Seth masih berbaring, kepalanya menyender pada bantal, napasnya mulai teratur meski tubuhnya masih terasa berat. Tapi belum sempat ia bicara, Lavinia sudah naik ke atas tubuhnya. Gerakannya tenang, tak terburu. Tatapannya dalam, tak bisa dibantah. “Aku belum selesai,” ucapnya pelan, hampir seperti desah, tapi tak ada kelembutan dalam nadanya, hanya tekad. Seth sempat mengangkat alis, tapi sebelum ia sempat membalas dengan candaan, Lavinia menekan dadanya dengan dua tangan, menahan tubuhnya tetap rebah. “Diam. Sekarang giliranku.” Lavinia duduk tegak, rambutnya jatuh ke bahu, menutupi sebagian wajahnya yang mulai memerah. Tapi sorot matanya tetap menyala. Ia menggenggam kendali seperti seorang maestro yang tahu pasti ritme yang ingin ia mainkan. Tangannya menyusuri kulit Seth dengan pe

