Udara dalam kamar masih terasa panas, tapi bukan dari suhu. Sisa-sisa napas yang terengah masih menggantung di dinding dan langit-langit, menyisakan jejak keintiman yang tak diucapkan. Lampu gantung di sudut ruangan memantulkan cahaya kekuningan ke selimut kusut, ke punggung Lavinia yang telanjang di tepi ranjang, dan ke jendela kaca besar yang kini berembun karena malam Cipete semakin dingin. Seth tetap terbaring, dengan lengan di atas kepala, menatap langit-langit seakan mencari arah. Tapi matanya tak kunjung lelap, tak lama setelah dia menyadari Lavinia sudah duduk membelakanginya. Ia mengangkat kepalanya sedikit. Napasnya melambat. “Nona...” Suara Seth serak, tapi pelan. Ia bangkit, mengambil kaus dari kursi, lalu duduk di sebelah Lavinia. Jarak mereka tak bersentuhan, tapi kehadi

