Lavinia diam. Bahunya masih bersandar pada d**a Seth, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan kembali normal, ritmenya sudah tak secepat semalam saat mereka diliputi tegang, darah, dan amarah. Sinar matahari mulai menyusup lewat tirai kamar, lembut mengelus lantai dan bagian kaki ranjang mereka. Udara pagi membawa aroma tanah basah, sisa gerimis semalam yang belum sepenuhnya kering. Lavinia menghela napas pelan, panjang. Lal berkata dengan suara rendah. “Kau tahu, Seth, baru kali ini aku yakin dengan keputusanku.” Seth menunduk sedikit, menatap puncak kepala Lavinia yang bersandar tenang, meski sorot matanya belum bisa menyembunyikan rasa ingin tahu. “Keputusan apa?” tanyanya perlahan. Lavinia tak langsung menjawab. Ia menarik selimut naik ke atas d**a mereka, membenamkan s

