Anne memakan sarapannya dengan malas-malasan, berulang kali dia menghela nafas dan menghembuskannya hingga terdengar amat lelah dan kecewa. Di depan kompor, mama terus berceramah panjang lebar tentang keputusan Anne yang memilih untuk resign dari kantornya yang cukup besar dan mempuni. Jujur saja, bagi Anne itu adalah keputusan mendadak yang berdasar pada emosi saja. Pagi tadi saat bangun tidur, dia bahkan melompat menuju kamar mandi dan segera menyiapkan diri untuk bekerja. Namun, dia mulai sadar situasi saat melihat box yang tergeletak di samping meja rias, jika kemarin dia sudah menggila dan angkat kaki dengan amarah yang menggebu-gebu. "Terus kamu mau kerja apa? Kredit kamu gimana?" Jawaban Anne sepuluh menit lalu, sepertinya tidak cukup memuaskan untuk mama, Anne bahkan sudah mener

