Pagi itu, gedung Mahendra Group terasa berbeda. Bukan karena perubahan tata letak, atau karena suasana pasca-rapat pemegang saham semalam. Tapi karena satu ruangan di lantai tertinggi kini kosong. Tanpa aroma kopi hitam pekat, tanpa setelan jas digantung rapi di belakang kursi kerja, tanpa suara rendah yang memotong ketegangan di ruang rapat dengan satu kalimat dingin yang bisa menjatuhkan nilai saham. Elvano Mahendra tak lagi duduk di kursi CEO. Ia berdiri di depan kaca besar kantornya—bekas kantornya—sebelum semuanya resmi diambil alih dewan. Matanya menatap jalanan Jakarta dari lantai tiga puluh, tapi pikirannya terperangkap dalam percakapan semalam. "Sudah cukup, Elvano," ujar salah satu komisaris tertua. "Ini bukan tentang kapabilitasmu lagi. Ini tentang kerusakan yang kau bawa ke

