Seth berdiri di tepi taman kecil di sisi belakang rumah Tuan Adine. Jasnya sudah ia lepas sejak keluar dari ruang kerja pria itu, menyisakan kemeja putih bersih yang kini tak lagi sejuk di punggung. Udara siang bergerak lamban, membawa aroma dedaunan yang basah karena siraman otomatis. Ia menyandarkan punggung ke dinding marmer, satu tangan di saku, satu lagi menggenggam kacamata yang tadi ia lepas saat diminta bicara empat mata. Dari arah dapur, suara-suara pelayan terdengar samar. Lalu senyap. Seolah seluruh rumah ikut menahan napas setelah percakapan berat yang barusan berlangsung. Pertanyaan tajam Tuan Adine masih berputar di kepalanya. Apa yang kamu inginkan dari putriku? Itu bukan pertanyaan yang dijawab dalam kalimat pendek. Dan Seth tahu itu. Ia bukan pria ambisius. Tak pernah

