Bab 37

1468 Kata

Ruang tamu itu terasa terlalu besar untuk hanya dua orang. Matahari sudah tenggelam sejak beberapa jam lalu, tapi lampu-lampu di rumah belum semua dinyalakan. Hanya cahaya hangat dari lampu dinding yang memantul di permukaan marmer, menyoroti siluet dua sosok di tengah ruangan. Elvano Mahendra yang duduk tegak di sofa kulit, dan Lavinia Adine yang berdiri di seberangnya, baru saja datang dengan busana malam berwarna gelap dan rambut yang digelung tinggi. Langkah Lavinia tenang saat masuk. Sepatu haknya mengisi keheningan dengan bunyi ketukan lembut di lantai. “Kau memanggilku?” tanyanya tanpa ekspresi. Suaranya jernih dan datar. Elvano menatapnya dari sofa. Matanya merah, bukan karena lelah, tapi karena terlalu banyak menahan. “Aurelia menghilang,” katanya, suaranya terdengar seperti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN