Jam menunjukkan pukul 03.09 dini hari ketika Elvano Mahendra mendorong pintu kamar istrinya. Langkahnya tenang, tak terburu. Sepatu kulitnya berderak lembut menapaki lantai marmer yang dingin. Udara dini hari menusuk tulang, tetapi pria itu terlihat tetap rapi dan tak terusik, jasnya masih melekat sempurna pada tubuh tegapnya, hanya dasi yang melonggar dan dua kancing teratas kemeja terbuka. Matanya lelah, tapi bukan karena pekerjaan. Karena kehampaan. Ia sudah hafal, Lavinia tak akan menyambutnya. Wanita itu tak lagi tidur di ranjang mereka sejak setahun lalu, dan ia tak pernah memaksanya. Bukan karena ia lembut. Tapi karena Elvano Mahendra percaya, kekuasaan sejati bukan memaksa seseorang untuk datang, melainkan membuat mereka tak bisa lari. Tapi malam ini berbeda. Ketika ia masuk

