Kasihan juga orang itu, si WC, eh si Centaurus. Tetapi aku masih ngantuk berat. Kembali kurebahkan kepala di samping suamiku. Ia terbangun. Menatapku, kemudian tersenyum.
“Abis online?” tanyanya.
“Ya. Aldo yg di Jakarta minta segera dikirimin keripik.”
“Banyak?”
“Enggak. Cuma 500 bungkus.”
Suami mengusap kepalaku.
“Itu banyak sayang. Aku senang kamu bisa menjalankan bisnis ini. Tapi aku lebih senang lagi kalau kamu juga jaga kondisimu. Berbisnis di rumah ‘kan agar bisa jadi bos bagi diri sendiri. Ini berarti agar kamu bisa bebas ngatur jam kerja dan bisa cukup beristirahat. Diatur dong waktunya biar nggak lembur-lembur gini. Ntar sakit.”
“Iya. Thanks, Hon.”
Ia tersenyum. Mulai mengusik area di sekitar pundakku. Wilayah sensitif.
“Btw, sudah lama kamu nggak pesen pembalut. Apa sudah tidak pake?”
“Ya pake dong, Say. Cuma, bulan ini aku telat. Sudah dua minggu.”
“Kok nggak bilang-bilang. Aku bisa belikan test pack,” sambutnya antusias. Begitu antusias sampai ia langsung duduk tanpa memindahkan pandangan dariku.
“Aku masih berusaha memastikan bahwa ini bukan telat biasa. Tapi, kalau nanti siang kamu sempat mampir apotik, beli deh!” ucapku tanpa merubah posisi rebahan.
“Oke. Semoga kali ini kita sukses. Setelah setahun menikah, rasanya sepi belum punya junior,” ucap Nico sambil membelai perutku.
Aku senyum.
Setahun. Tidak terasa.
Kutatap langit-langit kamar. Baru kusadari bahwa ternyata rumah memang sepi tanpa kehadiran si kecil buah cinta kami.
Tiap sore, anak-anak tetangga pada keluar. Ramai, lucu-lucu. Ada yang masih dalam gendongan, ada yang mulai jalan, banyak juga yang sudah bisa memanjat pohon di pinggir jalan. Para junior ramai bermain, para Mama ramai berteriak melarang ini itu. Kalau sudah aman, mereka ngumpul dan mulai mengobrol ngalor-ngidul. Tidak jarang, karena ibunya sibuk menjadi infotainment, anak terjatuh atau bertengkar. Bahkan pernah terjadi ada bayi yang baru bisa jalan kejebur got. Jadilah sesi keramaian baru.
Kalau melihat mereka, ingin sekali punya anak sendiri. Dengan segala bayangan, aku tidak akan menjadi mama yang sibuk melarang segala sesuatu, apalagi yang sibuk bergosip kala seharusnya menemani si kecil bermain. Aku akan jadi mama yang memberikan fasilitas sebaik-baiknya untuk tumbuh kembang anakku. Mungkin aku akan lebih suka anak tetangga yang bermain bersama di rumah kami daripada anakku yang numpang main di rumah tetangga.
Keinginan dan bayangan itu sering muncul. Tetapi ketika kembali asyik dengan bisnis online, jadi lupa. Aku senang dengan aktivitasku, aku enjoy. Memikirkan keinginan punya anak bukannya membuatku stress selama berbulan-bulan yang telah lalu.
Malam ini, setelah suami menyinggung masalah anak, baru aku terpikir lagi.
Kutatap wajah suamiku yang sudah kembali merebahkan diri.
Iapun menatapku syahdu. Tangannya masih sibuk mengeksplorasi pundakku.
“Maafkan aku,” ucapku seraya nyungsep di dadanya.
Nico merengkuhku sambil tertawa pelan. Dengan gemas ia menciumi pipi tembemku.
******
Siangnya, aku online lagi. Ada Aldo, ada Wild centaurus.
Nicky: "Do, udah dapat nih."
Aldo_mann: "Sipp. Aku tahu kau memang selalu bisa kuandalkan. Segera kirim ya!"
Nicky: "Yo-i. Yakin jumlahnya nggak nambah?"
Aldo_mann: "Mm, segitu dulu deh. Kalaupun kau tambahi, 10% aja."
Nicky: "Udah? yakin?"
Aldo_mann: "Iya. Ntar kalau kurang ‘kan kau bisa kirim lagi."
Nicky: "Boleh. "
Aldo_mann: "He he he. Aku yakin dengan tambahan 10% udah cukup kok, Nick."
Nicky: "Ok kl gt. Segera kukirimkan."
Aldo_mann: "Ak boleh DP 40% dulu ‘kan?"
Nicky: "Kebiasaan. Modalmu mepet ya?"
Aldo_mann: "Tau aja. Soalnya, ternyata bos minta kemasan khusus sekalian. Coba km produksi kemasan khusus itu jg. Pasti keseluruhan kuserahin km deh. Aku terima jadi. Beres."
Nicky: "Yeee … tapi boleh jg tuh. Ntar kirim pic cara km packing ya. "
Aldo_mann: "Nyuri ide gue dong."
Nicky: "Lah, ntar kl ada yg pake idemu km bakal kubagiin jg. Don’t worry lah!"
Aldo_mann: "He he he. Tq deh, Nick. Nt kl dah smp aku kabari lg."
Aku tertegun.
(Kiky, jangan sepelekan hubungan dengan pelanggan. Buktinya ini. Apa kamu pernah terpikir menawarkan keripik dalam kondisi sudah terkemas, siap menjadi souvenir? Enggak kan? Bersyukurlah punya pelanggan yang rada aneh seperti Aldo.)
Entah bagaimana, aku merasa orang ini risk taker, mirip dengan karakterku. Ada peluang, ambil saja dulu. Kalau dapat masalah, yakin saja pasti ada cara menyelesaikannya. Ada suara hati yang memberiku keyakinan, aku harus terus menjaga hubungan baik dengan orang ini. Bukan berarti dengan pelanggan yang lain enggak sih, justru karena saat ini belum banyak pelanggan, aku harus belajar dan bersiap. Pas dapat yang multi kasus seperti Aldo pula. Kesempatan hebat. Alhamdulillah.
Wild Centaurus, seperti biasa hanya mengobrol remeh temeh. Kadang aku merasa tidak perlu menanggapinya. Sampai pada dialog tentang nama sebenarnya.
Nicky: "Boleh kupanggil centa? Atau wild? Atau WC?:D"
Wild centaurus: "Oke. Oke. Namaku sebenarnya Ryan. Puas? Puas?"
(Deg. Ada lonjakan tajam dalam dadaku. Nama itu …)
Wild centaurus: "halloo … any body there?"
Nicky: "Eh, ya. Sorry. Ada gangguan dikit."
Wild centaurus: "Gantian, kasih tau nama kamu dong!"
Nicky: "Namaku Kirey. Tapi biasa dipanggil Kiky. Biar lebih mudah disebut oleh Kakek Nenekku."
Wild centaurus: "Hmm … bagus tuh namamu. Cantik."
Aku terdiam. Dialog seperti ini, membuatku sadar untuk segera menarik diri. Bahaya. Ada pesan suami yang terus terngiang-ngiang dalam telingaku untuk tidak menggunakan internet sebagai sarana chat ha ha hi hi doang. Ada kehormatan diri sebagai istri seseorang yang harus kujaga. Ada kesetiaan yang perlu terus kupupuk melalui ’tidak main-main dengan pria lain’. Aku perlu menutup rapat celah semacam itu.
Walau mungkin saja Ryan tidak punya niatan buruk padaku, seperti memisahkan aku dari suami. Aku yakin ia orang baik, sehingga juga tidak akan punya niatan baik, seperti mengajakku menikah. He he he. GR sepenuhnya. Mengapa harus diambil hati. Toh, bisa saja ia juga melakukan hal sedemikian kepada banyak perempuan lainnya. Who knows.
Namun harus kuakui, usai chatting dengan Ryan, terasa ada yang aneh dengan diriku. Aku masih terus berdiam di depan layar. Aku berusaha menenangkan diri dari debar jantung yang mendadak berubah. Aku berkeringat dingin walau yakin tidak sedang sakit. Udara Gresik yang panas tidak berpengaruh, karena aku menggigil.
Desir halus yang telah lama tertutup oleh pengalaman hidup, tiba-tiba bergetar kembali. Ia membuka satu demi satu tabir memori. Desir itu sukses membuatku memaksa diri berhenti sejenak dari berbagai jendela pada monitorku. Kuangkat jemari dari tuts-tuts keyboard. Aku sandarkan punggung ke kursi dan menarik nafas sedalam-dalamnya. Kupejamkan mata.
Apa ini? Perasaan asing ini? Tidak ingin kunikmati, tetapi tanpa sadar telah kuselami. Entah bagaimana, aku merasa harus menikmatinya. Jadi tolong ijinkanlah. Aku tahu kok bagaimana membatasi diri. Ijinkanlah aku merasakannya lagi.
Apalagi ini?
Mendadak aku merasa dilempar kembali ke masa lalu.
Suatu masa, ketika usiaku belum genap 16 tahun.