Di sudut rumah keluarga Mahendra, senyap adalah kebiasaan. Dan Seth sudah terbiasa membaca diam Lavinia lebih fasih dari suara siapa pun. Ia berdiri tak jauh dari meja rias tempat Lavinia duduk. Gaun tipis berwarna abu-abu kebiruan menyelimuti tubuh perempuan itu seperti kabut yang tidak pernah bisa disentuh. Rambutnya digelung rapi, hanya menyisakan helaian ikal yang dibiarkan jatuh di tengkuk. "Apa aku terlihat lelah?" tanya Lavinia, tanpa menoleh. Seth, yang berdiri di belakangnya, menjawab tanpa ragu, "Anda terlihat seperti dewi yang baru saja pulang dari perang. Lelah, ya. Tapi tetap tak bisa disentuh." Lavinia tersenyum miring pada pantulan cerminnya. "Kau terlalu pandai berkata manis." "Bukan manis, Nona. Hanya jujur." Ia mendekat pelan, lutut hampir menyentuh lantai marmer.

