Apartemen itu sunyi saat Elvano mengetuk pintunya. Tak ada dering bel panjang atau suara televisi menyala, hanya bunyi ketukan pelan yang terdengar begitu asing di tengah senyap. Pintu terbuka perlahan. Aurelia berdiri di ambang. Wajahnya pucat, rambutnya diikat asal, dan di balik piyama longgar yang ia kenakan, mata lelahnya menatap Elvano lama sekali, seperti tengah menimbang apakah pantas lelaki itu berdiri di sana. “Elvano,” panggilnya. Ia tak mempersilakan masuk, tapi juga tak menutup pintu. “Aku dengar Rafi udah pulang,” ujar Elvano. Suaranya rendah, nyaris serak. Ada sesuatu yang menyesakkan di dadanya sejak ia turun dari mobil. “Aku ingin melihatnya.” Aurelia menahan diri tak memalingkan wajah. Ia membiarkan dirinya berdiri beberapa detik sebelum akhirnya berbalik, masuk ke

