Udara di penthouse terasa dingin meski AC sudah dimatikan sejak satu jam lalu. Tirai jendela masih terbuka, menampilkan lanskap malam Jakarta dari lantai 48. Mobil-mobil di bawah seperti titik cahaya, tak lebih penting dari kelopak mata yang mulai mengantuk. Aurelia terbaring di tempat tidur Elvano, punggungnya setengah ditutupi seprai, rambutnya kusut di atas bantal satin abu-abu. Ia tidak tidur. Matanya terbuka, menatap langit-langit yang tidak pernah benar-benar ia pahami. Di sebelahnya, Elvano duduk di tepi ranjang, mengenakan celana panjang, punggungnya menghadap jendela. Ia tengah menyalakan rokok, gerakannya tenang seperti segala sesuatu di dunia ini tidak akan pernah bisa mengguncangnya. Sunyi di antara mereka. Aurelia menarik selimutnya pelan. Ia menatap punggung lelaki itu.

