar. "Apa kamu tidak senang?" "Kenapa harus tidak senang?" Aiyla berbalik memberi pertanyaan sedangkan tatapanya sendiri tidak pernah bertemu Ithar karena dia berpura-pura sibuk dengan memotong daging steiknya yang tinggal setengah dan entah sejak kapan sudah sulit untuk bisa ditelannya. Masih mendengar jawaban yang dingin dari Aiyla, Ithar yang baru saja menyelesakan makannya dan selesai membersihkan mulutnya dengan tissue kembali berbicara. "Kalau begitu datang saja lebih dulu ke tempatku. Aku akan berusaha pulang ke sana setelah mengantarkan Amelia pulang." "Tidak perlu, kamu istirahat saja. Aku juga akan pulang." "Pergi ke apartemenku, aku gak akan singgah dan langsung pulang." Sebaris senyum dengan suara kekehan kecil yang dingin keluar dari bibir Aiyla. "Hm, jadi haruskah aku pergi ke tempatmu atau tidak?" "Kalau begitu terserah kamu mau pergi atau tidak." Itulah juga jawaban dingin yang diberikan Ithar setelah merasa lelah dengan percakapan mereka yang berputar-putar. Kedua mata mereka bersirobok, Aiyla tidak tahan lagi untuk tidak mendongak dan jatuh pada matanya yang juga sedang menatapnya dan menyunggingkan senyum sinis yang terbentuk di bibir tebalnya yang Aiyla, pikir masih saja sexy. Serta sebuah pemikirannya jatuh di benaknya melihat raut wajah Ithar. 'Apa kamu pikir aku masih akan pergi ke tempatmu seperti malam yang sudah-sudah. Tidak akan. jadi, Tuan Ithar Devano kamu bisa menungguku sesukamu. Aku tidak akan muncul lagi di depanmu setelah hari ini,' ucap Aiyla dihatinya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook