Suasana di dalam ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya. Dindingnya dilapisi kayu gelap, dipenuhi rak buku dan lukisan tua. Di balik meja besar dengan ukiran klasik, Tuan Adine duduk tegak, jemarinya menaut, sementara pandangannya lurus menembus tubuh Seth yang berdiri tegak beberapa langkah dari kursinya. "Silakan duduk," ucap Tuan Adine akhirnya, datar tapi mengandung tekanan. Seth menunduk sopan, lalu duduk di kursi yang menghadap langsung ke meja sang pemilik rumah. Ia tidak berbicara, tidak menggeliat, hanya menatap lurus dengan ekspresi hormat dan waspada. Tuan Adine menatapnya lama. Diam yang panjang bukan karena ragu, tapi karena sedang menakar. Menimbang. "Apa yang kau inginkan dari putri saya?" tanyanya, akhirnya. Suaranya tenang tapi dingin, seperti embun beku di ujung sen

