Ia tak pergi jauh. Alih-alih menuju taman atau kamarnya, Lavinia membelok ke arah sudut galeri kecil yang menghadap langsung ke koridor ruang kerja. Di sana, kursi berlapis kain beludru biru langit berdiri sendiri, tersembunyi di balik pot besar tanaman indoor. Tempat itu biasa ia gunakan saat kecil untuk menghindari pelajaran piano. Dan sekarang, entah kenapa, tempat itu kembali terasa seperti persembunyian yang sempurna. Lavinia duduk diam. Lututnya ia lipat rapi ke samping, dan kedua tangannya bertaut di pangkuan. Waktu berjalan lambat. Jam antik di ujung lorong berdetak keras, seakan mengukur setiap denyut cemas di dadanya. Beberapa kali, ia nyaris berdiri. Tapi langkahnya kembali batal tiap kali bayangan suara Seth melintas di pikirannya. Suara yang tak ia dengar selama beberapa sa

